Senin, 28 Agustus 2017

Hijrah #CoffeeBreak9


          Hijrah? kata yang beberapa tahun terakhir menjadi marak dikhalayak. Hijrah seakan menjadi demam baru dikalangan anak muda, menyerang setiap insan untuk terus mengikuti perkembangan zaman yang menuntut setiap orang untuk terus memperbaiki diri. Sebenarnya apa itu hijrah? perubahan menuju insan yang lebih baik.
          Kini trend dalam berbusana adalah salah satu contoh zaman sudah berubah dan sudah saatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, walaupun tetap seimbang dengan para kaum yang masih berada pada zaman jahiliyah. Memakai gamis, jilbab syari, bahkan niqab adalah hal yang semakin lumrah kita temukan pada remaja zaman sekarang, Alhamdulillah. Dan untuk kaum ikhwan, celana gantung dipadankan dengan baju koko adalah menjadi hal yang sangat kekinian.Tidak hanya dalam hal berbusana,dari segi kosmetik pun diiming-imingi dengan cap halal nya sehingga para muslimah tentu sangat tertarik dengan kosmetik ini karena semakin mendukung perubahan mereka ke arah yang lebih baik.
          Segenap rasa syukur harusnya menjadi hal yang kita ulang-ulang setiap saat karena diberikan kenikmatan iman dan islam, kenikmatan untuk terus memperbaiki diri setiap hari. Terlepas dari trend berbusana tadi, saya termasuk salah satu muslimah yang berusaha untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslimah, menutup aurat dengan sempurna. Saya pernah berpikir, apakah saya sudah benar-benar hijrah? Ataukah hanya merubah penampilan dan berharap pujian dari manusia? Naudzubillah.
          Hijrah bukanlah sebatas memakai pakaian syari, hijrah adalah melakukan segenap perubahan dari segi penampilan, akhlak, perbuatan dan yang terpenting ibadah. Saya belum merasa benar-benar hijrah karena masih sulit lepas dari musik, masih sering berleha-leha saat azan tiba, masih senang berpose dalam kamera, dan belum membatasi diri untuk aktivitas kampus hingga malam hari yang didalamnya bercampur antara laki-laki dan perempuan, walaupun tujuan kami demi kepentingan orang banyak. Sesungguhnya hijrah tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang, sesungguhnya orang yang hijrah pun belum merasa benar-benar berhijrah.
          Perubahan adalah hal yang sulit ketika lingkungan seakan tidak mendukung, jadi ketika kita melihat orang lain sudah berusaha menjadi lebih baik dari segi penampilan maka dukunglah walaupun akhlaknya belum baik, walaupun masih pacaran, walaupun suaranya masih nyaring, walaupun pergaulan dengan teman lelaki masih belum dibatasi. Setidaknya ketika dia sudah mencoba untuk ‘mulai’ berhijrah maka tugas kita sebagai sesama muslim untuk mendukung dan mendoakannya agar tetap istiqomah dan terus memperbaiki diri. Walaupun saya sendiri pun sering ‘nyinyir’ ketika melihat teman yang sudah syari tapi masih pacaran, Astagfirullah sesungguhnya kita yang melihat orang lain lebih buruk pun belum tentu lebih baik dimata Allah swt.
          Semakin sering melihat dan memahami, saya bangga dengan orang-orang yang mampu untuk berubah secara drastis, dalam waktu singkat. Kecintaannya pada Allah swt tentulah yang menjadi dasar dalam melakukan perubahan menjadi lebih baik walaupun harus melewati tantangan yang tidak mudah.
          Satu hal yang saya yakini, ketika seseorang berani untuk menjadi lebih baik tentu akan Allah swt mudahkan prosesnya untuk menjadi lebih baik lagi. Akan Allah swt jauhkan dari hal-hal yang membawa kearah yang buruk, Alhamdulillah saya merasakannya sendiri. Saya berdoa semoga saya sendiri bisa terus memperbaiki diri dan istiqomah dengan jalan yang saya pilih, saya juga berharap keluarga, sahabat, dan seluruh umat muslim bisa menikmati nikmat iman dan selalu memperbaiki diri dengan hanya mengharap ridhoNya.









Rabu, 16 Agustus 2017

Dirgahayu Indonesia ke-72 (rinduuuuuuu) #CoffeeBreak8

Indonesia, 17 Agustus 2017
Rizka wulandari putri

Haru, bangga, bahagia, bersyukur. Indonesia, negara tercinta sudah memasuki umurnya yg tak lagi "muda".

Teringat 17 Agustus 2014, ya tepatnya tiga tahun lalu. Saat umur belum berkepala dua. Saat masih menjadi Capaskibraka,paskibraka, dan sekarang purna paskibraka. Panasnya lapangan hitam yg kadang lebih nyaman dari kasur dikamar, ternyata sukses bikin rindu itu makin nyata terasa. Hari H memang ditunggu-tunggu, tapi sungguh prosesnya lah yang membuat haru. Berteman sengatan matahari dan amarah pelatih serta ujian mental dari para senior sudah menjadi bumbu-bumbu latihan setiap hari. Belum lagi yang namanya terjerat cinta lokasi. Panas matahari menjadi tidak begitu berarti, apalagi hanya merayap-rayap diatas lapangan hitam dengan ransel yg beratnya hampir tak manusiawi. Tak  peduli panas, becek, hujan sekalipun, pengorbanan demi terkibarnya sang merah putih selalu menjadi tujuan utama dihati. Kini sekedar melihat, mendengar, dan membayangkan masa itu saja sudah cukup membuat rasa ingin kembali itu nyata adanya.. Tapi pepatah yg mengatakan, patah tumbuh hilang berganti memang benar, masa-masa itu bukan milik kami lagi, inilah saatnya generasi baru menjejaki apa yang akan mereka kenang nanti. Rindu kadang berlebihan tapi aku yakin, siapapun yg pernah melewati masa itu, hari ini sedang haru dan ingin kembali.
Salam purna paskibraka prov kaltara 2014!


Kamis, 03 Agustus 2017

Rindu? Istighfar... #CoffeeBreak7


                Kadang rindu memang selucu ini, dia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kau temui tiba-tiba hadir lagi dimimpimu. Mimpi sederhana tanpa suara, hanya kilasan kejadian sederhana yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu. Benar, rasa cinta adalah anugerah tapi apakah berlaku sama dengan rindu? Apakah rindu juga anugerah? Atau ini hanya cara syaitan untuk menggodaku lagi? Untuk mengingat orang yang sudah jelas belum halal untukku.
Cinta memang indah apalagi jika cinta dirasakan oleh kedua belah pihak, iya indah yang menghanyutkan. Cinta membuatmu merasa lebih bersemangat memang, tapi apakah yakin cinta juga membuatmu semangat beribadah? Kalaupun jawabannya iya, bisa dipastikan itu adalah salah satu tipu daya syaitan yang berkamuflase menjadi cinta yang seolah syar’i padahal cinta sebelum halal bagaimanapun bentuknya adalah haram. Haram untuk dirasakan terlalu dalam, haram untuk diikrarkan atas nama pacaran.
Sulit memang ketika kedua pihak sudah saling mencintai tapi terbatas karena pacaran adalah hal yang haram, sulit. Jika sulit kenapa berani jatuh cinta? Kan cinta adalah anugerah. Cinta pada manusia bisa dikendalikan, bisa disalurkan melalui kegiatan lain yang lebih positif. Sempurnakan dulu cinta kita padaNya, baru meminta untuk dikirimkan makhluk terbaik menurut versiNya yang pantas untuk menjadi kekasih halal kita.
                Percayalah, ketika kita menjatuhkan hati pada seseorang pasti menjatuhkan harapan juga ikut didalamnya. Bukankah Allah swt pernah melarang umatnya untuk berharap selain padaNya?. Tapi sebagai manusia biasa saya juga pernah merasakannya, berbagai macam rasa, berbagai macam duka juga tentu dirasakan setelahnya. Jatuh cinta pada sahabat, bertemu cinta pertama setelah sekian lama berpisah, menjalin hubungan jarak jauh, dikhianati, dan berbagai macam polemik percintaan lainnya.
Jujur saya malu ketika harus mengingat betapa jahiliyahnya rizka yang dulu, walaupun selama menjalin hubungan pun saya tidak pernah macam-macam tapi tetap saja ketika pacaran kita sudah melakukan zina hati, karena mencintai orang yang belum halal untuk kita. Memang ketika punya pacar tentu hari-hari yang dijalani lebih berwarna, bersemangat, dan bergairah. Tapi itu hanya sesaat, keindahan itu fana dan tidak berguna, hanya membantu kita membuat jembatan menuju neraka. Ingat! Pacaran tidak akan mendekatkan jodoh dan jomblo tidak akan menjauhkan jodoh. Lantas untuk apalagi pacaran? Bukankah Allah swt telah menuliskan jodoh kita di lauh mahfuz ribuan tahun sebelum kita lahir?.
Alangkah bermanfaatnya jika kita mengisi kesendirian ini dengan terus memperbaiki diri dan mendekatkan diri padaNya, menggapai cita-cita, membahagiakan orang tua dan keluarga, melakukan hobi dan bermanfaat bagi orang banyak. Tidak akan ada rasa kesepian ketika kita sudah selalu berusaha mendekatkan diri padaNya, karena ketika kita sendiri pun, Allah swt senantiasa bersama kita, memudahkan segala urusan dan memberikan yang terbaik untuk hambanya.
Jika memang teman-teman masih merasa sulit untuk jauh dari pacaran mengingat “aduh pacar saya terlalu baik kak, masa diputusin”, atau “hubungan kami sudah 5 tahun kak, gak mungkin bisa putus”, “Kami sudah tunangan kak, masa iya dibatalin?”, atau “aku cinta dia kak, ntar aku mati kalau putus”. Oh Tuhan tolong, pacar kalian belum tentu jodoh kalian. Saya sudah berkali-kali, melihat fenomena orang yang pacaran 4 5 6 7 tahun pun akhirnya putus juga karena memang bukan jodoh, orang yang sudah menikah pun tidak sampai seminggu harus bercerai karena memang bukan jodoh, alasan terlalu baik? Dia gak bisa disebut baik karena sudah ngajak kamu pacaran, ngajak kamu sama-sama menuju neraka, naudzubillah.
                Saya pernah berada diposisi itu, merasa bahwa pacar saya adalah yang terbaik tapi seiring berjalannya waktu semakin sadar kalau apa yang dijalankan ini semakin sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Selalu berdoa setiap sujud, “Ya Allah tolong tunjukkan kalau memang orang ini bukan yang terbaik untuk hambamu” doa itu selalu disebut beserta embel-embel lainnya, berdoa sungguh-sungguh untuk diberi celah agar semakin mudah melepaskannya dan bisa dengan leluasa berhijrah. Alhamdulillah Allah swt adalah sebaik-baiknya pengabul doa, semuanya semakin mudah bahkan saya tidak pernah merasa sedih yang ‘lebay’ sekalipun dia yang pernah membuat saya jatuh cinta begitu dalamnya, dengan santainya punya pacar baru dalam waktu sekejap. Hal ini bahkan tak membuat sedih melainkan bersyukur, karena telah dijauhkan dari orang yang tak baik.
                Teruntuk teman-teman yang masih termasuk kaum pacaran, percayalah saat ini kalian ada dalam fase yang sia-sia, sungguh. Fase yang tidak berujung, kecuali kalian dengan segera memutuskan untuk menikah. Spesialnya untuk kaum akhwat, kita sebagai wanita tentu harus menjaga diri dengan baik, percayalah dengan pacaran hanya akan mendekatkan kalian pada hal yang ‘berbahaya’ yang mengancam masa depan kalian, yang akan menjauhkan kalian dari jodoh terbaik. Begitu juga untuk kaum ikhwan, janganlah kalian menggoda kami para kaum akhwat untuk menerima cinta palsu kalian yang belum waktunya dengan mengumbar janji-janji lapakan yang tidak berguna. Jangan egois hanya karena kalian ingin memuaskan apa yang hendak kalian puaskan, jangan merasa berkuasa atas kami sebelum kalian benar-benar datang pada wali dan meminta kami dengan cara yang diridhai Allah swt.
Saya hanyalah gadis biasa berusia 20 tahun yang tentunya mengharapkan jodoh terbaik, yang entah berada dibelahan bumi mana, yang pasti saya yakin dia ada, dia nyata,kedatangannya pasti dan bisa menerima segala kekurangan ini untuk dilengkapi menjadi kelebihan. Dengannya saya bisa membagi mimpi dan bersama-sama meraihnya, meraih ridhoNya, menjalani sisa hidup untuk menjadi makhluk yang senantiasa memperbaiki diri dan bermanfaat bagi orang banyak, tinggal waktunya saja, yang semoga dipercepat dan dipermudah langkahnya menuju saya, Aamiin.
Untukmu yang kupercaya juga sedang memperbaiki diri, jagalah hati dan dirimu hingga waktu yang tepat akan mempertemukan kita untuk menyempurnakan separuh agamaNya bersama. Aamiin


Ps: Serius, ini nulisnya baper sambil ngebayangin jodoh impian baca ini dan segera kerumah temui papa, hahaha 

Jumat, 28 Juli 2017

Kakakku, satu-satunya (Super Brother part II)



Kurang lengkap rasanya jika sudah membahas adikku satu-satunya tapi bel  um membahas kakakku satu-satunya. Kak kiki (nama panggilan). Kakak laki-laki kebanggaanku (karna emang cuma punya satu kakak), anak pertama di keluarga, cucu pertama dari keluarga papa, dan akan menghasilkan cucu pertama juga buat mama dan papa. Serba pertama ya betewe.

Terpaut 8 tahun sama k kiki bikin aku gak begitu banyak mengingat kenangan masa kecil kami, karna saat aku masih bayi pun kakak ku sudah besar. Walaupun begitu, aku tetap mengingat saat-saat antri di pale-pale yang jualan gambar-in disekolah samping rumah dan beli yang gambarnya amigos (anak 90-an pasti tau), main ayunan dibawah pohon depan rumah yg papa bikinin tapi dirusakin sama anak sd samping rumah, main sepeda dalam rumah (saking magernya ) dan buat kota dari rumah-rumahan hadiah majalah bobo (90an on the story). 
Dan banyak lagi kisah lain yg sebenarnya seru karna khas anak 90-an tapi sulit sekali jika kuingat karna waktu itu aku masih balita. 

Waktu aku kelas 4 SD, ka kiki sudah sma, waktu aku smp, ka kiki sudah kuliah, dan waktu aku kuliah, k kiki sudah nikah dan bakal punya anak (doain yaa). Jadi jarak umur yang jauh membuat kami tak begitu banyak
Menghabiskan waktu bersama mengingat kakak ku itu salah satu orang yang "mengaku" eksis dimasanya. Menjadi pengurus osis aktif, menjadi salah satu vokalis band "yang katanya" terkenal di sma nya atau dijamannya mungkin, dan menjadi pemain basket "amatiran" bener bener sukses bikin aku ga ingat banyak soal kebersamaan kami.

Tapi walaupun tak begitu banyak menghabiskan waktu bersama, saat kuliah diluar kota begini dialah yg menjadi satu-satunya teman curhat yg "lumayan" lah wkwk. Curhat soal kuliah, teman, masa depan, maupun percintaan biasanya selalu diladenin mungkin karna dia tahu aku susah sekali curhat sama orang lain (siapapun). 
Waktu smp dulu, melepas ka kiki merantau kuliah dimalang juga menjadi salah satu pengalaman yg sedih walaupun sedihnya cuma hari itu aja dan lebih beharap dia cepat pulang biar dapat oleh-oleh (oke maap:D)

Walaupun terlihat cuek sebenarnya kakak ku ini sama kaya aku, sayang tapi pencitraan. Sebagian besar boneka yang ada ditempat tidurku, dikamar, dirumah kami, semuanya beliau yg kasih. Entah kado, oleh-oleh, atau memang aku yg minta beliin :D. Gak cuma boneka, handphone ku yg sekarang sudah hampir butut pun kakak ku yg beliin, yg sebelumnya juga, yg sebelumnya juga kayanya. Sepatu juga, dulu jaman smp "iseng" posting foto sepatu ditwitter (berharap ada yg peka), ternyata bener beliau adalah kakak yg super peka, ahh thanksfull ya Allah atas pemberian kakak seperti ini. Buku juga, sebagian besar buku dirakku adalah pemberian olehnya. Perasaan semuanya pemberian yaa wkk.

Walaupun aku sadar, kayanya terakhir kali aku kasih k kiki kado jaman kapan gitu, sampe lupa saking lamanya. Jujur ini bukan karena apa, aku yg minder mau  ngasih kado karna tahu selera beliau tinggi ntar kalau aku beliin yg biasa biasa cuma diketawain lagi (suudzon ya?) mau beliin yg luar biasa pun anak kos ini belum sanggup he-he, so tunggu waktunya aja ya akak, minta doanya.


Sekarang k kiki sudah menjadi bakal Ayah (Insya Allah), gak terasa saat aku ngantarin dia ke bandara untuk merantau, sebaliknya aku yang diantar, dan sekarang sudah semakin berumur (tua wkk). 
Semoga bisnis ka kiki semakin lancar dan berhasil menjadi pengusaha muslim yang kaya dan bermanfaat bagi orang banyak, bagi umat, bagi keluarga dan agama, Aamiin. Semoga jadi bapak dan suami dan kakak dan anak yang soleh dan teladan bagi ade, bagi eja, bagi istri, bagi mama papa, bagi calon bayi, dan bagi orang banyak, Aamiin. 

Semoga persaudaraan ini menjadikan kita senantiasa memperbaiki diri dan menjadi hambaNya yang taat. Aamiin.

Teruntuk kakaku satu-satunya,
Terimakasih sudah menjadi kakak dan sahabat yg baik untuk ade, yg ikhlas menjadi tampungan curhat dan peraduan kesulitan, serta menjadi sumber keuangan kedua setelah mama he-he.

Adikku, satu-satunya (Super Brother part I)


28 juli 17'
Malang, perpus kota 14.00 wib

Ngeliat sengatan matahari diluar sana kok menyengat banget? Tiba tiba ingat ade satu satunya yg skarang lagi berjuang ditanah rantau. Dimataku, malik (panggilan kesayangan) masihlah anak kecil, walaupun skarang dia sedang dalam pertumbuhan yg amat cepat dan sudah menginjak umur 15 tahun.
Biasanya, jam segini, di kota kita, dulu waktu aku smp dan dia masih sd kita biasanya dijemput papa pakai pickup yang mana Ac hanyalah pajangan dimobil itu, yg mana duduk ditengah adalah neraka kecil didunia (alay serius). Intinya Tarakan tempat kita lahir adalah kota yg super panas, panas yang tak terkondisikan jadi kalau dijemput naik mobil tanpa ac pas pulang sekolah pula, kalian pasti bisa membayangkan gimana panasnya.
Mungkin karna aku cuma punya satu ade dan satu kakak, jadilah rasa sayang yg begitu besar amat tercurahkan pada mereka berdua terlebih adik. 

Melewati hari hari bersama, dia lahir waktu aku masih TK, terbilang cukup pas untuk ukuran kematangan seorang kakak untuk memiliki adik. Dulu senang sekali, waktu dia masih bayi dan sedang lucu-lucunya, beranjak gede nakalnya pun semakin bertaambah (ini wajar). Jatah bermainku pun berkurang karna cuma bisa ngeluarin mainan pas dia bobo, kalau rela semua mainan rusak silahkan saja bermain waktu dia terjaga, maka selamat tinggal wkwk.tapi gak jarang kita juga main bareng (kalau lagi akur), mainan paling aman untuk dimainin bareng ya cuma PS (bukan ps sih cuma mirip ps)

Beranjak besar, nakal dan jahilnya ikut berkurang dan malik semakin menunjukkan bakatnya, bakat yg gak dimiliki oleh dua kakaknya. Menggambar. Percaya gak aku yg waktu itu sudah smp tapi minta digambarin sama dia yg masih sd kelas tiga, dan semua teman sekelasku gak percaya sama gambaranku (kebagusan katanya) oh poor me. 
Selain menggambar, malik suka hal hal yang berbau reparasi. Banyak mainannya yg dibongkar tapi gak bisa dikembalikan, tapi perlahan setelah membongkar cukup banyak mainan akhirnya mulai bisa membongkar dan bisa mengembalikan.

Malik juga sering ikut lomba hapalan surah pendek, azan, atau hal-hal yg berbau al-quran. Percayalah, inilah awal mula pembentukan masa depannya. 

Berdasarkan pengalaman kakaknya ini, yg dicap sebagai santri gagal karna cuma bertahan satu minggu dipondok, mama papa tetap punya keinginan agar ada salah satu  anaknya yg melanjutkan sekolah dipondok dan menjadi penerang dalam keluarga, menjadi panutan, menjadi pioneer perubahan dalam keluarga agar kelak generasi setelah kami pun bisa menjadi ahli agama yang amanah, Aamiin kan bareng yaa :)

Setelah malik lulus smp, aku semester lima di perkuliahan, dan kakak sudah berkeluarga, diputuskan lah malik harus masuk pondok pesantren tahfidz. Bukan harus sih tapi memang keinginan dia juga mau menjadi hafidz dan menjadi imam besar, Aamiin kan bareng lagi yaa hehe. 

Hari itu, 5 juli 2017. Mama buat acara kecil-kecilan dirumah buat ngundang keluarga dekat sekedar makan siang sekaligus mendoakan reza (nama aslinya) agar sukses diperantauan. Sempat menghabiskan 3 minggu liburan perkuliahan dikampung halaman sukses bikin aku sadar kalau ternyata adik ku semata wayang ini sudah dewasa, lebih tepatnya hampir dewasa. Dia yg dulu masih sering kumandikan, masih sering aku buat nangis, sering jambak rambutku, sering aku kerjain pr nya, sekarang sudah besar dan mulai merasakan kehidupan yang sebenarnya. 

Hari keberangkatan tiba, cuma mama yang ikut mengantarkan reza ke Jakarta. Sedangkan aku, papa, kakak, kakak ipar serta nenek dan kakek hanya mengantar sampai di bandara. Awalnya biasa saja, tapi saat memasuki ruang check in dan dia menoleh kebelakang sebentar. Gak tau kenapa, bulir bulir air mata seakan nonjok nonjok pengen jatuh, pengen banjir aja, awalnya aku berusaha buat nahan karna ini cukup memalukan ketika yg lain hanya memperlihatkan raaut sedih tapi tak ada air mata.
Tiba tiba flashback dikepala mulai terputar. Saat kecil, waktu aku mama papa dan reza masih bisa boncengan naik motor berempat, waktu aku "mandi bola" di salah satu mall tapi dia cuma liatin drri luar sambil nangis karna mama gak bolehin (dia masih balita), waktu aku kelas 6 sd dan dia kelas 1 sd, aku yg antarin ke kelas pertama kali dihari pertamanya sekolah.

Setelah kusadari ternyata kesedihanku ini bukan karena sedih dia harus pergi dan merantau, tapi karena waktu yang sudah kita lewatin bener bener gak bisa diulang lagi. Kita sudah sama sama dewasa dan mencari jati diri masing-masing. Aku ke malang, dia ke jakarta, mama dan papa dikota Kami, Tarakan. Jauh dan berjarak tapi inilah kenyataannya. Kenangan masa kecil kami hanyalah kenangan yg indah jika diingat dan dijadikan pelajaran. Pertemuan akan menjadi hal yang sangat berharga ketika kami terbiasa dengan jarak seperti ini. 

Teruntuk adikku satu-satunya,
Semoga dimudahkan setiap langkahmu menggapai cita cita yang akan bermanfaat untuk orang banyak, semoga kalimat kakak yg selalu diulang-ulang akan terus kau ingat "semakin berisi maka semakin merunduk", dan semoga dengan suksesnya kamu disana akan menjadi pioneer teladan bagi keluarga besar kita, bagi mama papa, bagi kakak ade dan kak kiki, bagi Agama, dan bagi banyak orang. Jadilah peringan langkah kami menuju surgaNya.

Semangat dik, 
Jihad fisabilillah

Selasa, 25 Juli 2017

Jeritan hati Palestine.. #CoffeeBreak7


Assalamualaikum wr.wb

          Dinginnya malang malam ini persis mencapai 18’ derajat celcius, sukses bikin ke-mageran ini mengurungku dikamar 3x4 yang bernuansa pink ini. Setelah memilah beberapa tema yang akan dijadikan bahan blog selanjutnya, terpilihlah tema Palestine ini sebagai tema coffee break. 
          Melihat berita di tivi dan sosial media yang marak mendeklarasikan betapa para zionis Israel amatlah tak berprikemanusiaan bahkan seperti tidak punya hati atau memang benar tidak punya hati?. Melihat kejadian seperti ini seakan memberi alarm jelas untuk kita para muslim yang berada di negara mayoritas untuk senantiasa bersyukur karena masih bisa dengan bebasnya beribadah tanpa ditemani suara bom dan jeritan tangis memohon untuk diperbolehkan beribadah di mesjid, di tanah, di negara yang jelas-jelas adalah milik mereka sendiri tapi direbut dengan cara binatang seperti itu, naudzubillah.
          Tak sedikit orang tua, anak kecil, bahkan bayi mati terbunuh setiap harinya ditanah Palestine. Tapi tak sedikit juga bayi kembar yang lahir ditanah Palestine, Sungguh Allah swt Maha pengasih lagi maha penyayang. Ketika banyak dari generasi penerus Palestine mati terbunuh, banyak pula yang Alla swt anugrahkan untuk dilahirkan ditanah Palestine.
          Kekecewaan mungkin tersirat, bukan tersirat bahkan sangat nyata terasa ketika banyak dari negara muslim lainnya mempertanyakan “Apakah masih ada muslim di Indonesia?”. Jelas sekali pemerintahan kita tidak memberikan bantuan yang begitu berarti walaupun banyak juga organisasi masyarakat yang ikut andil dalam menolong Palestine, tapi para petinggi kita, kemana?.
          Banyak slogan yang mengatakan bahwa tak haya orang muslim yang harus menolong Palestine tapi seluruh umat manusia, karena memang apa yang dilakukan laknatullah Israel adalah melanggar hak asasi manusia, melanggar tata cara kehidupan dimuka bumi, kejam tak berperasaan.
          Tak ada hal yang bisa kita lakukan sebagai umat muslim selain mendoakan mereka disetiap sujud akhir sholat kita agar diberi kesabaran, kekuatan, dan kemenangan dalam membela apa yang menjadi hak kita bersama sebagai umat muslim, memberikan dukungan finansial yang amat sangat mereka butuhkan dalam kondisi seperti sekarang ini. Semoga tanah Palestine segera mendapatkan hak mereka, dan Israel segera diberikan pembalasan yang tentunya sudah Allah swt siapkan atau mungkin mereka ingin bertaubat? Mari kita doakan agar bumi kita yang sudah terlalu tua ini terhindar dari segala macam bentuk perpecahan dan perseteruan, Aamiin.

Wassalamualaikum wr wb


Jumat, 21 Juli 2017

Rasa pahit adalah rasa manis yang malu-malu #CoffeeBreak6

Assalamualaikum visitor..
          Setelah sebulan "mengistirahatkan" diri di kampung halaman, tiba saatnya kembali ke kehidupan nyata. Sebelum cerita lebih jauh, alangkah baiknya jika kita sama-sama membaca "basmallah" dan mencoba memahami makna dari judul coffee break kali ini he-he.
          Rasa pahit adalah rasa manis yang malu-malu. Apa maksudnya?
Setelah menyadari, ternyata sudah dua tahun hidup sendiri ditanah rantau dan hanya ditemani oleh banyak teman baik dari berbagai kota di Indonesia. Asam, manis, bahkan pahitnya sudah banyak terasa dan akan sangat sulit jika harus dijelaskan satu persatu.
          Kehidupan di tanah rantau mengajarkan banyak hal, yang pertama pastinya apa itu hidup mandiri? Apa itu sabar? Apa itu ikhlas menjalani hari-hari yang tentunya kadang terasa lebih berat karena dijalani sendirian.
          Tapi seriously yaa, pahitnya Cuma 30% dari100% tapi perbandingan kaya gini mungkin karena Alhamdulillah hidupku di tanah rantau berkecukupan karena kiriman dari orangtua selalu lancar walaupun “berkecukupan” disini dalam artian ke cafe sangat diminimkan, selalu bawa tumblr dengan beraneka ragam bentuk tiap hari biar gak bosen padahal tetap aja isinya air putih, ke mall kalau memang bener-bener gabut, dan beli apapun itu harus dilist dulu dan mengutamakan yang dibutuhkan serta mengesampingkan yang diinginkan. Untuk aku pribadi lebih senang menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan kota daripada di mall, alasannya sederhana sih, di perpus cuma modal dua ribu (uang parkir) tapi bisa dapat ilmu super banyak dan waktunya gak terbatas pula. Tapi kalau dimall? Lebih dari sejam aja uang parkirnya udah dua kali lipat (medit for lyfe *maklum anak kos). Yaa itu bagi teman-teman yang memang hobi baca buku, kalau temen-temen hobi olahraga silahkan ke pusat kebugaran, bagi yang hobi masak silahkan dikos cobain semua resep baru, dan bagi yang hobi tidur, serius aku gak nyaranin buat tidur terus dikos.
          Kembali ke tema, rasa pahit adalah rasa manis yang malu-malu. Pahit itu kalau diresapi dalam-dalam akan berakhir enak kan? Contoh sederhananya kaya kopi, saat hujan kemudian kita buat kopi, pakai air panas yang baru mendidih, gulanya satu sendok aja, kemudian diminum diteras sambil liat hujan waktu senja, kopi panas tadi perlahan kita cium wanginya, kita seruput airnya, rasa pahit singgah dilidah, sampai ke kerongkongan, luar biasa nikmat, masya Allah! Rasa pahitnya itu cuma kaya rasa manis yang menjelma gitu loh, semoga kalian paham maksudku. Perumpamaan ini adalah umpama merantau dan rasa sakit yang kita alami, pedih tapi nikmat jika diresapi. Contoh rasa pedih itu saat bulan masih menunjukkan tanggal 17 tapi saldo sisa 100 ribu dan untuk nelfon orang tua buat minta uang adalah hal yang sangat memalukan, rasa pedih yang kedua saat ban motor pecah diakhir bulan (serius, ini pedih banget), rasa pedih yang ketiga saat kamu udah laper-lapernya, udah kere-kerenya, dan niat rebus indomie tapi ternyata gas dikosan habis! (pedih luar biasa), banyak lagi kepedihan-kepedihan lain yang lucu sekali kalau dibayangkan tapi sungguh tak lucu jika dialami.
          Alhamdulillah aku bersyukur punya kesempatan merantau jauh dari kampung halaman untuk bisa menimba ilmu dan merasakan berbagai macam pengalaman yang mungkin gak akan aku dapatkan kalau aku hanya berdiam diri di kampung halaman. Dengan jauh dari orangtua, dulunya aku berpikir “wah apa bisa bebas kaya anak-anak kota besar ya?” , “wah bisa ngemall tiap hari”, “wah bisa main sama temen tanpa ada yang nyariin lagi”. Dan wah wah yang lainnya.
          This is totally wrong, semenjak merantau malah pemikiran-pemikiran kaya gini bener-bener gak ada dan tidak terlaksana. Mau bebas? Kalau bebas juga mau ngapain kan? semakin jauh, semakin sendirian, semakin ngerasa kita cuma bergantung sama Allah swt disini dan gak punya siapa-siapa lagi, malah semakin bikin kita mendekat padaNya. Niat buat melakukan hal yang aneh-aneh pun gak ada karna memang umur yang sudah makin dewasa, beban kalau ngingat orang tua dikampung halaman susah payah nyekolahin anaknya jauh-jauh, sukses banget bikin kita semakin usaha buat hijrah, hijrah jadi pribadi yang lebih baik. Tapi opini ini juga gak semua anak rantau alamin ya, gak sedikit juga anak rantau yang mungkin keluar batasan.
          Curhat sedikit, setelah lulus SMA dan merantau aku sempat punya pacar dan LDR. Seru sih tapi tiap malam kaya dihantui rasa bersalah. Biar dibilang pacaran syar’i lah, pacaran gak ngapa-ngapain karna jauh lah, dan hal-hal yang bikin kita sempat bertahan hampir dua tahun tetep aja aku tau ini dosa. Sebenarnya karna lingkungan yang juga sangat mendewakan Jomblo Sampai Halal sih, dan akhirnya sukses bikin aku harus meninggalkannya he-he. Semenjak di tanah rantau juga kaya merasa benar-benar sama teman itu sudah kaya saudara karna memang cuma mereka yang kita punya, padahal sejujurnya aku adalah orang yang tidak begitu ‘suka’ berteman terlalu dalam weitssss, tapi kondisi yang buat kamu harus menjalani apapun yang kamu gak suka padahal sebenernya itu baik buat kamu.
          Jiwa empati dan simpatimu juga sangat diasah disini, meringankan beban orang lain jadi suatu kewajiban ketika kamu berpikir “kalau aku yang ada diposisi dia gimana?”, “kalau suatu waktu aku juga butuh bantuan gimana?” sebenernya kalau nolong harus tanpa pamrih sih, tapi ini kaya motivasi gitu lohJ.
          Lebih responsif terhadap lingkungan. Nah kalau yang ini garis keras sekali, honestly aku adalah orang yang bener-bener apatis (kuakui itu). Tapi semenjak merantau kaya pelan-pelan belajar dan mencoba menyesuaikan dengan lingkungan, hidup dilingkungan jawa tentunya sangat menjunjung tinggi yang namanya kepedulian, kesopanan, dan keramahan, alhasil berubahlah kebiasaan apatisku itu.
          Sebenarnya banyak sekali hal baik dan tentunya dibarengi hal jahat yang juga ikut ambil andil dalam menentukan akan jadi seperti apa kamu saat jauh dari orangtua. Tergantung bagaimana kita berpikir, mencari lingkungan sosial, menyadarkan diri kalau orangtua sangat mengharapkan kesuksesan kita. Saran buat teman-teman yang baru mau merantau, yang sedang merantau, ataupun yang hampir selesai diperantauan. Jangan sia-siakan kesempatan berharga ini, jadilah sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang banyak, jikapun belum bisa untuk orang banyak untuk orang sedikit pun tidak apa-apa. Jauhkan mindset bahwa hidup jauh dari orangtua akan membawa pada kebebasan, akan membawa pada hidup yang penuh dengan hedonisme, jauh dari peraturan agama, bebas menikmati masa remaja dengan kekasih, jauhkan lah pikiran seperti ini sejauh-jauhnya. Hidup memang sekali, tapi kesempatan untuk memperbaiki diri apakah yakin akan datang lagi?

Sekian, Wassalamualaikum J

         



Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)

 Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...