Haiiiiii.....
Virus wannacry yang jadi salah satu trending topic akhir akhir ini sukses bikin aku takut sendiri untuk buka laptop, padahal deadline nulis sudah dalam keadaan "Warning". But Alhamdulillah setelah membaca doa yang panjang dan memencet tombol switch on, laptopku masih baik-baik saja.
Setelah liburan super berkualitas di Bogor dan Jakarta dari hari rabu 10 Mei sampai hari minggu 14 Mei kemarin berhasil bikin aku sangat terinspirasi oleh banyak tokoh yang aku temui disana. "Days Islamic Economic Revival" yang diadain oleh STEI Tazkia, Bogor, Jawa Barat. Memang benar-benar berhasil menurutku dari kacamata peserta, karena usaha kerasnya mereka sukses mengundang tokoh-tokoh inspiratif Indonesia bahkan dunia.
Tokoh yang pertama adalah DR. Syafii Antonio atau yang lahir dengan nama Nio Cwang Chun , merupakan anak dari seorang pendeta konghucu. Dengan segala kebesaran Allah swt, seorang anak dari pendeta yang taat pun akhirnya bisa memeluk agama islam karena hidayah yang diberikan Allah swt. Pak Syafii adalah seorang pakar ekonomi syariah Indonesia, rektor STEI Tazkia Bogor, penulis beberapa buku ciptaannya, dan juga merupakan ketua dari koperasi syariah 212, Masya Allah. Prestasi yang gemilang disamping pressure dari keluarga yang notabene menganut agama yang berbeda tak membuat Pak Syafii urung untuk mewujudkan mimpinya dan bermanfaat bagi banyak orang terutama kaum muslim dan Indonesia. Setiap kalimat yang keluar dari ucapan-ucapan beliau merupakan ilmu, dalam dan tulus.
Tokoh yang kedua adalah Pak Fahri Hamzah, wakil ketua DPR Indonesia, yang membawakan materi dialog kebangsaan. Pak Fahri banyak menjelaskan tentang cara menyembuhkan perekonomian Indonesia, cara merubah mindset muslim yang berada pada perekonomian biasa-biasa saja untuk berhijrah menjadi muslim yang kaya raya dan bermanfaat, Pak Fahri mengatakan "Kekayaan yang berada di tangan orang-orang baik adalah kekayaan yang sebaik-baiknya", dan karena inilah umat muslim di Indonesia harus bangkit, dan menjadi kaya raya, karena kaya merupakan jihad fisabilillah.
Tokoh yang ketiga adalah H. Amien Rais, yang tentunya siapa tidak kenal. Pak Amien yang diusia senjanya masih sangat semangat menyampaikan materi dan antusias terhadap apa yang ia jelaskan membuatku hampir malu karena diusia yang muda ini masih sering ngantuk, padahal sedang menimba ilmu yang bermanfaat. Pak Amien banyak bercerita tentang bobroknya perekonomian Indonesia saat ini, dan saatnya kita rebut kembali dengan kedaulatan syariah.
Tokoh selanjutnya adalah owner wardah yaitu Ibu Nurhati Subakat yang sangat menginspirasi melalui kisah perjuangannya. Wardah yang dibangun dari nol hingga sukses seperti sekarang tentunya tidak lepas dari usaha, doa, kerja keras, dan sungguh-sungguh. Ibu Nurhati yang tidak pernah menyerah walaupun zaman menggilas habis perjuangan, walaupun keadaan menghapus bersih harapan, karena bermodal doa dan usaha maka rintangan apapun tak ayal membuatnya goyah. Satu pesan Ibu Nurhati yang paling membekas, "Tidak ada kesuksesan yang instan, semuanya membutuhkan proses, kerja keras, dan kerja keras"
Tokoh berikutnya merupakan tokoh Internasional, Syekh DR. Isa Al masmali dan Syekh Mohammed Jaber. Menjelaskan tentang pentingnya Al-quran dalam tiap hembusan nafas kita, betapa al-quran adalah cahaya pada hari akhir nanti, dan bagaimana kita menjadikan al-quran lebih daripada kebutuhan. Seminar Al-quran Internasional ini juga dilengkapi dengan datangnya dua hafidz dan hafidzoh Indonesia yaitu Ahsani dan Siti Masyitoh yang walaupun masih belia dan memiliki keterbatasan fisik tapi mampu menjadi penghapal alquran, masya Allah.
Tokoh super duper sangat inspiratif selanjutnya adalah Bapak Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Pak Sandiaga Salahuddin Uno. Seorang pengusaha sukses Indonesia yang memiliki karyawan kurang lebih 60.000, yang mengawali karirnya sebagai karyawan suatu perusahaan kemudian di PHK dan berjuang mati-matian untuk bangkit dan menstabilkan perekonomian keluarga. Seorang pemula politisi yang mengatakan berulang-ulang saat menyampaikan materinya "jangan masuk politik untuk kaya". Pak Sandiaga merupakan politisi yang sangat baru didunia perpolitikan, berbekal keinginan utama untuk mencari goal selanjutnya setelah bisnis nya sudah sangat besar dan tidak perlu diperbesar lagi. Banyak suntikan-suntikan motivasi yang dia berikan pada kami, para peserta seminar hari itu, bahwa bermimpilah dan berupayalah agar mimpi itu tak hanya menjadi mimpi. "Jika orang lain belum tertawa atas mimpimu, maka mimpimu masih terlalu kecil"
Dari sekian banyak tokoh yang hadir di seminar kali itu, benar-benar sukses bikin aku percaya bahwa gak ada yang gak mungkin, gak ada mimpi yang cuma mimpi kalau kita mau wujudin, modalnya cuma mimpi dan usaha biar mimpi itu bisa tercapai. Gak ada mimpi yang terlalu besar, yang ada hanyalah kita yang terlalu malu pada dunia yang kelihatannya lebih besar, padahal mampu kita genggam. Terimakasih DINAR 2017, aku pulang dan akan kembali.
Selasa, 16 Mei 2017
Jumat, 05 Mei 2017
Mahasiswa? Aktif atau Pasif itu pilihan #CoffeeBreak3
Kembali ke Coffee Break :)
Kali ini aku pengen berpendapat tentang perbedaan mahasiswa organisasi dan non-organisasi. Why harus tema ini? karena menurutku ini akan sangat penting untuk diperbincangkan.
Jadi mahasiswa semester 4 pasti asik, karena menurutku di semester-semester ini adalah saat-saat produktif dikampus. Why? karena bukan termasuk maba lagi, bukan juga mahasiswa tingkat akhir yang harus mikirin skripsi. Jadi ketika kamu berada di semester ini maka kamu sedang berada di fase "golden time". Sebelum melangkah lebih jauh aku bakal jelasin tentang jenis organisasi dan saudara-saudaranya.
Organisasi itu banyak jenisnya, ada Himpunan Mahasiswa (Tingkat jurusan), Badan Eksekutif Mahasiswa (Tingkat fakultas), Senat Fakultas , BEM Universitas, dan Senat Universitas. Semua lembaga ini bergerak dibidang yang sama yaitu organisasi intra kampus. Gak cuma lembaga ini, ada juga LSO ini lebih beraneka ragam jenisnya seperti dibidang keagamaan, olahraga, maupun seni, ada juga di bidang riset dan penelitian. LSO adalah UKM versi fakultas. Jika UKM maka cakupannya lebih besar lagi yaitu Universitas, dan anggotanya berasal dari fakultas dan jurusan yang lebih beragam.
Semua yang aku sebutkan diatas termasuk organisasi, apapun bentuknya entah lembaga intra tingkat jurusan/fakultas/universitas, atau UKM tingkat jurusan/fakultas/universitas dengan penyebutan nama yang biasanya disesuaikan dengan kampus masing-masing. Dan ada juga organisasi ekstra kampus yang gak kalah eksistensi nya, ikut di ORDA (Organisasi Daerah) menjadi salah satunya.
Aku sangat appreciate sama mahasiswa yang gak cuma belajar dikelas tapi disegala ruang, aktif di organisasi, di UKM tapi nilai akademisnya selalu terjamin . Its cool! kenapa? karena dari sini kita sudah bisa nilai kalau dia mahasiswa yang aktif, positif, dan produktif. Hal itu tentunya menambah nilai plus dia sebagai mahasiswa kan? kita sebagai mahasiswa aja menilai plus bagaimana jika mencari/membuat lapangan pekerjaan nanti?
Menjadi mahasiswa tentunya menuntut kita untuk terus belajar, entah yang menyangkut profesi kita kedepannya, menyangkut bakat yang terpendam, atau menyangkut hobi kita. Yang pasti harus terus bergerak, karena diam berarti mati.
Aku menilai mahasiswa yang masa kuliahnya hanya dihabiskan dibangku kelas sangat amat merugi tapi bukan berarti hal ini gak baik ya, kembali lagi karna pendapat setiap orang berbeda. Bayangin aja spp kuliah yang semakin tahun semakin naik, tiket pulang kampung juga mahal belum lagi uang jajan mintanya dinaikin terus dan effort kita buat orang tua ditanah rantau cuma habisin waktu untuk belajar dikelas dan nongkrong, atau belajar dikelas dan pacaran, atau belajar dikelas dan tidur bahkan gak ikut belajar dikelas tapi nongkrong. Literally its so wasting time!
Aku suka nongkrong, suka wisata kuliner, suka apa aja yang membawa kebahagiaan tapi gak seharusnya itu dilakukan dengan kapasitas diatas normal, karena bayangin orang tua yang susah payah dikampung halaman kadang sukses bikin aku super males untuk pergi ketempat-tempat yang gak membawa profit buat hidupku. Mau kita anak pejabat, pengusaha, dan apapun lah profesi ortu kita yang setiap bulannya sanggup transfer uang berapa aja yang kita minta, tetap aja sikap sederhana harus jadi pondasi hidup ini. sekali lagi setiap orang punya pendapat yang berbeda ya.
Jadi ikutlah organisasi yang menarik minat kalian, ikutlah UKM yang sesuai dengan hobi kalian, karena ditempat-tempat itulah kalian akan belajar bagaimana manajemen konflik, manajemen waktu, dan manajemen emosi. Biar gak jadi mahasiswa yang pasif dan tertinggal beberapa langkah dibelakang. Tapi hal ini tidak berlaku bagi mahasiswa yang saat kuliah harus sambil bekerja, saat kuliah harus sambil usaha, atau saat kuliah harus sambil menikah he-he. Karena tiga kategori mahasiswa tadi pasti sudah belajar hidup dari hal yang lebih dulu dijalaninya daripada mahasiswa lain.
Kejar apa yang menjadi angan dan mimpimu, jangan biarkan mimpi itu tertulis namun hanya diratapi. As-Syafii di buku Ibnu Bathuthah pernah berkata, "Kesungguhan akan membuat yang sulit menjadi tampak sederhana, dan kesungguhan akan membuat pintu yang tertutup menjadi terbuka"
Entah quote ini nyambung nya kemana, yang pasti sungguh-sungguh lah jika sudah berada di suatu bidang (organisasi/UKM/apalah) karena jika sungguh-sungguh semua yang sulit akan lebih mudah.
SEMANGAT! Sinergis Berkarya!
Kali ini aku pengen berpendapat tentang perbedaan mahasiswa organisasi dan non-organisasi. Why harus tema ini? karena menurutku ini akan sangat penting untuk diperbincangkan.
Jadi mahasiswa semester 4 pasti asik, karena menurutku di semester-semester ini adalah saat-saat produktif dikampus. Why? karena bukan termasuk maba lagi, bukan juga mahasiswa tingkat akhir yang harus mikirin skripsi. Jadi ketika kamu berada di semester ini maka kamu sedang berada di fase "golden time". Sebelum melangkah lebih jauh aku bakal jelasin tentang jenis organisasi dan saudara-saudaranya.
Organisasi itu banyak jenisnya, ada Himpunan Mahasiswa (Tingkat jurusan), Badan Eksekutif Mahasiswa (Tingkat fakultas), Senat Fakultas , BEM Universitas, dan Senat Universitas. Semua lembaga ini bergerak dibidang yang sama yaitu organisasi intra kampus. Gak cuma lembaga ini, ada juga LSO ini lebih beraneka ragam jenisnya seperti dibidang keagamaan, olahraga, maupun seni, ada juga di bidang riset dan penelitian. LSO adalah UKM versi fakultas. Jika UKM maka cakupannya lebih besar lagi yaitu Universitas, dan anggotanya berasal dari fakultas dan jurusan yang lebih beragam.
Semua yang aku sebutkan diatas termasuk organisasi, apapun bentuknya entah lembaga intra tingkat jurusan/fakultas/universitas, atau UKM tingkat jurusan/fakultas/universitas dengan penyebutan nama yang biasanya disesuaikan dengan kampus masing-masing. Dan ada juga organisasi ekstra kampus yang gak kalah eksistensi nya, ikut di ORDA (Organisasi Daerah) menjadi salah satunya.
Aku sangat appreciate sama mahasiswa yang gak cuma belajar dikelas tapi disegala ruang, aktif di organisasi, di UKM tapi nilai akademisnya selalu terjamin . Its cool! kenapa? karena dari sini kita sudah bisa nilai kalau dia mahasiswa yang aktif, positif, dan produktif. Hal itu tentunya menambah nilai plus dia sebagai mahasiswa kan? kita sebagai mahasiswa aja menilai plus bagaimana jika mencari/membuat lapangan pekerjaan nanti?
Menjadi mahasiswa tentunya menuntut kita untuk terus belajar, entah yang menyangkut profesi kita kedepannya, menyangkut bakat yang terpendam, atau menyangkut hobi kita. Yang pasti harus terus bergerak, karena diam berarti mati.
Aku menilai mahasiswa yang masa kuliahnya hanya dihabiskan dibangku kelas sangat amat merugi tapi bukan berarti hal ini gak baik ya, kembali lagi karna pendapat setiap orang berbeda. Bayangin aja spp kuliah yang semakin tahun semakin naik, tiket pulang kampung juga mahal belum lagi uang jajan mintanya dinaikin terus dan effort kita buat orang tua ditanah rantau cuma habisin waktu untuk belajar dikelas dan nongkrong, atau belajar dikelas dan pacaran, atau belajar dikelas dan tidur bahkan gak ikut belajar dikelas tapi nongkrong. Literally its so wasting time!
Aku suka nongkrong, suka wisata kuliner, suka apa aja yang membawa kebahagiaan tapi gak seharusnya itu dilakukan dengan kapasitas diatas normal, karena bayangin orang tua yang susah payah dikampung halaman kadang sukses bikin aku super males untuk pergi ketempat-tempat yang gak membawa profit buat hidupku. Mau kita anak pejabat, pengusaha, dan apapun lah profesi ortu kita yang setiap bulannya sanggup transfer uang berapa aja yang kita minta, tetap aja sikap sederhana harus jadi pondasi hidup ini. sekali lagi setiap orang punya pendapat yang berbeda ya.
Jadi ikutlah organisasi yang menarik minat kalian, ikutlah UKM yang sesuai dengan hobi kalian, karena ditempat-tempat itulah kalian akan belajar bagaimana manajemen konflik, manajemen waktu, dan manajemen emosi. Biar gak jadi mahasiswa yang pasif dan tertinggal beberapa langkah dibelakang. Tapi hal ini tidak berlaku bagi mahasiswa yang saat kuliah harus sambil bekerja, saat kuliah harus sambil usaha, atau saat kuliah harus sambil menikah he-he. Karena tiga kategori mahasiswa tadi pasti sudah belajar hidup dari hal yang lebih dulu dijalaninya daripada mahasiswa lain.
Kejar apa yang menjadi angan dan mimpimu, jangan biarkan mimpi itu tertulis namun hanya diratapi. As-Syafii di buku Ibnu Bathuthah pernah berkata, "Kesungguhan akan membuat yang sulit menjadi tampak sederhana, dan kesungguhan akan membuat pintu yang tertutup menjadi terbuka"
Entah quote ini nyambung nya kemana, yang pasti sungguh-sungguh lah jika sudah berada di suatu bidang (organisasi/UKM/apalah) karena jika sungguh-sungguh semua yang sulit akan lebih mudah.
SEMANGAT! Sinergis Berkarya!
Minggu, 30 April 2017
Senja itu... #Cerpen1
Cinta?
Jika membahas cinta senja kali itu selalu teringat. Senja itu banyak maknanya,
entah bagiku, bagi kalian, atau siapa saja. Yang pasti setiap senja menyimpan
cerita sendiri untuk setiap orang. Merah, merona penuh bahagia atau kadang juga
hitam, pekat penuh duka selalu senja hadirkan. Walaupun senja berubah-ubah tapi
langit selalu menerima apa adanya. Damai penuh makna selalu senja hadirkan
setiap kali aku melihat betapa ikhlasnya mentari melepas siang menyambut malam,
melepaskan segalanya bersama dengan pulangnya sang pejuang nafkah dari
peraduan, untuk melepaskan penat seharian setelah berargumen dengan keletihan.
Lamunanku
tentang senja seringkali berakhir saat dipanggil Ibu untuk masuk kerumah karena
tidak baik untuk berlama-lama diluar saat menjelang maghrib. Ibu sering
bertanya apa alasanku tak pernah melewatkan senja sekalipun walaupun sekedar
melihat dari teras rumah. Sebenarnya aku tahu alasannya tapi sulit untuk
mengungkapkannya. Aku adalah anak yang sejak kecil sangat tertutup pada Ibu
terutama soal asmara. Terlebih lagi Ayah meninggalkan kami untuk selamanya sejak
aku berumur 6 tahun, jadi Ibu lebih banyak menghabiskan waktu di Kantor dan
kekurangan waktu untukku apalagi sekedar bercerita hal-hal yang kukira tidak
begitu penting.
“Sudah kenyang lihat senja?” tanya
Ibu dengan mimik wajah mengejek.
“ahh Ibu, aku cuma senang lihat senja
kok bu, cantik, indah, penuh makna” Jawabku dengan teori seadanya.
“Halah Tia..Tia.. coba jujur aja sama
ibunya sendiri. Eh iya, teman kecil kamu si Dion apa kabar ya Tia? Dulu sering
main layangan bareng kamu kan? Hahaha”
“Si Ibu ingat aja temen-temenku,
gaktau ya bu apakabarnya.”
Pertanyaan
Ibu berhasil membawaku pada kenangan bertahun-tahun lalu, Dion adalah teman
akrabku, sangat akrab karena kami berada di kompleks perumahan yang berdekatan.
Makan bersama, Dion juga sering menemaniku main masak-masakan, aku juga
menemani Dion main bola. Karena tak ada lagi anak kompleks yang seusia dengan
kami makanya kemana-mana kami hanya main berdua. Sayangya Ayah Dion pindah
tugas saat kami duduk di kelas 6 SD, dipindahkan ke Kalimantan Barat dan
tentunya sangat jauh dengan Jawa Timur. Tapi klimaks dari flashback ku ini bukanlah Dion melainkan Irul. Setelah berpisah
dengan teman kecilku Dion, aku masuk SMP yang tidak begitu jauh dari kompleks,
butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai kesana.
Karena
hanya terbiasa dengan Dion membuatku agak susah untuk mencari lingkar pertemanan
yang baru, apalagi berteman dengan cewe-cewe SMP yang umumnya bersikap terlalu
dewasa dan tidak sesuai umurnya. Akulah Tiara yang kala itu mati-matian mencari
sahabat baru. Setelah sebulan di SMP membuatku semakin bisa beradaptasi dan
menyadari kalau ternyata tidak semua cewe-cewe SMP itu seperti yang kupikirkan.
Aku bertemu dengan Inggrid, cewe sederhana yang sangat ceria dan selalu
membuatku yang pendiam ini terpingkal-pingkal karena tingkah konyolnya yang
sering tidak bisa dikondisikan.
Aku
dan Inggrid bahagia melewati masa SMP yang sederhana dan penuh tawa itu. Hingga
akhirnya saat duduk dikelas 8 datanglah Irul murid pindahan dari Jawa Tengah.
Posturnya tidak begitu tinggi, cukup berisi, berkacamata, berkulit putih dan
cukup good looking. Sungguh seperti
Derby Romero kataku. Aku dan Inggrid pun berkenalan seadanya dengan Irul si
anak baru. Tidak butuh waktu lama bagi Irul untuk beradaptasi, dengan mudah dia
mengikuti ekskul basket, pengurus OSIS, dan ekskul Fotografi. Hal ini membuat
Irul sebagai anak baru semakin memikat banyak hati remaja-remaja baru gede di
SMP ku.
Sampai
suatu hari aku dan Irul dipertemukan dalam tugas kelompok yang cukup besar
untuk mengerjakan proyek daur ulang limbah sampah menjadi barang siap jual.
Awalnya mengerjakan tugas seperti biasa tapi entah kenapa kedekatanku dan Irul
semakin dekat. Setiap malam kami sering menghabiskan waktu untuk chat via BBM yang saat itu sedang
maraknya, walaupun hanya sekedar membahas hal-hal yang ringan. Aku juga sering
pergi bersepeda dan bermain ditempat unik untuk menemani Irul mencari spot bagus untuk fotografi nya.
Irul
sering berkata dia menyukai senja karena walaupun senja berubah-ubah tapi senja
selalu menjadi alasan langit mampu menerima senja apa adanya, dan hal ini juga yag
menjadi salah satu alasan mengapa aku menyukai senja. Walaupun sebenarnya
alasannya tidak sesederhana itu. Kedekatanku dan Irul membuatku seperti
menemukan sosok Dion yang telah hilang bertahun-tahun lalu, tapi bedanya rasa
ini lebih dari sekedar pada sahabat. Ya, aku merasakan apa yang kata orang
cinta pertama. Aku tidak ingat pasti kapan mulai merasakan perasaan itu, yang
kutahu saat ada Irul didekatku seperti ada segerombolan kupu-kupu yang
mengepakkan sayapnya diperutku, menggelikan dan membuat jantung berdetak tak
beraturan.
Masuk
di SMA yang sama dengan Irul membuat kami sudah bagaikan perangko dan
amplopnya. Sampai ada yang mengira kami adik-kakak karena terlalu dekat.
Kedekatan ini menjadi kebahagiaan buatku tapi juga kesedihan, karena aku takut
jika Irul tahu apa yang kurasakan sejak dulu akan membuat hubungan persahabatan
kami renggang. Masa SMA kami lalui dengan banyak cerita walaupun tak ada satu
cerita pun yang menyelipkan kisah cinta diantara kami. Irul pernah bercerita
tentang Jihan kakak kelas idolanya, katanya karena Jihan itu cerdas dan
bertalenta. Aku juga sering bercerita pada Irul tentang teman-teman lelaki
seangkatan yang menarik perhatianku. Begitulah kami, sederhana dan apa adanya. Entah
apa yang Irul rasakan, apakah ada sedikit perasaan yang sama denganku?
Lamunanku
tersadar saat Ibu beranjak dari kursi dan bersiap sholat maghrib. Setelah
sekian lama aku tidak pernah mengingat lagi tentang Irul dan masa remaja kami,
akhirnya kalah juga dengan satu pertanyaan Ibu. Waktuku di rumah sebentar lagi
habis karena memang aku hanya menghabiskan liburan semester ganjil tahun ini
sekitar 2 minggu, dan memilih menghabiskan dua minggu
sisanya di Yogyakarta untuk menyelesaikan tugas akhir lebih cepat dari yang
lain.
Esok
harinya Ibu mengajakku ke Taman Kota untuk sejenak menghabiskan waktu berdua
sebelum aku kembali ke perantauan.
“Tia gak rindu Ayah?” Kalimat yang
pertama keluar dari mulut Ibu saat kami duduk dibawah pohon rindang ditepi
Taman.
“Yahhh Ibu pertanyaan nya baper,
pasti rindu lah bu. Sudah 15 tahun kita hidup tanpa Ayah”
“Apalagi Ibu yaa Tiara, sendirian
besarin kamu, kamu rewel suka nangis lagi” Kata Ibu penuh ejekan.
“Ahh Ibu mengada-ngada, aku loh dari
kecil kalem bu” jawabku bercanda.
“Hahaha, Serius ya ini Tiara, Ibu
kesepian banget waktu kamu milih kuliah di Jogja. Apalagi kamu punya rencana
kerja disana”
“Tiara juga sedih sebenarnya bu, tapi
prospek kerja Tiara disana luas banget bu. Kenapa nggak Ibu yang ikut Tiara ke
Jogja?”
“Hey kamu lupa, tahun lalu Ibu
barusan perpanjang kontrak kerja 5 tahun ndo”
“Sebelumnya maaf ya bu, apa Ibu gak
pengen cari teman hidup lagi?” Sontak pertanyaan itu terlintas dimulutku, entah
pertanyaan yang pantas atau tidak untuk Ibu.
“Setelah 21 tahun ibu hidup sama anak
Ibu yang cantik ini, akhirnya berani juga nanya pertanyaan serius ke ibunya”
Jawab Ibu entah dengan perasaan seperti apa.
“Hehehe siapa tahu kan bu.”
Perbincangan
hari itu ditutup dengan penyesalanku melontarkan pertanyaan yang entah membuat
perasaan Ibu seperti apa, yang pasti sebenarnya pertanyaan itu tulus dari dalam
hatiku. Aku sedih melihat Ibu selalu sendiri dan mengkhawatirkan masa tua Ibu
kelak.
Saatnya
kembali ke rutinitas, Yogyakarta. Kota perantauan yang menyimpan banyak kisah
perjuangan, para penimba ilmu, pengukir goresan tinta hingga pena, pengukir
patung hingga pengukir senyum, penyair puisi hingga melodi, pelenggak tari
hingga pencari intuisi. Ya, Yogyakarta adalah Kota seribu kisah, beragam kisah
duka ataupun lara hingga suka ataupun bahagia. Banyak yang menjadi saksi dari
terbit tenggelamnya mentari di kota Ini, pedagang kaki lima yang terkenal akan
ramah dan bersahabatnya, turis yang tanpa segan melintasi malioboro dan kuda-kuda
para pemilik delman yang kadang menambah bau khas setiap kali melintasi jalan
malioboro yang menjadi sumber sejarah puluhan tahun lalu.
Salah
satu hobiku adalah memperhatikan sekeliling dan membayangkan kenangan ditempat
itu bertahun-tahun lalu. Mungkin hobi ini yang membuatku sulit melupakan masa
lalu, tapi bukankah masa lalu memang bukan untuk dilupakan?
Ranita
teman dekatku selama merantau di Yogyakarta selalu menjadi tempatku berkeluh
kesah dan lain sebagainya. Ranita juga menjadi saksi kegagalan percintaanku
diperantauan yang seringnya hanya karena aku tidak pernah benar-benar melupakan
Irul. Mengawali perjumpaanku dengan Ranita setelah liburan dua minggu,
menghabiskan waktu di coffee shop
menjadi pilihan kami.
“Eh Tia.. Tia.. noleh kebelakang,
noleh buruan” dengan panik Ranita menyuruhku menoleh kebelakang.
“Apaan sih Ran?”
Iya,
laki-laki yang duduk selisih dua meja kesamping kiri dari kami sangat mirip
dengan Irul. Caranya mengaduk kopi, caranya memerhatikan sekeliling, bahkan
caranya menatap orang asing. Ranita yang karena terlalu bosan mendengarku
bercerita dan melihat foto Irul jaman SMA membuatnya juga tak asing dengan
orang yang sama-sama sedang kami perhatikan itu.
Setelah
SMA berakhir aku dan Irul tidak lagi saling komunikasi, mungkin hanya sekedar
memerhatikan dari sosial media. Melihat perkembangan satu sama lain tanpa
berani bertukar kabar. Ini terjadi hanya karena hal yang sederhana, kami
terlibat perselisihan lumayan berat sesaat sebelum kelulusan. Dan aku percaya
masih banyak rasa yang menggantung diantara kami. Setahuku Irul melanjutkan
pendidikan di Harmburg, Jerman, mengambil jurusan bisnis terbaik disalah satu
Universitas terkenal disana. Info ini kudapat dari Inggrid sahabatku SMA yang masih
sering bertukar kabar dengan Irul. Lantas untuk apa Irul di Jogja? Mencariku?
Ah lagi-lagi rasa percaya diri yang tinggi kadang membuatku sedih sendiri.
Ranita
memaksaku untuk menegur Irul saat di Coffee
shop tadi, tapi itu bukanlah hal yang mudah setelah hampir empat tahun
tidak pernah bertukar kabar apalagi bertemu. Aku pun mengurungkan niat itu dan
kembali memikirkannya saat sampai dikos. Setelah memberanikan diri,
mengiriminya pesan singkat mungkin salah satu alternatif yang paling mudah
walaupun tidak mudah juga bagiku.
Blues Cafe diperempatan malioboro
menjadi saksi bisu pertemuan dua orang sahabat yang sekian lama tidak pernah
bertemu, dua orang sahabat yang kupercaya telah kehilangan dirinya
masing-masing dalam pelarian, dua orang yang berusaha mati-matian tidak
bergantung pada masa lalu walaupun seluruh kenyataannya berkebalikan. Irul
tidak banyak berubah, tatapannya masih dingin walaupun tersimpan kehangatan
yang mungkin hanya aku yang bisa merasakan. Senyumnya pun selalu sama, penuh
makna walaupun tidak bersahabat bagi orang yang baru mengenalnya. Rambut ikal
itu kini jauh lebih klimis dibanding empat tahun lalu, mungkin musim dingin
Jerman sudah merubah ciri khasnya itu.
Perbincangan
kami tentu tidak sama dengan saat masa remaja dulu, tentulah waktu dan jarak
sudah merubah segalanya, walaupun rasaku tidak pernah berubah, entah dia. Kami
banyak bercerita tentang kuliah masing-masing, sesekali membahas teman-teman
SMA dan keberadaan mereka sekarang. Tujuan Irul ke Jogja adalah karena permintaan
Ayah untuk bekerja disalahsatu perusahaan swasta yang membutuhkan fresh graduate seperti Irul. Disamping
itu Ayahnya juga ingin menghabiskan masa tua bersama anak sulungnya. Ibu Irul
meninggal dunia saat dia baru merantau ke Jerman, aku benar-benar tidak tahu
kabar berita ini padahal Bu Cia panggilanku untuk Ibu Irul adalah sahabat
terbaik bagi aku dan Irul, sering menghabiskan waktu bersama dan menceritakan
banyak hal.
14
Juni 2016, Ibu tiba-tiba datang ke Jogja saat aku sedang sibuk-sibuknya seminar
hasil. Tidak direncanakan sebelumnya, katanya Ibu ingin menemani saat-saat
ujian akhir seperti ini. Malam minggu itu Ibu mengajakku makan disalah satu
rumah makan yang cukup terkenal di Jogja, katanya ingin mencoba masakan disana.
Awalnya aku bingung, Ibu baru beberapa kali ke Jogja tapi kenapa begitu tahu
dan ingin sekali makan di rumah makan itu.
“Kenapa harus makan disini bu?”
Tanyaku dengan sedikit ngedumel.
“gakpapalah Tia, Ibu pengen coba
masakannya”
“padahal banyak loh bu tempat lain
yang lebih enak”
“sebenarnya sekalian Ibu pengen
kenalin kamu sama teman Ibu, lagi di Jogja juga.”
Betapa
kagetnya malam itu, karena yang diundang Ibu ternyata adalah Irul, Ayahnya, dan
adiknya Gita. Aku tahu, ayah Irul dan Ibu adalah teman baik saat kuliah dulu
ditambah lagi aku dan Irul sudah bersahabat sejak SMP, maka bertambahlah
kekerabatan diantara kami. Makan malam berlangsung layaknya teman yang lama
tidak berjumpa, dan ditutup dengan membuat janji untuk makan malam lagi tiga
hari kedepan.
Sesampainya
di kos, Ibu mengutarakan hal yang sontak membuatku kaget tidak terkira. Tentang
pernyataan ayah Irul untuk menikah dengan Ibu. Hal ini sangat mengejutkanku,
bukan karena keinginan Ibu untuk menikah lagi tapi karena kenapa harus Ayah Irul?
Bukankah masih banyak laki-laki lain dimuka bumi ini? Bukankah Ibu punya banyak
teman kantor yang juga single parent
dan seumuran dengan Ibu? Kenapa harus Om Toni? Kenapa harus ayah dari orang
yang sudah lama kutunggu kehadirannya kembali? Apa ini yang disebut cinta tidak
terduga?
Ibu
bingung kenapa aku menangis mendengar pengakuan Ibu, aku pun tidak tahu harus
jujur darimana. Dengan penuh keberanian akhirnya aku menceritakan semuanya,
dari awal perkenalan, pertemuan, menjadi sahabat, hingga jatuh cinta pada Irul.
Kukira ini salahku karena tidak pernah sekalipun jujur pada Ibu tentang
perasaanku pada Irul. Kukira ini salahku karena tidak pernah berpikir bahwa
kejadiannya akan seperti ini. Kecewa dan marah pada diri sendiri kurasakan saat
itu.
Aku
tidak menyalahkan Ibu sedikitpun, awalnya Ibu yang ingin mengikhlaskan. Hal ini
kutolak dengan alasan perasaan itu sudah tidak ada, hanya berbekas
ingatan-ingatan masa remaja yang sekedar lucu untuk dikenang. Setidaknya alasan
penuh kebohongan ini mampu meredakan resah di dada Ibu dan berbohong demi
kebaikan kupercaya juga tidak menjadi masalah. Kekhawatiranku pada Ibu terjawab
sudah, mungkin Om Toni lah orang yang tepat untuk menemani masa tua Ibu.
Aku
yakin Om Toni juga menanyakan hal yang sama pada putranya, kukira Irul mungkin
merasakan hal yang sama denganku, walaupun tidak pernah sedikitpun ia
membicarakan soal perasaan saat berbincang denganku dari dulu hingga sekarang.
Pelan-pelan aku membangunkan diriku sendiri dari kekecewaan, mencoba menutup
lembaran yang selalu kubuka saat senja tiba, menghapus perasaan yang kukira
akan berakhir bahagia walaupun akhirnya menjadi duka lara, sekali lagi senja
perlahan membantuku melepaskan rasa perlahan dan apa adanya.
Tibalah
hari yang dinanti itu, pernikahan Ibu dan Ayah Irul yang dikonsep sederhana
tapi tetap elegan dan khusyuk. Bernuansa serba putih dan cokelat muda membuat
suasana Jogja yang ternyata benar menjadi saksi kisah banyak orang semakin
terasa syahdu. Tidak lama setelah keputusan itu, persiapan pernikahan hanya
dilangsungkan dalam waktu dua bulan. Seluruh keluargaku dan keluarga Irul
menjadi satu di acara yang menjadi sebab bahagia banyak orang ini. Dengan
mengenakan jas krem bergaris cokelat tua disetiap kantongnya menambah kharisma
Irul pagi itu. Acara berlangsung khusyuk dan akhirnya sah sudah aku dan Irul
menjadi saudara yang akan bersama sehidup semati, satu rumah dan melanjutkan
hidup ini dengan semestinya.
“Gak nyangka, jadi saudara ya kita
Ra” Mulai Irul seadanya.
“Hahaha iya Rul, lucu yaa. Ternyata
hidup gak bisa ditebak”
“Aku kira kita berdua bisa punya
acara kaya gini suatu hari nanti, ternyata beneran tapi bedanya pemeran
utamanya Ibu dan Ayah, lucu ya Ra”
“Lucunya sampai bikin pengen nangis
Rul” Jawabku dengan air mata yang keluar dari kelopaknya.
Sekali
lagi senja menjadi saksi dari kisahku, yang mungkin juga dirasakan oleh banyak
orang, entah sama, lebih pedih, atau mungkin ada juga senja-senja yang
berbahagia. Sesederhana itulah senja kami berakhir, walaupun kali ini terasa
lebih pekat dan penuh duka, aku percaya disamping itu senja cerah penuh bahagia
sudah menanti disana. Aku yakin Irul memang sudah takdirnya akan menjadi
saudaraku, dan kami harus menerima itu apa adanya. Seperti langit mengikhlaskan
senja, dan menggantinya dengan yang lebih indah, malam.
Nb:
- Cerpen diatas menjadi salah satu nominasi 5 terbaik di Rector Cup UMM dengan tema "Cinta tak terduga"
- Terimakasih sudah menjadi tokoh dalam ceritaku, entah berakhir duka atau bahagia
Rabu, 26 April 2017
Balada setelah lulus SMA, mau kemana? #CoffeeBreak2
Tiga tahun
di SMA berhasil bikin aku percaya apa yang orang bilang “SMA masa paling indah”.
Mungkin sama kaya apa yang kalian rasain? Walaupun awalnya ga ada niat masuk di
SMA itu tapi karena kuasaNya melebihi segalanya sampailah aku disekolah itu. Berbekal
tekad yang kuat untuk bertransformasi dari anak yang kuper dan kutu buku saat
SMP, akhirnya membawaku untuk mengenal teman-teman yang “Asik”.
Berhasil
selalu masuk tiga besar karena memang persaingan di SMA gak seketat di SMP,
bikin aku ngerasa sepertinya gak asik kalau cuma belajar aja. Timbullah rasa ingin
coba-coba, daftar jadi pengurus OSIS dan pemain marching band. Its cool! Jadi pengurus
OSIS ternyata gak se-ekstrim yang kukira, kegiatan nya asik, teman-temannya
lebih asik lagi, dan spesialnya kamu bisa nonton konser/ikut
seminar/jalan-jalan tanpa bayar bahkan dibayar (oke ini mental anak kos). Gak
sih, sebenarnya lebih ke loyalitas dan toleransi yang banyak aku dapatin selama
jadi pengurus OSIS dua periode di SMA. Disana nemuin teman-teman yang asik,
susah senang bareng, berjuang buat wujudin mimpi sekolah kita, berhasil bikin
sekolah kita dipandang lagi sama sekolah lain, berhasil bikin konser
persembahan terakhir dari kita (ah baper) dan berhasil bikin kita punya alasan
buat bolos kelas guru killer he-he. Kenal bahkan dekat banget sama pembina OSIS
juga banyak bikin kita belajar jadi diri sendiri dan berani bermimpi.
Sama temen-temen
OSIS yang lain kita sudah lebih dari saudara karena banyak ngabisin waktu
bareng dan lebih intens dibanding teman sekelas. Banyak memori sama mereka, ini
kalau di ceritain mungkin gak habis sebelum sampe di season 7. Jadi, karna
keasikannya dengan OSIS, sempat marching band juga, dan jadi purna ppi provinsi
berhasil bikin aku lupa kalau ternyata kehidupan setelah SMA itu nyata adanya. Aku
kira bakal seneng-seneng terus begini, bikin event sekolah, persiapan nampil MB
di acara kota, atau anjangsana keluar kota sama purna Paskibra Provinsi, aku
kira itu aja, ternyata...
Pendaftaran
SNMPTN atau jalur undangan sudah dibuka sebelum ujian nasional dan ini bikin
aku galau. Pertama, gak tau passion nya dimana. Kedua, gak tau lebih unggul di
IPA atau IPS, karena jujur aku masuk IPA Cuma karena anak IPA isinya anak-anak
pintar, kali aja ketularan he-he. Dan alasan-alasan absurd lainnya. Setelah berunding
dengan mama papa kakak akhirnya dipilihlah Kedokteran dan kesehatan masyarakat
sebagai pilihan pertama. Jujur aku pesimis dengar kata kedokteran, tapi demi
mengikuti keinginan keluarga dengan sepenuh hati kupilihlah pilihan itu.
Setelah
gagal di tes itu, aku coba lagi ikut beberapa tes di universitas lain dengan
jurusan yang mirip-mirip tapi beda. Mulai dari kesehatan, ekonomi,
administrasi, sastra, keguruan, sampai pertanian pun semuanya kucicipi. Dan tetaplah
restu orang tua adalah restunya Allah swt, kesehatan pun jadi tambatan hati.
Kehidupan
setelah lulus SMA itu keras dan nyata, beneran. Aku ngekos sendirian, naik
angkot kemana-mana waktu awal-awal ikut bimbel intensif buat SBMPTN 2015. Susah
lah, apalagi dengan kondisi aku bingung passion ku dimana, jurusan yang paling
aku pengen apa, bidang yang paling unggul dimana, walaupun waktu SMA terbilang
cukup baik dibidang prestasi tetep aja gak menutup kemungkinan aku bingung mau
kemana.
Alhamdulillah
setelah melewati masa-masa sulit itu sampailah aku dijurusan yang ku yakini
pasti yang terbaik dengan segala kurang dan lebihnya.
Pesan buat temen-temen
yang baru aja tadi pagi lihat pengumuman SNMPTN dan tulisannya “MAAF”, gak papa
terima aja kenyataan dengan lapang dada. Berarti bukan disitu passion kalian,
bukan disitu jurusan yang terbaik buat kalian, pasti ada yang terbaik kok
setelahnya. Jangan nyerah, aku aja tujuh kali tes dan enam kali gagal, jangan
bilang kalian pengen ngerasain nangis berkali-kali kaya aku ya he-he. Belajar
yang serius, kalau punya dana dan waktu ya ikut bimbel yang rajin, jangan
sia-siain kesempatan selagi orang tua masih sanggup biayain sekolah kita.
Pesan buat
temen-temen yang baru naik kelas 3 SMA, fokuslah belajar untuk persiapan
kehidupan setelah SMA yang lebih kejam dari hutan belantara (oke alay). Yang masih
jadi pengurus OSIS keasyikan, ayolah berhenti, yang masih gak tega melepas
seragam paskibra nya, lepaskanlah, yang gak sanggup menanggalkan senar marching
kebanggaannya, tanggalkanlah, dan yang masih takut untuk gugur dari jabatannya
sebagai kapten basket, gugurlah. Sudah waktunya kalian memikirkan masa depan
dengan segala pahit manisnya. Sudah waktunya keluar dari zona nyaman dan serius
dengan masa depan.
Walaupun
jadi siswa yang aktif di SMA gak menutup kemungkinan kita tetap berhasil gapai
cita-cita asalkan tetap fokus dan punya tujuan. Karena jadi siswa yang aktif
juga mengantarkan kita pada lingkungan yang baik, produktif dan positif. Berkaryalah
sebanyak-banyaknya selagi punya kesempatan tapi tetap fokus dengan tujuan dan
cara mewujudkannya.
Banyak pilihan setelah lulus SMA, bisa langsung kuliah atau kerja dulu, sekolah kedinasan, politeknik, pendidikan TNI/POLRI, Akademi militer/ Akademi Kepolisian, Sekolah tinggi, kursus, atau mungkin menikah dulu? banyak sekali pilihan, jadi tergantung kalian ingin yang mana, semua sudah ada kurang dan lebihnya, tapi apapun pilihan itu jika memang sudah jadi jalan kalian maka jalani dengan sebaik-baiknya dan jadilah yang bermanfaat.
Sekali lagi
buat temen-temen yang lelah dengan kata “MAAF", "GAGAL", "COBA LAGI" dan kata-kata pedih lainnya yang muncul di layar laptop , percayalah
akan ada kata “SELAMAT”, "ANDA BERHASIL", "ANDA DITERIMA" setelahnya. Semangat pejuang masa depan!!
Sabtu, 22 April 2017
PILKADA DKI #CoffeeBreak1
Nulis itu seru, karena aku bebas berpendapat tanpa harus mengeluarkan suara, ya suaranya lewat tulisan sih. Mungkin pada heran kenapa sebegitunya peduli sih sama PILKADA DKI?
"Yang pilkada di DKI kok situ yang sibuk?"
Pertanyaan kurang cerdas yang pertama ya model begini. DKI adalah jantung Indonesia, otomatis jika jantung nya sakit maka seluruh badan ikut sakit, bahkan bisa mati. Simple nya sih gitu.
Lets argument. Jadi pilkada DKI baru aja selesai dan Alhamdulillah banget Pak Anies - Sandi menang dan 17 Oktober nanti bakal dilantik. Jelas kemenangan beliau mengundang pro dan kontra, yaa aku gak bisa menjudge siapapun yang mau ngomong abcdef yang pasti ternyata muslim DKI sebagian besar sudah cerdas untuk menentukan pilihannya.
Flashback ke beberapa aksi damai yang terjadi dari akhir tahun sampe awal tahun ini, Masya Allah banget dengan seluruh muslim yang ada disana, entah yang ikut andil dibarisan itu ataupun yang ikut mendukung kaya ngasih makan minum dan segala yang dibutuhkan umat secara cuma-cuma. Aksi damai 212 (2/12/2016).
Awalnya bisa dibilang aku sebagai mahasiswi semester tiga waktu itu bener-bener gak peduli sama apa aja yang terjadi di Indonesia entah politiknya, hukumnya, atau apalah itu. Seiring berjalannya waktu karena mulai membuka pikiran dan menerima masukan-masukan akhirnya sadar juga kalau ternyata jadi mahasiswa gak boleh sebuta itu, kita generasi bangsa coy, mau jadi apa Indonesia kalau penerusnya sekedar rasa peduli pun nggak punya? mau dibawa kemana bangsa ini? asik udah kaya nasionalis ya ini?
Karena sering dengar kakak cerita, membagi wawasannya dan belajar buat lebih peduli sama hal-hal bermanfaat akhirnya timbullah ketertarikan ini untuk terus memantau apa yang sebenarnya terjadi sama bangsa ini.
Kembali ke awal, banyak non-is bahkan muslim yang bilang :
"Ih fanatic banget sih, kan kita bebas memilih, apa salahnya dia china?"
Oke ini sumpah kurang cerdas banget, karena ketika kita muslim maka pedoman kita Al-quran kan? Kan udah jelas di Al-quran bahwa kita harus memilih pemimpin muslim! harus ! wajib! bagaimanapun bentuk calon pemimpin muslim itu tetap harus kita pilih jika disandingkan dengan pemimpin non-is. Dan Alhamdulillah nya Pak Anies- Sandi adalah pemimpin yang santun dan semoga amanah. Masalah pak ahok china, sekali lagi yang kita permasalahin bukan cina nya tapi agamanya. So be think before talk;)
Oke kalau yang bilang seperti diatas memang non-is dan gak paham sama aturan agama kita, tapi yang amat disayangkan kalau yang berbicara diatas adalah muslim. Didoakan aja semoga segera terbuka hatinya kalau kapan kapan ada pemilihan lagi.
Masalah pak Ahok menistakan agama. Ini juga gak kalah seru. Banyak yang bilang:
"Alay dah, cuma ngomong gitu doang, sampe demo segitunya"
wih coy, sadar gak yang dia nistakan itu apa? Al-quran. Pedoman kita umat muslim, perantara Allah swt untuk bicara sama hambanya dan dia dengan ringannya bilang kalau itu "bohong". Bangga banget sama anak muda bahkan anak kecil yang ikut aksi damai untuk membela apa yang memang seharusnya kita bela.
Akhirnya baru-baru ini keluar tuh keputusan soal hukuman pak Ahok, 1 tahun penjara dengan 2 tahun masa percobaan. Istighfar banget, istighfar. Hukuman segitu apa pantas untuk seseorang yang sudah menghinakan agama lain bahkan gak cuma sekali? entah bagaimana dengan hukum negara ini.
Lambatnya proses ini juga bikin banyak artis di Indonesia ikut-ikutan untuk menghina agama islam, menghina ulama padahal dirinya sendiri juga muslim entah apa tujuannya, untuk sensasi kah atau memang untuk membuat suasana semakin kacau? Uus, Aron Ashab, Inul Daratista dan entah siapa lagi yang dengan sadar bangga akan apa yang mereka ucapkan walaupun akhirnya harus minta maaf karena posisinya sebagai publik figur terancam.
okelah dengan semua lika-liku perpolitikan ini, akhirnya Allah swt menunjukkan kuasanya dan memberi angin segar utuk DKI dan Indonesia terpilihlah pemimpin muslim yang semoga amanah dan bisa mewujudkan visi misinya. Walaupun hukuman sang penista belum memuaskan.
Kesimpulannya, ini waktunya kita kembali bersatu. Pilkada sudah usai dan waktunya kotak-kotak putih kembali jadi merah putih tanpa ada corak lain didalamnya. Kembali jadi Indonesia yang bersatu, yang saling menghargai, entah menghargai agama lain, Ras nya atau apapun itu. Jangan saling membenci, jangan saling menghina, dunia sudah terlalu tua untuk diisi dengan saling membenci. Masalah hukuman yang harus diberikan itu bukan perwujudan dari rasa benci tapi perwujudan dari bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, as simple as that.
So, bersatu lagi yaa Indonesia. Aku gak tau apa tulisan ini akan dihayati dipahami atau hanya menjadi salah satu post yang menemani post post yang lain, setidaknya bisa berpendapat dan mengutarakannya sudah menjadi lebih baik dibandingkan diam dan tidak mau tahu dengan apa yang terjadi.
Jumat, 21 April 2017
Liburan dadakan BANYUWANGI & BALI, INDONESIA #Trip1
Dari kecil sudah punya mimpi untuk ke semua negeri di dunia ini, entah dengan cara apa mungkin dengan beasiswa? Study Excursion? Study banding? jalan-jalan sama keluarga? jenguk ade diTurki? atau jalan apa yang pasti akan keluar negeri, kemana aja yang aku mau tanpa batasan finansial. Aamiin.
Semester 1 kemarin, kita para maba ini iseng ngeliatin tanggal merah dikalender, dan nemu libur yang lumayan panjang sekitar 4 hari. Lumayan nih dipake buat travelling ketempat yang agak jauhan. Awalnya pilihannya ke Yogyakarta atau Surabaya atau Blitar? Tapi kok kayanya basi banget yaa, so satu teman kita asal Banyuwangi nawarin buat main ke kampungnya, dan ngeliatin ke kita so many beach there and we interesting!!!
Perjalanan 9 jam with economic train to go to Banyuwangi its still so long time because tempat duduk kereta ekonomi yang lumayan tipis bikin bokong terasa lebih sakit dari biasanya, maklum lah anak kos liburan dengan biaya yang super hemat, dengan harga tiket 65 ribu yang penting bisa nyampai ditempat yang dituju.
Berbekal pop mie dan aqua secukupnya yang penting perut gak teriak-teriak, akhirnya nyampe Banyuwangi jam 11 malam, dan dianter lah kerumah teman kita ini. Gak banyak basa basi langsung pada tepar (bahasa khas kalimantan yang artinya tidur) semuanya, paginya kita ready dan berangkat ke Bangsring Breeze. Its so first experience buatku karena emang terlahir dari keluarga yang gak begitu hobi piknik, jalan-jalan, atau semacamnya. Snorkling jadi kegiatan yang seru parah karena emang laut banyuwangi so wonderful , isi-isi laut jelas banget keliatan dari balik kacamata renang yang aku pake. Berenang sampai ke tengah laut dan nikmatin semua yang Tuhan sajikan dengan perfect nya buat aku sadar kalau surah Ar-Rahman memang dibuat berdasarkan kenyataan yang amat sangat, Indonesia aja begini gimana luar negeri? Oh Tuhan, bantu aku kesemua negeri di dunia ini, Aamiin yaa Rabb. But emang laut Indonesia kan super keren yaa, aku aja yang baru bisa explore sekarang.
Ngabisin waktu seharian di Bangsring Breeze cukuplah bikin kita yang haus piknik ini terobati, karena perjalanan ke rumahnya temen kita ini lumayan jauh dari BB (Bangsring Breeze) bikin kita mikirin yang makin ngaco dijalan pulang.
"Bali kayanya asik rek?"
Wedeh ide aplagi ini, karena kenekatan yang nekat banget so kita rencanain besok malam ke Bali, dengan modal duit pas-pasan dan bensin mobil yang Insya Allah akan kita perjuangkan bersama.
WELCOME TO BALI!
Malu-maluin gak sih sudah umur 18 tahun baru pernah ke Bali, Kota di Indonesia yang paling banyak menarik turis mancanegara. Maklum lah jadi anak Kalimantan super sangat terbatas untuk jalan-jalan kemanapun karena terbatasnya jarak.
Bedugul jadi objek yang pertama kita datengin, kabut tebel masih nyelimutin bedugul pagi ini. Sumpah dingin banget tapi seru karena bisa lihat Objek yang ada di uang 50 ribuan didepan mata langsung. Lumayan...
Next kita ke Pandawa Beach, Nah ini baru pantai beneran. Kerenlah, ombaknya asik buat surfing dan matahari yang cukup nyengat sukses buat kulit yang sudah cokelat ini makin cokelat lagi.
and then ini waktu yang pas banget buat lanjutin perjalanan ke Pantai Kuta. Yang jadi pantai paling sering aku dengar di lagu-lagu, sering baca di buku-buku, dan ternyata aslinya Out of my expectation. Ternyata Biasa aja, malah lebih mirip Pantai amal kalau didaerahku, ya bedanya di Kuta banyak turis yang berjemur dan pakai bikini. But Recomended lah. Kita juga ngelewatin tol terpanjang se Asia Tenggara di Tol Nusa Dua, and its so amaze karena aku mikir gimana cara buat tol sepanjang ini diatas laut sedalam ini? yaa itulah karena kekuasaan Allah swt yang menciptakan sesuatu untuk bisa menciptakan sesuatu.
okey, sekian cerita singkat yang sebenernya lebih panjang lagi kalau aku jabarin detailnya. Yang pasti after ngabisin waktu 24 jam literally tanpa mandi bener-bener gak mandi akhirnya kita balik ke Banyuwangi dan besoknya balik ke kota kita untuk istirahat dan menyadari kalau liburan kali ini cukup Out of the box :D
JFYI, perjalanan ini sudah satu tahun hampir dua tahun lalu dan cuma lagi iseng aja buat nulis dan bisa aku baca 10 20 30 tahun lagi kala mengingat masa muda jadi hal paling lucu nanti. Maafkan foto-foto dengan kualitas gambar yang tidak begitu baik, percayalah beberapa gambar diambil dengan gopro keluaran jadul, its not about pictures but memories (ngeles ajasih).
Semester 1 kemarin, kita para maba ini iseng ngeliatin tanggal merah dikalender, dan nemu libur yang lumayan panjang sekitar 4 hari. Lumayan nih dipake buat travelling ketempat yang agak jauhan. Awalnya pilihannya ke Yogyakarta atau Surabaya atau Blitar? Tapi kok kayanya basi banget yaa, so satu teman kita asal Banyuwangi nawarin buat main ke kampungnya, dan ngeliatin ke kita so many beach there and we interesting!!!
Perjalanan 9 jam with economic train to go to Banyuwangi its still so long time because tempat duduk kereta ekonomi yang lumayan tipis bikin bokong terasa lebih sakit dari biasanya, maklum lah anak kos liburan dengan biaya yang super hemat, dengan harga tiket 65 ribu yang penting bisa nyampai ditempat yang dituju.
Berbekal pop mie dan aqua secukupnya yang penting perut gak teriak-teriak, akhirnya nyampe Banyuwangi jam 11 malam, dan dianter lah kerumah teman kita ini. Gak banyak basa basi langsung pada tepar (bahasa khas kalimantan yang artinya tidur) semuanya, paginya kita ready dan berangkat ke Bangsring Breeze. Its so first experience buatku karena emang terlahir dari keluarga yang gak begitu hobi piknik, jalan-jalan, atau semacamnya. Snorkling jadi kegiatan yang seru parah karena emang laut banyuwangi so wonderful , isi-isi laut jelas banget keliatan dari balik kacamata renang yang aku pake. Berenang sampai ke tengah laut dan nikmatin semua yang Tuhan sajikan dengan perfect nya buat aku sadar kalau surah Ar-Rahman memang dibuat berdasarkan kenyataan yang amat sangat, Indonesia aja begini gimana luar negeri? Oh Tuhan, bantu aku kesemua negeri di dunia ini, Aamiin yaa Rabb. But emang laut Indonesia kan super keren yaa, aku aja yang baru bisa explore sekarang.
Ngabisin waktu seharian di Bangsring Breeze cukuplah bikin kita yang haus piknik ini terobati, karena perjalanan ke rumahnya temen kita ini lumayan jauh dari BB (Bangsring Breeze) bikin kita mikirin yang makin ngaco dijalan pulang.
"Bali kayanya asik rek?"
Wedeh ide aplagi ini, karena kenekatan yang nekat banget so kita rencanain besok malam ke Bali, dengan modal duit pas-pasan dan bensin mobil yang Insya Allah akan kita perjuangkan bersama.
WELCOME TO BALI!
Malu-maluin gak sih sudah umur 18 tahun baru pernah ke Bali, Kota di Indonesia yang paling banyak menarik turis mancanegara. Maklum lah jadi anak Kalimantan super sangat terbatas untuk jalan-jalan kemanapun karena terbatasnya jarak.
Bedugul jadi objek yang pertama kita datengin, kabut tebel masih nyelimutin bedugul pagi ini. Sumpah dingin banget tapi seru karena bisa lihat Objek yang ada di uang 50 ribuan didepan mata langsung. Lumayan...
Next kita ke Pandawa Beach, Nah ini baru pantai beneran. Kerenlah, ombaknya asik buat surfing dan matahari yang cukup nyengat sukses buat kulit yang sudah cokelat ini makin cokelat lagi.
and then ini waktu yang pas banget buat lanjutin perjalanan ke Pantai Kuta. Yang jadi pantai paling sering aku dengar di lagu-lagu, sering baca di buku-buku, dan ternyata aslinya Out of my expectation. Ternyata Biasa aja, malah lebih mirip Pantai amal kalau didaerahku, ya bedanya di Kuta banyak turis yang berjemur dan pakai bikini. But Recomended lah. Kita juga ngelewatin tol terpanjang se Asia Tenggara di Tol Nusa Dua, and its so amaze karena aku mikir gimana cara buat tol sepanjang ini diatas laut sedalam ini? yaa itulah karena kekuasaan Allah swt yang menciptakan sesuatu untuk bisa menciptakan sesuatu.
okey, sekian cerita singkat yang sebenernya lebih panjang lagi kalau aku jabarin detailnya. Yang pasti after ngabisin waktu 24 jam literally tanpa mandi bener-bener gak mandi akhirnya kita balik ke Banyuwangi dan besoknya balik ke kota kita untuk istirahat dan menyadari kalau liburan kali ini cukup Out of the box :D
JFYI, perjalanan ini sudah satu tahun hampir dua tahun lalu dan cuma lagi iseng aja buat nulis dan bisa aku baca 10 20 30 tahun lagi kala mengingat masa muda jadi hal paling lucu nanti. Maafkan foto-foto dengan kualitas gambar yang tidak begitu baik, percayalah beberapa gambar diambil dengan gopro keluaran jadul, its not about pictures but memories (ngeles ajasih).
HALLO! IT'S ME
So long time no see yaa..
setelah membaca ulang entri-entri yang pernah aku publish di blog yang gak sengaja jadi tempat curhat ini, nampaknya blog ini harus ada pembaruan and then...
Aku bakal nulis tentang kota-kota yang pernah aku kunjungin selama merantau dua tahun ini, tentang padanganku tentang apa aja yang lagi marak, dan beberapa cerpen kontribusiku di beberapa ajang, for the first kita perkenalan dulu yaa..
Aku, bisa kalian panggil Ica, panggilanku jaman SMP dulu. sekarang sudah semester empat di salah satu perguruan tinggi swasta di jawa timur, mengambil jurusan kesehatan dengan kondisi yang amat minim untuk belajar eksak bikin aku harus melarikan jiwaku ke menulis, membaca, traveling, singing, and another absurd daily activity.
Jadi, aku bakal nulis tentang apa aja yang mau aku tulis dan selamat menikmati
And
WELCOME~
setelah membaca ulang entri-entri yang pernah aku publish di blog yang gak sengaja jadi tempat curhat ini, nampaknya blog ini harus ada pembaruan and then...
Aku bakal nulis tentang kota-kota yang pernah aku kunjungin selama merantau dua tahun ini, tentang padanganku tentang apa aja yang lagi marak, dan beberapa cerpen kontribusiku di beberapa ajang, for the first kita perkenalan dulu yaa..
Aku, bisa kalian panggil Ica, panggilanku jaman SMP dulu. sekarang sudah semester empat di salah satu perguruan tinggi swasta di jawa timur, mengambil jurusan kesehatan dengan kondisi yang amat minim untuk belajar eksak bikin aku harus melarikan jiwaku ke menulis, membaca, traveling, singing, and another absurd daily activity.
Jadi, aku bakal nulis tentang apa aja yang mau aku tulis dan selamat menikmati
And
WELCOME~
Langganan:
Postingan (Atom)
Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)
Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...
-
Yang dicari hilang, yang dikejar lari... Sedang berada di kantor, di hari sibuk. Mencoba mencari sela kesempatan untuk bermanja dengan diri...
-
Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...
-
Hati yang dulu berlayar, kini telah menepi.... Penantian yang sejak dulu sunyi, kini telah dihampiri.... Pertemuan dan perkenalan singkat ...
