Rabu, 02 Agustus 2023

Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)

 Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah jingga dan teduh, tak lagi menyala-nyala seperti dahulu. 

25 tahun penuh kisah dan ke-semarak-an. Mengejar dan mencari jati diri, unjuk skill dan kemampuan, adu prestasi, meraih popularitas, seleksi sahabat dan kawan, tak lupa penjaringan jodoh juga. Aku yang dahulu adalah pribadi menyala-nyala nan semarak, rasanya sangat berbeda dengan aku yang hari ini. tidak ada lagi sibuk ikut organisasi a-z, pulang malam karna sibuk buat event fakultas, sibuk ikut lomba , ikut kegiatan kampus di alam, diruangan dimanapun. Sibuk cari jaringan, memperluas pertemanan, gak ada satu haripun yang tidak produktif. Buka mata harus langsung produktif haha. Dimulai dari usia SMP yang dituntut untuk pinter (peringkat 1-10) dikelas unggulan, biar bisa dapetin yg dimau (Blackberry, laptop, liburan ke jawa) Alhamdulillah bisa melewati masa SMP dengan tidak baik-baik saja hahaha. dan memutuskan untuk gak lanjut disekolah biasa lagi. yap, Pesantren jadi pilihan. Walaupun akhirnya malah harus strugle di Malang karna batal mondok dn lanjut disekolah SMA biasa yang zuper ngajarin arti hidup sederhana, 180 derajat dari circle ku waktu SMP. 

di SMA punya teman-teman yang lebih sederhana buat aku paham arti toleransi dan gak memandang apapun dari status sosial, kecerdasan , ilmu dan lainnya. kita semua sama, itu intinya. di SMA mulai pede untuk unjuk diri. Ikut banyak ekskul dan jadi pengurus inti OSIS juga. Bisa aktualisasi diri, sosialisasi yg pure, punya teman-teman yang tulus, prestasi akademik dan non akademik yang seimbang. Alhamdulillah. setelah SMA memilih merantau dan Alhamdulillah bisa lebih lagi meng aktualisasi ilmu yang sebelumnya sudah didapatkan di SMA. Study banding ke Surabaya, Yogya dan Solo. Semakin mengembangka sayap di dunia per-BEM-an. Alhamdulillah walaupun sibuk Ku-Ra Ku-Ra Kuliah Rapat Kuliah Rapat. Alhamdulillah CUMLAUDE. IPK 3,51 lulus 3 tahun 6 bulan. Huah after long struggle, much tears, etc :D

Daftar kuliah sendiri,pergi tes sendiri, Alhamdulillah masih ada teman-teman sekota yg juga rantau ke malang. jadi gak sendiri banget. Setelah semua kesendirian, akhirnya lebih sendiri lagi saat diujung-ujung perkuliahan, PPL beda kabupaten, harus bolakbalik tiap akhir pekan. Alhamdulillah grab sudah masuk dimalang, di tahun 2019 itu hahaha. Penelitian PP Mlg-Kediri motoran tiap akhir pekan. Alhamdulillah lancar semua, berkah berkah. 

Alhamdulillah lulus S1 langsung lanjut profesi, tes di malang, tes juga di Solo. dan dua-duanya lulus. akhirnya pilih di Malang, dan stuggle kembali. Kesyukuran lagi punya partner profesi yang supportif. Bisa bantu aku yang agak kurang pinter praktek ini. Punya lahaan praktek yang isinya orang baik semua, baik baik banget, ga pernah biarin kita kita kelaperan, kemiskinan dan kemelaratan hahaha. Alhamdulillah walaupu harus pindah-pindah kos karna pindah kota juga, tp uang sarapan dan makan siang biasanya kantong kita aman :D

Qadarullah di Maret 2020, badai Covid merebak di Indonesia. dan kita semua dipulangkan ke daerah masing-masing, untuk lanjut profesi via online. Alhamdulillah. 

Sambil kuliah online akhirnya nyambi jualan juga. Coba buka frozen food dan laris sampai kita bisa ikut HALAL MUI dan pelatihan lainnya. Walaupun sambil masak dan kuliah tetep jadinya ga masuk ke kepala ilmu kuliahnya hahaha, dan sering lupa absen juga. Selain jualan frozen, masak, ke pasar, kuliah tiap hari,  aku  juga ngisi hari-hari covid dengan kursus nyetir, jaga nenek yang sakit, dan berpuas dengan diriku sendiri. Kalau dipikir-pikir, rasanya momentum saat itu, adalah puncak aku merasa bebas dan tenang tertinggi dalam hidupku. Satu, karna aku gak kerja terikat, bebas bangun jam berapa, bebas mau tutup atau buka, bebas mau lembur atau mau free dulu. Pokoknya bebas. Bisa koordinir karyawan, wawancara karyawan baru, cek nd ricek dapur, mikirin kemajuan cafe dan usahaku, sambil kuliah juga tetep jalan. itu bener-bener dreamy aku banget sih. Masya Allah

dan di bulan Juni 2020 setelah 3 bulan berkutat hanya dengan dapur - kuliah online- dan customer. akhirny aku mulai kenal Masjid, kenal paskas, kenal infaq beras dan mulai nyaman banget didalamnya. abcdefg finally ketemu jodoh disana dan nikah di desember 2020. Bener-bener turning point in my life itu di tahun 2020. Pertama kali bisa punya salary sendiri, bisa handle banyak hal sendiri, bisa ambil keputusan besar yaitu nikah diusia 23 tahun. Alhamdulillah. di tahun 2021 pertengahan, aku mulai aktif berkantor, pergi pagi pulang sore. ya hidup berubah, karena gak sebebas dulu, semuanya diatur. 

Alhamdulillah cita cita sejak usia 21 tahun "umroh" Alhamdulillah bisa tercapai di usia 25 thn. Alhamdulillah bisa pergi umroh sekeluarga sebulan full ramadhan, kesyukuran tertinggi yang terus terucap. Terimakasih ya Allah untuk hadiah terindah ini..... 

Bismillah selamat menyambut hari-hari penuh kebahagiaan berikutnya, semoga semuanya semakin baik untuk hal-hal baik. Aamiin 













Jumat, 12 Mei 2023

Besarkah Cinta?

 Cinta dewasa kelihatannya sederhana ya. kelihatannya hanya perihal mempertahankan hubungan, yang muaranya akan diupayakan bersama. Ternyata setelah dilalui, cinta dewasa bukan lagi perihal mempertahankan saja, tapi bagaimana membuat segalanya menjadi lebih ringan dilewati bersama. 

Cinta dewasa bukan lagi sekedar tentang canda tawa, bukan lagi tentang menjalani hobi bersama, pergi kuliner kemanapun sesukanya. Semuanya lebih dari itu, bagaimana menyatukan frekuensi harapan, memahami keluarga besar masing-masing, menyeimbangkan cita-cita, saling mendukung keinginan satu sama lain, menurunkan ekspektasi dan selalu mencoba mengerti. Karena hakikat sepasang adalah berjalan beriringan. Melangkah bersamaan menuju cita cita tertinggi, syurga. Memahami kondisi kelurga yang berbeda, kebutuhan yang berbeda, prioritas yang tak lagi sama, apalagi sejak awal perbedaan sudah menjadi pondasi hubungan, maka bisa dipastikan separuh perjalanan akan dilewati dengan perjuangan menyamakan perbedaan. Bukan, ini bukan lagi sesederhana tentang kita.ini tentang orang banyak, tentang mimpiku, tentang mimpimu, dan kemana bahtera ini akan kita layarkan. 

Terkadang rasanya seperti bisa saja sendiri, padahal itu hanya fatamorgana dari keegoisan yang dibalut rasa mandiri. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana tetap melanjutkan perjalanan, disamping berbagai rintangan yang harus dilewati bersama. Percaya bahwa tidak ada sulit yang selamanya, tidak ada susah yang tak dibarengi dengan senang setelahnya... percaya... terus percaya. 

Setiap kisah punya masing-masing ujiannya, setiap kisah punya bahagia yang tak terdua kapan datangnya. Teruslah berjalan diatas ketaatan, walau terkadang ada lelah yang sulit dijelaskan, ada sedih yang tak bisa diceritakan, rentang kisah punya masanya sendiri-sendiri. 

Akan selalu ada malam, agar kita paham betapa indahnya apa apa yang terang. akan selalu ada patah, agar kita paham betapa kesyukurannya arti tumbuh dan akan selalu ada yang padam agar kita paham bagaimana menyala-nyala terkaadang sangat dibutuhkan.

Sampai disini paham? bahwa hidup bukan hanya soal senang. Segalanya adalah perjalanan yang sudah digariskan 

Kamis, 03 November 2022

Tanpa Judul

Alhamdulillah.....

Sekali lagi kesyukuran tiada tara selalu terhaturkan pada Allah Subhanahu Wata'ala atas segala rezeki yang Allah berikan. Bisa melewati rumah tangga penuh kisah up and down dua tahun ini. Rezeki dalam setiap prnikahan tentu berbeda-beda. Rezeki anak kali ini belum Allah takdirkan untuk kami, tapi Insya Allah aku yakin reeki ini akan Allah hadirkan segera untuk kelurga kecil kami di waktu yang tepat, sesuai kadar kesanggupan kami menurut Allah.

Rasanya sangat malu apabila hanya karena satu rezeki yang Allah tunda, membuat kami tidak bersyukur, dan membandingkannya dengan pasangan lain, yang jauh lebih mudah mendapatkan keturunan. Aku yakin, Allah maha tau kapan waktu yang tepat. Tidak akan mampu kami menukarnya dengan segala anugerah yang sudah Allah berikan selama ini. Anugerah kecukupan rezeki, anugerah harmonisnya rumah tangga, anugerah orangtua yang sehat, saudara seiman seislam yang selalu berjuang bersama dalam dakwah, pekerjaan halal yang menyenangkan, berbagai kebaikan lainnya, yang tak lain adalah bentuk rezeki juga.

Naluriku sebagai wanita yang kadang selalu ingin dimenangkan, merasa bahwa sejatinya perempuan adalah bisa hamil, melahirkan , dan mengasihi anaknya. Padahal aku yakin, bahwa takdir Allah sudah pasti yang terbaik, bagaimanapun takdir itu.

Ya Allah... tanamkan rasa ikhlas dihatiku untuk menerima setiap ketetapan dariMu, temani hamba selalu dalam menjalani kehidupan sementara ini, jagalah hamba dan keluarga untuk selalu istiqomah dijalanMu. Undang kami ke Baitullah ya Allah, ke Makkah, Madinah, dan Masjidil Agsha

Aamiin Alllahumma Aamiin

Jumat, 09 September 2022

Jeda #CoffeeBreak23

 Yang dicari hilang, yang dikejar lari...

Sedang berada di kantor, di hari sibuk. Mencoba mencari sela kesempatan untuk bermanja dengan diri sendiri. Sudah lama sekali ternyata tidak menyentuh blog ini. Berada di fase berdamai dengan diri, terkait segala cita yang kadang tak sesuai ekspektasi. Kadang melebihi, kadang jauh sekali. Menjalani hal yang dianggap baik dan mulia oleh masyarakat dan orang kebanyakan, ternyata punya bebannya sendiri juga. Ah masa iya??

Jawabannya Iya, sebagai manusia kita sadar bahwa  banyak hal-hal yang tak sejalan antara logika dan kenyataan, keseimbangan dan kesesuaian. 

terbebani dengan stigma dan pandangan, dipaksa untuk terus sempurna tanpa celah dalam menjalani segalanya. 

Hati rapuh, jiwa lemah. Ibadah jauh dari kata sempurna. keduniaan seringnya ingin ditempatkan diurutan pertama. Merasa seperti berada dalam jeruji emas permata, berharga tapi tak bebas. Sangat merindukan kehangatan kawan seperjuangan dan nyamannya menetap ditempat yang sekalipun bukan rumah. Tempat bertumbuh, mencari, menciptakan image diri. 

Nafas nyaris berhenti di tenggorokan saja, kandungan karbondioksida nya lebih tinggi daripada oksigen yang ingin dihirupnya. Definisi berjuang tanpa amunisi. Kosong, ketakutan dan rasanya ingin mengalah saja. Tapi tak pernah ada pilihan mundur atas setiap amanah. 

Mencoba untuk terus maksimal, tapi perang tanpa amunisi sanggup berapa lama?

Rasanya butuh jeda, berhenti sejenak dibawah pohon diatas bukit penuh bunga. Melihat semuanya dari kejauhan, agar semua jadi lebih sederhana. 

cita cita masa remaja ternyata jadi indah sekali untuk dikenang. dikala diri bebas berekspresi ingin menjadi apa saja. bebas tanpa batas. 

Sejatinya manusia adalah pencarian tanpa henti.

Sekalipun banyak jiwa yang mati didalam jeruji permata, setidaknya lebih banyak jiwa yang bebas terbang tinggi, lepas menjadi diri sendiri.

Jumat, 05 Februari 2021

Kini telah menepi #Rizka&NurStory

Hati yang dulu berlayar, kini telah menepi....

Penantian yang sejak dulu sunyi, kini telah dihampiri....

 

Pertemuan dan perkenalan singkat yang mengantarkan pada pernikahan karena mengharap ridho Allah. Terhitung tepat dua bulan sudah aku resmi menjadi seorang istri dari pria yang pertama kali kutemui di Masjid penuh cinta, masjid modern hujan assalam. 

Alasan pandemic lagi-lagi menjadi hikmah besar untukku, dipertemukannya aku dengan jodoh yang Insya Allah sehidup sesurga.

Pertama kali bertemu dibulan Juli karena sama-sama menjadi peserta “Seminar Jalan Hijrahku” kemudian benar-benar bertemu di pengantaran beras seri 17 diakhir bulan Juli. Waktu itu sudah notice dan berpikir “Siapa orang ini?” walaupun pada akhirnya hanya sebatas itu. Semakin lama semakin sering terlibat dalam berbagai kegiatan komunitas dan pertama kali ngobrol di Peresmian Pondok Quran Hujan Assalam, ingat sekali waktu itu ba’da ashar hari jumat di awal bulan Agustus.

Dari obrolan singkat itu barulah aku tau kalau ternyata abang adalah sepupu dari iparnya iparku, wah ribet, intinya circle nya masih disitu-situ aja. First impression yang menarik dan jujur rasa ketertarikan itu mulai muncul. Segala hal tentang dia mulai bermain dikepalaku, aku tau ini salah dan tidak bisa dibiarkan. Dalam sujud aku selalu meminta agar Allah menjauhkan aku dari hal yang sia-sia terutama perihal cinta. Di pertengahan bulan Agustus, pertama kalinya abang chatting via whatsapp untuk mengingatkan ketikanku yang salah di grup pengurus.

Qodarullah, manusia biasa yang banyak salah ini pernah hanyut dalam komunikasi via chat yang ternyata sangat berdampak pada zina hati, berharap pada manusia, walaupun isi chat hanya sebatas diskusi tentang pekerjaan tapi tidak bisa dibohongi kalau rasa dihati ikut meluap-luap.

Tiba waktunya aku merasa semua ini harus disudahi, kami sama-sama sedang berhijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sedang sama-sama bergerak dijalan dakwah, sama-sama pendosa yang ingin memperbaiki diri. Tapi kenapa masih belum mampu membatasi pergaulan antar lawan jenis. Tepat di tanggal 23 September kuputuskan untuk melarangnya komunikasi langsung maupun tidak langsung denganku, untuk benar-benar membatasi segala bentuk pertemuan dan komunikasi walaupun soal pekerjaan dan tugas di komunitas. Dia mengiyakan dan kami berhenti komunikasi.

Sedih dan bingung harus bagaimana sudah pasti aku rasakan. Aku tidak tau bagaimana perasaannya, aku berpikir bahwa perasaan ini hanya menyiksa diriku sendiri apalagi rumor yang beredar di teman-teman komunitas kalau abang sedang persiapan untuk mengkhitbah salah satu akhwat di komunitas yang merupakan teman baikku.

Jujur aku takut untuk patah hati lagi, apalagi peran kami di komunitas ini lumayan banyak dan aku yakin akan sangat berpengaruh jika aku tidak bisa mengkontrol perasaan ini. Setiap sujud di 1/3 malam aku selalu meminta agar Allah bantu uruskan perasaan ini, aku serahkan seutuhnya jalan hidup dan takdirku pada Allah, sesakit atau sesedih apapun pada akhirnya nanti.

Sempat vakum tidak ke masjid sekitar 3-4 hari karena ingin menenangkan diri. Di tanggal 28 September bencana alam terjadi di kota kami, membuat Paskas harus segera bergerak. Dalam hati masih ingin dirumah aja, tapi keadaan sudah tidak memungkinkan untuk terus hanyut dalam sedih yang diciptakan sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut terjun ke lokasi bencana dan menyiapkan berbagai bantuan, pastinya diawali dengan doa “Ya Allah jangan ada dia ya Allah”.

Perkataan ‘jangan’ ini ternyata menjadi doa yang berkebalikan, abang hadir tepat didepan mataku. Membantuku menyiapkan nasi bungkus waktu itu. Walaupun tetap tanpa bicara, dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Qodarullah, ternyata abang diam-diam mengajak kaka ku sekaligus sebagai pemimpin dan kawannya untuk berbincang  masalah hati, menyelesaikan keresahan hatinya. Dan Alhamdulillah, tepat di tanggal 1 Oktober abang datang melamar sendiri. Tanpa sepengetahuanku, hanya sempat menelefon sekitar 5 menit dihari sebelumnya untuk menyampaikan hal yang aku tidak tau apa maksud dan arah pembicaraannya.

Allah maha cinta, prasangkaku selama ini ternyata semuanya salah. Akulah akhwat yang sebenarnya ia tuju tapi tidak pernah ada yang tau. Bahkan sejak abang melamar di tanggal 1 itu pun teman-teman komunitas tidak ada yang tau. Alhamdulillah semua dilancarkan, papah mamah kakak dan kaka iparku menyambut baik kedatangan abang. Aku sangat bersyukur Allah memudahkan semua urusan kami. Papah minta waktu dua minggu agar kami ta’aruf lebih dulu, pakai CV dan diskusi tentang visi misi pernikahan. Alhamdulillah setelah lamaran itu barulah aku mulai mencoba mengenal keluarganya, lingkungan kerjanya, dimana dia biasa menghabiskan waktunya. Semuany baik, respon keluargaku dan keluarganya pun sangat baik dan mulus. Lamaran resmi pun diadakan di tanggal 15 Oktober 2020.

Sulit dijelaskan apa yang aku rasakan saat itu. Bahagia, haru, dan sangat bersyukur Allah hadirkan laki-laki yang kukagumi sejak awal untuk datang memintaku pada orangtuaku dengan cara yang Allah ridho. Tanpa perlu pacaran, tanpa perlu kenal lama, hanya dengan kuasa Allah semuanya bisa terjadi dengan sangat indah.

Semua persiapan pernikahan berlangsung mulus walaupun aku harus memajukan akad sebulan lebih cepat dari jadwal awal karena UKOM Profesi yang diajukan mendadak. Pernikahan berlangsung tanggal 4 Desember 2020 di Masjid Modern Hujan Assalam, Masjid yang penuh cinta dan airmata perjuangan. Dua hari setelah menikah kami terbang ke Malang karna aku harus Ukom, Alhamdulillah waktu dua minggu disana menjadi waktu yang tepat untuk masa pdkt kami, ditambah lagi diberi hadiah nginap di villa yang mewah milik tante. Masya Allah, Allah maha cinta.

Tanggal 12 Januari 2021 kami melaksanakan resepsi pernikahan di Hotel Monaco. Hadiah terindahnya adalah acara kami dihadiri oleh gurunda Ust Rendy Saputra dan Kang Edes selaku para petinggi Paskas. Alhamdulillah segala kesyukuran kuhaturkan untuk perjalanan cinta ini.

Pandemi yang membuat aku harus pulang ke Tarakan, walau dengan berat hati tetap kuyakini ini semua akan memberikan banyak hikmah. Dan ternyata benar, hikmah menemukan jodoh yang selama ini kunanti.

Doakan kami yaaa kawan semuanya, bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, menjadi keluarga yang dirindukan surga. Aamiin Allahumma Aamiin.

 

 

 

 



Selasa, 03 November 2020

Santri Pemegang Amanah

 

Santri Pemegang Amanah

By: Rwp

 

Aku terbangun, detak jantungku berdegup cepat tidak seperti biasanya. Kuraba seluruh kasurku dalam kegelapan, mencoba mencari titik terang. Kupencet tombol home, jam menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Mataku terbuka lebar, kulihat ada sosok disampingku. Dia tersenyum padahal sedang tidur, senyumnya tampak karena kilat dilangit sendu subuh ini masuk menyelinap lewat tirai jendela kamarku. Aku mengambil nafas sebentar, tanpa sadar lamunanku mebawa pada ingatan satu tahun silam.

Pukul 2 dini hari. Kubuka laptop putih yang sudah setengah pakai ini, mencoba melanjutkan skripsi yang sejak beberapa bulan terakhir menjadi kudapanku sehari-hari. Hari ini adalah hari penentuan atas hasil kerja kerasku selama 3,6 tahun ini, seminar hasil. Kantuk ku tidak tertahan, konser tulus tadi sukses membuatku tergoda untuk menonton konser lagi, bahkan disaat-saat genting begini. Kuaduk milo panas yang berbau sangat nikmat, demi menjaga mata agar tetap terbuka. Kata demi kata kurangkai pada part ucapan terimakasih, “Terimakasih pada Allah swt, terimakasih kepada mama dan papa…” Terimakasih? Tanyaku dalam hati.

Menjadi anak rantau diusia 17 tahun, dengan segunung mimpi dan cita-cita duniawi yang sudah kubangun sejak remaja membuatku sangat antusias untuk berpetualang. Menjajaki setiap pahit getir suka duka kehidupan, tentunya ditanah orang, tanah jawa yang kaya akan ilmu dan adab. Memilih merantau apalagi untuk kuliah bukanlah hal yang main-main, karena aku adalah anak perempuan satu-satunya, dijaga bak mutiara dalam cangkang nya, disayang, dilindungi, bak permaisuri di istananya, tapi aku memilih untuk keluar dan mencari jalanku sendiri. Berbekal ingatan kata-kata motivasi yang pernah disampaikan ustadzah saat aku masih menjadi calon santriwati gontor kala itu. “Anak panah tak akan pernah sampai sasaran jika tak melesat dari busur panahnya, singa tak akan dapat mangsa jika tetap berada dikandangnya, air yang mengalir akan jernih daripada terdiam dan keruh menggenang”. “Tinggalkan kampung halamanmu, carilah pengganti kerabat dan kawan”. Itulah mantra yang kupegang, bahwa merantau ini tidak boleh sia-sia , akan kucicipi semua bentuk kehidupan, mencari titik akhir dari pencapaian.

Banyak kemudahan dan suka cita yang Allah berikan selama merantau, ditambah lagi fasilitas yg mumpuni dari kedua orangtua. Uang bulanan yang cukup, kos yang nyaman full facility, serta kendaraan pribadi yang bisa dibawa kapanpun. Masya Allah, kehidupanku sebagai anak rantau dari Kalimantan yang hidup di tanah Jawa terbilang cukup. Cukup untuk jalan-jalan, dan bersuka cita kapanpun aku mau. Walaupun tradisi makan indomie akhir bulan juga selalu kurasakan apalagi kalau terlalu hedon jalan-jalan.

Aku mengikuti banyak sekali kegiatan kampus, internal maupun eksternal. Tidak bisa juga dibilang aktivis, tapi cukuplah disebut kura-kura (kuliah rapat – kuliah rapat). Aku sering menjadi volunteer berbagai kegiatan, dari dalam kampus maupun diluar kampus. Menjadi pengurus Badan Ekesekutif Mahasiswa Fakultas ku selama dua tahun. Mengikuti berbagai lomba kepenulisan, dan sempat mengelola bisnis kecil-kecilan untuk tambahan uang saku. Ditengah kesibukanku yang padat, sebagai mahasiswa aku tetap punya waktu untuk menyalurkan jiwa muda kala itu. Ngopi sampai tengah malam, berkedok membahas masa depan organisasi, padahal laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa batasan. Berlibur ke berbagai tempat hiburan dikota Batu, dari yang berupa taman hingga museum, bergabung beramai-ramai dengan teman-teman kampus dan organisasi. Pergi ke mall, taman, ke café dan tongkrongan terbaru. Ke semua bioskop yang ada di kota ini, menonton berbagai film yang bahkan sedikit peminatnya. Keluar kota sudah jadi hal yang biasa, hanya untuk sekedar mencicipi kulinernya dan foto-foto di spot terkenal. Surabaya, Yogyakarta, Bali, Kediri, dll adalah kota yang pernah kukunjungi kalau ada libur yang sedikit panjang. Nonton konser adalah aktivitas favoritku, dari Tulus, fourtwenty, payung teduh, Raisa, Mocca, Kahitna, semuanya kutonton, mahal atau murahnya tiket tidak pernah jadi masalah selagi itu konser. Kegiatan alam juga favoritku, ke berbagai jenis pantai di dataran Jawa Timur yang medan nya sungguh menantang, ke gunung, snorkeling di laut daerah Banyuwangi. Apapun kulakukan untuk membeli kebahagiaan, untuk melewati masa muda, yang ternyata fana.

Disaat semua kesenangan duniawi sudah kucicipi, disaat aku sudah berada diakhir-akhir masa pencarian, aku mulai berpikir.

“Apa yang sebenarnya kucari?”

“Apa aku benar-benar bahagia selama ini?”

“Apa gemerlap kota sudah bisa membeli kebahagiaan untukku?”

“Apakah aku sudah bertemu titik yang selama ini jadi tujuanku? Titik ketenangan itu?”

                Belum. Aku belum benar-benar menemukannya. Aku bahagia tapi hampa. Segala upaya yang kulakukan, menabung, bisnis kecil-kecilan, ikut lomba dan hadiahnya cukup lumayan, semua itu habis hanya untuk kepuasan pribadiku, kenikmatan foya-foya yang sementara, yang entah kemana muaranya. Aku belum pernah sampai pada titik yang kucari, padahal jalan ini sudah hampir sampai pada ujungnya, sebentar lagi aku akan wisuda dan mendapat gelar sarjana. Gelar yang banyak dikejar manusia, tapi tak kunjung kutemukan maknanya. Tepat 3 tahun 6 bulan, aku lulus dan mendapat gelar itu. Dengan IPK 3,51 yang berarti aku lulus dengan predikat cumlaude. Mimpi yang kutuliskan sejak pertama aku masuk kuliah.Tercapainya mimpi itu membuatku sangat bersyukur, tapi tetap tidak membuatku menemukan titik tenang yang kucari.

                Pencarianku belum usai, aku melanjutkan pendidikan profesi tapi dengan kematangan pemikiran yang lebih dalam dari sebelumnya. Kali ini tidak ada kata main-main, aku akan serius dan mencoba maksimal untuk apa yang kutempuh. Enam bulan profesi di berbagai rumah sakit di Jawa Timur, buat aku banyak belajar tentang apapun. Bertemu dengan pasien yang beragam dengan latar belakang yang berbeda-beda, didaerah yang punya kebiasaan yang beda-beda pula, membuatku belajar tentang kehidupan dan bagaimana memaknainya. Sampai di bulan maret 2020, wabah covid19 masuk ke Indonesia. Dengan berat hati kampus memulangkan kami kerumah masing-masing karena keadaan sudah sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan dinas di rumah sakit bagi mahasiswa seperti kami. Kepulanganku hari itu benar-benar tanpa persiapan, kupikir wabah ini hanya sebentar, tidak lebih dari dua minggu. Aku hanya membawa dua pasang baju, dua lembar jilbab, makeup seadanya, bahkan laptop putih yang isinya lebih penting dari apapun itu, kutinggal begitu saja diatas meja belajar, “Ah Cuma dua minggu” pikirku cuek. Kata “Cuma” tadi terus berlanjut hingga hari ini.

                Berbulan-bulan di kampung halaman tanpa melakukan sesuatu yang berarti buat aku overstress. Alhamdulillah di bulan April saat bulan puasa, aku membangun bisnis bersama kakak dan temanku. Laukfita, yang Alhamdulillah bisa berkontribusi untuk masjid. Bisnis ini masih benar-benar kami rintis, berharap terus berkembang dan meluaskan kebermanfaatannya. Selama pandemic dan hanya berada dikampung halaman buat aku kembali menemukan apa yang selama ini hilang. Kesempatanku untuk berbakti pada orangtua, pada nenek, dan kembali hidup normal seperti Rizka yang sebenarnya. Tidak hobi nongkrong, lebih banyak menghabiskan waktu dirumah, melakukan kegiatan produktif saja. Sesaat sebelum aku pulang ke Tarakan, aku sudah sangat yakin bahwa wabah ini, kepulangan ini akan membawa hikmah besar diakhir nanti, hikmah yang akan sangat kusyukuri, walaupun aku belum ada gambaran untuk hal ini, tapi aku yakin pada apa yang aku rasakan saat dipesawat sebelum lepas landas tanggal 18 Maret itu.

                Terus mencari, memohon dan meminta jalan agar Allah kasih ketenangan yang selama ini kucari. Terus minta hidayah dari Allah agar dibukakan pintu hati untuk melakukan hal-hal yang Allah ridhoi. Alhamdulillah kakak menawarkan untuk ikut bergabung di Paskas (Pasukan Amal Soleh) sejak bulan April, tapi Allah buka pintu hati untuk benar-benar ikut baru di bulan Juni. Bahkan sempat terbersit dipikiran “Aku mau masuk paskas kalau benar-benar direkrut seperti yang lainnya, bukan karna kaka ku ketuanya”. Qodarullah, dua minggu setelah berpikiran begitu, Allah kabulkan keinginanku. Diadakan seminar “Jalan Hijrahku” di Bulan Juli, yang juga sekaligus recruitment anggota baru, Masya Allah.

                Sejak saat itu aku benar-benar yakin, bahwa Allah lah tempat pulang sesungguhnya, Dialah sang pendengar segala doa, Dialah sang maha cinta, yang bahkan belum sempat kita pinta pun, sudah diberikannya sesuai kadar kesanggupan kita, Masya Allah. Seminar Jalan Hijrahku ini menjadi awal bertemunya aku dengan orang-orang baik yang mengajarkan banyak hal-hal luarbiasa, yang belum pernah kutemukan disisi hidup manapun.

                Kak Ria, admin paskas yang sangat ramah. Menyambut dengan segala kebaikannya, membuka pintu lebar-lebar untukku yang masih ragu untuk melangkah ke paskas. Diberikannya kenyamanan yang buat aku semakin yakin untuk berada di paskas. Kak Fitri, yang segala ucapan dan tindakannya adalah motivasi dan pembelajaran buatku, peran paling besar dalam keberadaanku di paskas. Dek Firah, adek yang sejak pertama kali ketemu sudah seperti kenal bertahun-tahun lamanya, wanita kuat yang punya prinsip, membanggakan, menjadi inspirasi untukku yang baru hijrah ini. Ka Erni, Ka Cici, Ka Ida, Ka Leny, para emak-emak yang buat aku benar-benar merasa pulang kerumah setiap ke paskas, penyambutan yang hangat, pelayanan penuh kasih sayang, mengajarkan aku bagaimana menjadi sebenar-benarnya ibu bahkan kepada orang yang baru dikenalnya, Masya Allah. Bunda Hariati dengan segala kecerdasan intelektual dan mimpi-mimpi besarnya, gambaran sempurna untuk seorang wonder woman. Pak Saha yang serba bisa, menyediakan apapun yang ia bisa untuk kami semua, jadi teknisi untuk segala hal. Bang Neo, Bang Egra, Bang Faiz, Bang Faisal para bapak-bapak cerdas yang sangat berperan dalam berjalannya program paskas. Kak Dinda, Kak Icha, Kak Ragil, Kak Santi, Kak Kiki, Kak desy para kakak – kakak ku yang menjadi pengayom selama dipaskas, membuat aku merasa punya banyak sekali saudara perempuan, belajar bagaimana cara menghargai dan menyayangi, dengan segala kesabaran dan keramahan mereka menyambutku, anak baru yang masih perlu banyak sekali belajar. Bang Bayu, Bang Melji, Bang Hendra, Bang Ahmad, Bang Azlan, Bang Wahyu, Bang Fandi, Bang Ilham, Bang Agung semua kawan-kawan dan adek-adeku ini juga menjadi inspirasi bagaimana laki-laki yang sebenarnya, bagaimana kerja keras mereka untuk masjid, mengorbankan sebagian besar waktunya untuk masjid. Kaka ku sendiri Pak presiden beserta istrinya, yang menjadi motivasi terbesar untuk bergabung dipaskas, dengan segala kebaikan mereka mau membimbing dan memberikan jalan untuk benar-benar mencari ridho Allah.

 

                Dan yang terakhir, untuk sosok yang Insya Allah akan menjadi imamku, Bang Ahmad Nur. Seorang yang sederhana, jauh dari gemerlap kota yang biasa kuhadapi, apa adanya dan senyumnya syahdu memecahkan segala gundah. Kesederhanaan yang membuatku siap untuk membangun cinta bersama. Insya Allah, engkaulah salah satu hikmah itu, hikmah pandemi dan kepulanganku yang tidak tepat pada waktunya, kepulangan yang awalnya kusesali tapi kini menjadi kesyukuran tertinggi. Pintaku pada Allah agar diberikan jalan menuju ridhoNya, Insya Allah engkaulah jawaban itu. Terimakasih sudah hadir dan memintaku pada orangtuaku. Sejak pertama bertemu denganmu, ada rasa tenang dan keyakinan yang hadir dalam diriku. Aku percaya bahwa jalan kita kedepan akan melewati banyak tantangan, tapi denganmu aku yakin, ridho Allah bisa kita gapai bersama. Semoga kebersamaan kita nantinya bisa menjadi jalan untuk meluaskan kebermanfaatan diri kita,membahagiakan ummat, menjadi sebaik-baiknya pejuang islam, melahirkan peradaban mulia. Aamiin Allahumma Aamiin.

                Aku sangat bersyukur, Allah beri kesempatan untuk berada dibarisan ini, menjadi keluarga besar Santri Pemegang Amanah, bergabung bersama saudara seiman, yang mempunyai misi mulia yaitu menjadi sebaik-baiknya pelayan ummat. Rizka hari ini adalah rizka yang terus belajar, terus memperbaiki diri, agar Allah pakai terus tenaganya untuk mengasuh ummat, agar Allah jaga raganya untuk terus berada dibarisan ini. Terimakasih abang kakak SPA, sudah hadir disaat akhir masa pencarian ini, disaat raga sudah meronta, menangis meminta ampun, menyerah dalam menanggung kerasnya ujian dunia yang sesaat, ujian kesenangan duniawi, Allah hadirkan abang-kakak sebagai saudara tak sedarah dengan misi yang sama. Yang menjadikan dunia benar-benar hanya sebagai tempat singgah, yang memberikan arti kebahagiaan dalam kompleksnya kesulitan hidup yang dialami ummat disekitar kita, yang mengajarkan bahwa berbagi adalah titik ketenangan dan kebahagiaan paling tinggi jauh diatas kepentingan diri sendiri.

                Semoga Allah berikan kesehatan terus untuk abang kakak, keluasan rezeki seluas-luasnya, kemudahan dalam menggapai hajat-hajatnya, diberikan pasangan yang soleh solehah, Allah mudahkan dalam menyempurnakan separuh agama, diberikan keturunan yang soleh solehah beradab berilmu bermanfaat bagi ummat, keluarganya dilimpahkan keberkahan, diberikan keselamatan dunia akhirat, dimatikan dalam keadaan Husnul Khotimah, dan kita jumpe lagi di surgaNya Allah. Rizka sayang abang kakak SPA karena Allah.

                Terimakasih sudah hadir menjadi titik ketenangan itu, kerinduan universal yang tidak pernah berbentuk wujudnya tapi nyata dirasakan. Ini semua titipan sekaligus ujian, kita semua hanya pemegang amanah yang Allah titipkan, semoga amanah ini bisa kita jaga sebaik-baiknya sampai raga terpisah dari jiwanya. Sampai jumpa di Baitullah abang kakak, sampai jumpa di surganya Allah.

 

Minggu, 07 Juni 2020

aku tau kita tumbuh dari kilat badai, aman damainya kehidupan
kutemukan kamu
kau temukan aku
kita berpandang, terbangun


kau sedang menipu

aku tau, kau sedang menipu
mengiris hatimu sendiri
memupuk ego hingga tumbuh setengah mati
kau berlagak lupa padahal pemeran utama
katamu kakimu cukup buatmu berlari paling kencang
padahal kau lupa
dia tak pernah lebih kencang saat terpincang sebelah

kau sedang menipu
padahal badanmu sakit memohon ampun
kau terus saja berlari
padahal garis usaimu sedari tadi kau lalui

kau sedang menipu
berlagak punya rumah untuk pulang
padahal pulang itu tak kau kenal lagi
sejak kakimu kau anggap paling kencang, padahal pincang tak berkekuatan

kau sedang menipu,
badai yang ada dihatimu :)

aku lupa siapa aku

 rengkuh aku,
tepat dipundakmu
biar ku tegap dan tak goyah

lupakan hari itu,
aku lupa siapa aku
istana megah, kereta kencana, sepatu kaca
tak pernah cukup, mengganti pundakmu

kokoh, tegap tanpa ampun
senyum getir melawan kilat badai
pelik hidup sedari lahir

kulihat kau senyum,
dipan menggoyangku..
aku terbangun,
senyummu lenyap.. tergantikan

ayah ibu senyum setengah sabit
melihatku hampir mati, menanggung cinta
dibalik gaun emas
penuh air mata

kucari kamu,
tanpa getir , tak berbalik arah walau sedikit
kau bawa pundakmu
aku lupa siapa aku

Hikmah dibalik covid-19 #CoffeeBreak22

Terhitung sudah 3 bulan libur dan menjalani kehidupan yang beda banget. Covid-19 bener-bener mengubah banyak hal. Semuanya serba dirumah, dan rasanya? hampa sudah pasti :). Kuliah, bekerja, bertemu, belajar, menghibur diri semuanya dilakukan dirumah. Rencana pernikahan, wisuda, seminar, mencari kerja, berkarya, manggung, bertanding, liburan keluar kota bahkan sekedar ke pantai atau ke gunung semuanya batal atau tertunda dengan caraNya. Kesel sudah pasti, bete udah jadi satu, tapi percaya gak sih kalau semua ini udah pasti banget ada hikmahnya. percaya gak?
Aku sih percaya, dan aku yakin ini memang yang terbaik. Kadang ngerasa rugi banget bayar kuliah profesi mahal, yang harusnya praktek di rumah sakit tapi jadi kuliah online aja dari rumah. Percaya gak kalau ternyata Allah tau, aku gak sanggup untuk praktek lama dan pindah-pindah RS selama setahun. Kadang ngerasa, yahh waktu ketemu sama temen-temen kuliah abis deh gara-gara corona, hey percaya gak kalau Allah gak mau aku melakukan hal-hal yang sia-sia karena menghabiskan waktu yang kurang manfaat disana. Duh harusnya aku begini, harusnya aku begitu, harusnya harusnya harusnya. Padahal sudah Allah janjikan bahwa apa yang menurut kita baik bisa jadi buruk menurut Allah, sebaliknya apa yang menurut kita buruk bisa jadi baik menurut Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Masya Allah.
Sekarang tinggal gimana kita ikhlas menerima apapun ketentuan Allah beserta hikmah hebat dibaliknya, percaya deh kejadian saat ini akan menjadi kesyukuran luar biasa untuk kita kedepannya. yang mau nikah semoga semuanya diperlancar dan diberi kesempatan dilain waktu untuk resepsi yang lebih besar, sekarang akad nya dulu aja ya. Yang mau wisuda, gakpapa sekarang wisuda online dulu Insya Allah akan Allah gantikan dengan kejadian hebat lain yang menanti diujung sana. untuk siapapun yang sedang resah dengan segala penundaan ini, sabar ya, lihatlah sisi terang ditempat paling gelap sekalipun :)

Senin, 16 Maret 2020

COVID-19 #CoffeeBreak21

sebagai mahasiswa profesi yang pindah dari rs satu ke rs lainnya, ditengah maraknya covid-19 tentu sebuah ujian yang cukup bikin stase kita pada premature. Kabar kalau semua mahasiswa yang magang di rs ditarik kembali ke kampus sebenernya bikin bahagia dan sedih jadi satu. terhitung sudah delapan bulan aku belum pulang kerumah, ponakan udah pada gede bahkan nambah satu tapi belum pernah ketemu onty nya. mungkin ini yang disebut musibah membawa berkah :'). Banyak dari kita yang milih untuk habisin waktu dengan pulang kampung bersama keluarga, karena libur itu mahal untuk mahasiswa seperti kami:)). 
Covid-19 jadi pelajaran buat kita, untuk menghargai kesempatan dan waktu sehat. Sebenarnya kita gak perlu setakut itu, tapi tetap harus stay safe dan social distancing untuk sementara waktu. Keep calm dan terus berpikiran positif agar imun tubuh juga maksimal membentengi diri, jangan lupa wudhu dan sholat jadi satu kesatuan paling ampuh untuk mencegah si covid ini. berdoa terus ya, tetap semangat!!!

Selasa, 11 Februari 2020

1/4 perjalanan #CoffeeBreak20

Surabaya malam ini tidak sepanas biasanya, sejak sore tadi hujan sepertinya menyelimuti seluruh bagian kota ini. Kamar yang cukup lengang untuk ditempati sendiri membuat aku merasa ruang yang cukup untuk 'me time'. Bulan ini adalah bulan kelima setelah magang diberbagai tempat. Banyak cerita dan pengalaman yang tidak mampu dibeli dengan uang tentunya. Beradaptasi dengan daerah yang baru, teman-teman yang baru, rumah sakit yang berbeda, dan CI yang juga beragam sifatnya. Seru, menyenangkan, bersyukur tentunya bisa diberikan kesempatan oleh Allah memperoleh ilmu dan pengalaman yang luar biasa. Profesi ini lebih mengajari tentang 'hidup' daripada 'materi'. Bagaimana kita menempatkan diri dan melewati semua fase-nya. Lelah? manusiawi bukan? rindu rumah, ingin pulang dan bercengkrama lagi dengan seisi rumah. tapi bukankah ini semua jembatan menemui pertemuan abadi dan perpisahan kekal itu? iya aku paham :). Bulan demi bulan berlalu itu berarti waktuku semakin singkat disini, waktu untuk meninggalkan kawan, kamu, dan kenangan ssshhhh bercanda. Bukankah hidup hakikatnya adalah pergerakan dan perubahan? siapa yang bisa ikut andil mengaturnya?
Lakukan yang terbaik disetiap fasenya, akan ada jalan yang terang diujung sana. Semangat aku ^^

Selasa, 29 Oktober 2019

Sangkar dan alam bebas #CoffeeBreak19

"Kalau ditanya hidup ini untuk apa, kamu bakal jawab apa?"
"Untuk Allah? Untuk mati? untuk kekal di alam setelah ini?"
"Ya semua orang juga tahu soal itu, lebih spesifik, dari hati kamu yang paling dalam"
"Aku hidup ya untuk hidup. Aku sering nanya ke diriku sendiri. Kenapa aku lahir dikeluargaku, kenapa aku lahir dikotaku, kenapa aku sekolah disana, kenapa aku merantau kesini, kenapa aku harus ketemu si ini si itu, kenapa aku harus sedih, kenapa aku harus kecewa, kenapa aku harus ngerasa harus begini dan begitu? pernah sadar gak kalau semua kenapa itu pasti ada karena nya?"
"Kamu rumit ya"
"Bukannya itu yang bikin kamu tetap disini?"
"Kamu pernah berpikir kenapa aku nanya kaya gini ke kamu?"
"Karena kamu tau kalau pertanyaanmu ini akan buat aku sadar tentang alasanku tetap ada disini"
"Aku yakin semua hal ada alasannya, sesepele apapun itu."
"Kadang aku mikir, apa aku sudah jadi anak yang cukup baik buat orangtuaku? jadi ade yang baik untuk kaka ku? untuk kaka iparku? jadi kaka yang baik untuk adekku? jadi tante yang baik untuk ponakanku? jadi sahabat yang baik, jadi mahasiswi yang baik, jadi partner yang baik untuk kamu, bahkan apa aku sudah jadi hamba yang baik untuk Tuhanku?"
"mungkin belum"
"Aku ngerasa belum utuh sebagai manusia, banyak banget hal-hal diluar kendaliku yang aku tahu itu gak sesuai sama mauku. aku punya banyak sekali keinginan, abcdef tapi aku tahu itu bertentangan dengan apa yang orangtua dan keluarga aku mau. menurut kamu, ketika aku milih untuk ikutin orangtuaku, apa itu gak melanggar hak untuk diriku sendiri?"
"apa contohnya?"
"Entahlah, rasanya mimpiku bukan seperti ini. Rasanya sayapku masih harus kukepakkan sendiri. Tapi aku dipaksa pulang, kembali ketempat dimana aku dierami. Kembali ke sangkar hangat dengan makanan berlimpah ruah. sedangkan alam membentang luas adalah impianku. singgah dari satu pohon ke pohon lain adalah hobiku, bertemu berbagai rupa sesamaku dan menjejaki kehidupan  di alam bebas. Bukan berarti aku benci kembali, hanya saja rasanya bukan itu titik pencapaianku."
"bicara soal mimpi ternyata"
"Setiap aku mulai yakin dengan mimpiku, seolah dunia tidak pernah mendukung itu. Apakah hidup ini harus selalu memikirkan banyak hal?"
"menurutku harus"
"Alasannya?"
"Kita, kamu, aku, gak hidup sendiri didunia ini. sekalipun kamu yakin dengan sayapmu, kamu tak peduli ranting pohonmu rapuh dan lapuk, kamu percaya pada sayapmu, aku tau itu. Tapi apa kamu lupa siapa yang mengajarkanmu terbang? lantas kenapa setelah mampu terbang tinggi seolah kau enggan kembali?"
"Aku merasa belum saatnya, dunia ini luas, banyak hal yang harus kusinggahi"
"Ingat, mengikuti dunia tidak akan pernah ada ujungnya"
"Tapi aku setakut itu, aku takut kembali ke sangkar emasku dan lupa caranya mengepakkan sayapku setinggi-tingginya. sudah cukup sangkar emas itu merawatku bertahun-tahun, rasanya sayap ini sudah menjadi hakku"
"Kau timbang lagi, ini persoalan ego, mimpi, ataukah cinta yang ada dihatimu?"
"aku tidak naif, mungkin ketiganya"
"Coba kau pikirkan lagi, jangan egois, ingat itu. jangan terbawa keindahan alam yang kau pikir selamanya padahal sementara juga. apa kamu belum pernah merasakan hujan lebat? angin kencang? bahkan runtuhnya pohon yang kau percaya bisa jadi rumahmu selamanya?"
"ah iya, aku tidak pernah merasakan semua itu. sangkar emasku menawarkan banyak kenyamanan dan kasih sayang yang terkadang palsu. bukan maksudnya berpura-pura, palsu yang kumaksud adalah membuatku terlena dengan kenyamanan dan lupa pada apa artinya perjuangan"
"Kau rumit, selalu"
"

Sabtu, 26 Oktober 2019

Putu Lanang #Blogseries4

"Putu ini masih enak"
"Bukannya selalu enak? rasa yang dulu gak akan pernah berubah" Jawab Alan asal sambil sesekali mencubit putu sedikit demi sedikit.
Putu Lanang di dekar Coor Jesu memang masih sama, bahkan jumlah putu nya pun gak pernah berubah. Rasanya seperti baru saja aku dan Alan ngantri sampai berjam-jam demi dua bungkus putu waktu itu.
"Kadang aku mikir ya lan, kok kayanya waktu bisa jadi secepat ini. Time flies so fast, we have our own way now"
"Ya kalau gak gitu bukan hidup namanya Rev, kita ini cuma pemeran buat cerita yang sudah Allah tuliskan"
"Pernah gak sih kamu berharap waktu bisa berhenti sebentar aja lan?"
"Pernah"
"Kapan?"
Hening, Alan tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya lirikannya yang tajam tepat mengarah kemataku yang daritadi menunggu jawaban keluar dari mulutnya.
"Kamu punya mimpi, aku punya mimpi, semua orang punya mimpi ya lan. Tapi pernah gak sih kamu ngerasa mimpimu dikuasai orang lain yang bukan kamu? gimana ya, kok belibet jadinya. intinya gitu lan."
"iya aku paham maksudmu"
"Pernah gak?"
"Kalau dulu aku punya mimpi bangun semua ini dari awal sampai akhir bareng kamu, susah jatuh senang bareng kamu, dan sekarang kamu milih pergi jauh untuk lupain semuanya. Boleh aku bilang kamu yang pegang mimpiku? boleh aku bilang kamu juga yang hancurin mimpi yang kamu ciptain bareng aku? boleh gak rev?"
Hening. Teringat kenangan bertahun-tahun lalu bersama Alan. Waktu kami masih sama-sama mahasiswa kere yang berharap uang bulanan. Waktu aku sibuk nyelesein skripsi dan Alan sibuk nyari uang tambahan buat nyelesein kuliahnya. Aku yang kemanapun bawa laptop dengan tekad cumlaude waktu itu, Alan yang rela kerja apa aja buat biaya kuliahnya mulai dari driver, ngerental mobil, bagiin brosur dan hal-hal diluar kendali kita berdua.
Sama Alan aku paham, ternyata gak semua hal itu mudah. Aku beruntung lahir dikeluarga yang berkecukupan, bisa biayai kuliahku full tanpa pernah telat. Gimana Alan? yang harus kerja bahkan sebelum dia lulus.
Sama Alan aku paham, hidup bukan hanya tentang senang-senang. Gak jarang aku nemenin dia ketemu custumer yang bentuknya beraneka rupa dan dihadapin dengan cara yang juga beda-beda. Alan, dia masih Alanku dua tiga bahkan empat tahun yang lalu.
"Habisin nih"
"Nggak lan, aku kenyang. ayo pulang, anter aku ke penginapan"

Bersambung~

Minggu, 20 Oktober 2019

Malang malam ini #Blogseries3

Boleh aku bilang kita seperti uapan kopi yang tidak lagi mengepul? 
Kau hidangkan aku tapi tak kunjung kau minum.
Kutau kau resah, tuan.
Hidupmu tak lain adalah tentang perjuangan. Bukankah aku selalu berjanji akan jadi peneman?
Aku atau sepertinya kau yg lupa tuan?
Untuk apa dan seperti apa mimpi yang sudah kita ciptakan.
Kita dingin, seperti malang malam ini.
Kau kalut dengan bebanmu, aku bermain dengan tanda tanyaku.
Aku tau ini bukan lagi hal sesederhana rasa cemburu, rasa tertarik pada orang lain selain kita, bukan, bukan itu.
Ini perihal haluan kita yg nampaknya semakin berlawanan.
Kau bersihkeras dengan kemudi dan petamu, sedangkan aku tetap pada layarku yg menanti angin untuk dibawa kemana, ketempat yang telah lama jadi mimpiku.
Bagaimana kapal kita? Apa aku yg harus pergi dan berlabuh pada kapal yg lain? Atau kau mencari penumpang yang searah dengan tujuanmu? 

Malang malam ini. 

My first magang #CoffeeBreak18

Satu dua tiga, ternyata sudah tiga minggu. Magang di yayasan pembinaan anak cacat buat aku berpikir ternyata begitu banyak kesyukuran yang harusnya kita khususnya aku, setiap hari ucapkan. Jadi salah satu mahasiswi yang dikasih kesempatan magang disini, pasti Allah punya maksud memilihku. setiap hari bahkan setiap saat, kita bisa jumpai bermacam-macam anak berkebutuhan khusus disini. Mulai dari yang terapi, asrama. sampai sekolah. Yayasan Pembinaan Anak Cacat atau umum disingkat YPAC adalah yayasan yang menampung anak-anak berkebutuhan khusus yang akan difasilitasi tempat tinggal, pendidikan, hingga terapi sesuai kebutuhan. Banyak hal yang buat aku kagum, mereka yang sama-sama berkebutuhan saja masih bisa saling menolong dengan keterbatasan masing-masing. Belum lagi melihat orang tuanya yang setia menemani terapi 2-3 kali seminggu. Umur mereka beragam mulai dari bayi hingga dewasa, bahkan ada yang sudah berumur 30 tahun, Masya Allah. Walaupun sudah sedewasa itu orangtuanya terlihat sangat tulus untuk menagantarnya setiap hari ke klinik untuk diterapi, sudah berlangsung kurang lebih sejak dia berumur 5 tahun. Bagaimana mungkin kita yang diberi kesempurnaan secara fisik masih sanggup untuk mengeluh? malu rasanya sama yang menciptakan kita.
Ada juga si kembar, orangtuanya masih muda, sepertinya si kembar anak pertama. Qodarullah mereka berdua diberi kelebihan oleh Allah sebagai ladang pahala untuk orangtuanya. Yang aku heran tidak tampak sedikitpun gurat kekecewaan atau kata keluhan yang keluar dari mulut orangtuanya pada si kembar, kedua neneknya juga ikut datang menemani mereka terapi.

Minggu, 08 September 2019

Vanilla latte #BlogSeries2


Tanganku terasa kaku, mataku tertuju pada jam dinding disudut café ini. Sudah pukul 8 malam, apa malam ini hanya akan menjadi pertemuanku sendiri?. Segelas vanilla latte yang daritadi kuaduk, akhirnya kehilangan uapnya, kini hanya tersisa rasa dingin dan semakin enggan untuk diminum. Mataku terfokus pada pintu masuk café ini, berharap tubuh tegap dan berwibawa itu tidak lupa dimana kami biasa duduk.
Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk berevolusi. Ingatan-ingatan masa lalu kukira tinggal manisnya saja, ternyata aku salah. Pahit itu masih pekat terasa, bahkan kekentalannya tak pernah berubah.
“Dulu kamu selalu menyisihkan nasimu yang masih hangat ke piringku, takut mubazir katamu”
“Dulu kamu selalu minta diambilkan 4 biji kerupuk ditoples bu ratih”
“Dulu kamu selalu bawa tumbler kuningmu kemanapun, katamu biar sehat minum air putih”
“Dulu kamu selalu pesan es jeruk, apapun yang terjadi, di hokben sekalipun :’)”
          Kita yang hari ini masih saja bergelut dengan kata ‘dulu’ sampai lupa sedang berdiri dimana saat ini. Perawakannya tidak banyak berubah, hanya sisiran rambut yang semakin rapi dan baju yang sekarang terlihat lebih formal dari biasanya.
 “kamu gak pernah punya mimpi pakai baju kaya gini tiap hari seingatku lan” sahutku sambal tertawa grumpy kearah Alan.
“Hahaha bener rev, tapi dunia udah ga ngasih celah lagi buat orang yg terlalu idealis kaya aku empat tahun lalu”
“Bukannya kamu selalu punya prinsip?”
“Idealis dan punya prinsip bedanya tipis Rev, bukannya semua itu yang buat aku kehilangan kamu?”
        Keheningan datang lagi. Alan yang terlalu berani untuk menyinggung masa-masa pahit itu, membuat aku kehabisan kosa kata untuk mencairkan suasana. Alan. Dia masih Alan-ku satu, dua, tiga, bahkan empat tahun lalu. Keras, berprinsip, tegas dan sulit terkalahkan, sikapnya tidak banyak berubah.
          Malang masih dingin, selalu dingin. Musim maba kukira akan berubah menjadi lebih hangat, ternyata sama saja. Malang tetap ramah, bahkan bagiku yang sudah menjadi asing untuk tempat ini. Empat tahun tidak menginjak tempat ini ternyata tak begitu banyak membawa perubahan. Masakan Bu Ratih tetap enak, bahkan enak sekali, hanya dia yang semakin renta kulihat. Lalapan burung dara dipinggir jalan itu juga masih beraroma mengaduk perut. Bapak penjual bakso dengan aroma nikmat tak terkalahkan juga masih setia dengan gerobak birunya. Ternyata definisi tak banyak berubah hanya kulihat dari tempat makan langganan semasa kuliah.
“Kerjaan aman?” celetuk Alan saat aku asik mengunyah bakso pak sabar.
“aman kok aman, pasien makin rame, akunya makin gak ngurus diri sendiri hahaha”
“bukannya kamu selalu begitu? Lebih mementingkan orang lain, dirinya sendiri dilupain”
“Ya gak juga lan, kamu gimana? bisnis rentalan bareng Alif gimana?”
“gak pasti rev, lama-lama cape juga. Mending kerja kantoran dulu sampe modalnya agak banyak ntar aku buka sendiri aja”
“Aamiin, Alan yang aku kenal selalu punya mimpi. Dan gak pernah pengen punya bos, iya kan?”
“Kamu selalu ingat rev”
       Masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu. Sepenggal lirik lagu Kunto Aji mungkin jadi lirik paling pas untukku, untuk Alan. Aku tidak tau, datangnya aku ke Malang ini sebagai obat ataukah sebagai racun paling ampuh untuk membuatku semakin tenggelam dalam pilu yang dulu.
“Vania apa kabar? Masih dia sama Reno?”
“Vania, bukannya kamu follow dia juga ya”
“kamu lupa aku sempat vakum sosmed setahun kan? Terus bikin akun baru juga waktu itu”
“Ah iya, Alan waktu itu ngilang dari muka bumi. Aku sampe gak tau harus nyari kemana. Vania nikah setahun lalu sama Reno, setelah berjuta drama mereka”
“Sumpah? Alhamdulillah ya. Ga nyangka juga, dulu sering aku katain bucin itu Reno. Jadi juga dia”
“bucin positif ya baek lah, emang kamu apa-apa salah terus hahaha”
“Kapan-kapan ayo ngopi berempat lagi sama mereka, kangen juga sama pasangan itu”
“Kapan kapan banget aja ya lan, waktuku singkat banget disini”
    Jalanan Malang yang semakin lengang, membuat Alan memperlambat laju mobil yang dikendarainya.
“Ingat bapak penjual mainan?” Alan memecah lamunanku.
“penjual mainan? Ah iya, yang dulu jualan dibundaran pesawat terus pindah ke dekatnya Sabilillah itukan?”
“yaps bener. Masih disimpen mainan pesawatnya?”
“Masih kok, dirumah. Kenapa?”
“bulan agustus kemaren bapak itu meninggal, aku datang kerumah duka nya beliau.”

Bersambung~


Kamis, 05 September 2019

Lembayung Bali #BlogSeries1

Akhirnya sampai dikos, setelah dua hari perjalanan jauh ke Semarang. Naik kereta berjam-jam ternyata sukses bikin seluruh badan pegal.

"Rev, udah nyampe kosan?" Pesan Whatsapp masuk dari Alan
"Iya ini barusan lurusin pinggang"
"Sudah mau tidur?"
"gak sih, ini mau beres-beres sama mandi dulu. kamu dimana? gak jadi balik kerumah?"
"Gak deh, aku sudah di warkop biasa"
"Loh kenapa gak jadi?"
"Ya kasian kamu, kepikiran permintaan kamu."
Alan, selalu berubah-ubah dalam waktu yang singkat. Baru aja seharian kita ngabisin waktu bareng karena dia niat pulang kampung beberapa hari. dalam waktu singkat dia bisa merubah semua rencananya. hanya karna alasan aku yang memang inginnya dia nemenin sampe pengumuman kelulusan tes masuk univ besok. 

"Ayo kesini temenin aku sampe jam kerja ntar malem"
"Cape loh aku, belum mandi sholat segala. ngapain emangnya disitu"
"gakpapa temenin aja"
"Eh sek sek, Alan! Aku lulus! Aku lulus lan. Yey kita bisa bareng lagi. Alhamdulillah"
"Serius? Alhamdulillah. katanya besok pengumumannya"
"Gak tau nih kenapa jadi hari ini ya, bodo amat yang penting aku lulus. sumpah gak nyangka lan, kamu tau kan aku gak pernah belajar."
"hahaha, yaudah kesini gih aku ada sesuatu nih"
"Oke wait, sholat mandi dulu ya"

Bersyukur banget bisa diterima setelah berjuang sebulan lebih disini. Alan taunya aku gak pernah belajar, padahal kalau dia lagi tidur atau kerja aku selalu nyuri waktu untuk belajar dan ke perpus.

"Selamat ya Reva, akhirnya lolos juga" Alan sumringah ngeliat aku datang dan langsung high five seperti kebiasaan kita.
"Iya gak nyangka, makasih ya lan"
"Bisa ya anak kaya kamu lolos, kerjaannya tiap hari nonton doang ckckck"
"ya namanya rejeki ya"
"emang pintar pasanganku ini, gak salah aku, bisa deh menaikkan derajatku wkwkwk
"halah kamu mah, terus untuk apa nih aku disini?"
"Ke Bali yuk, hadiah karna kamu lolos disini"
"Hah? sekarang banget?"
'Iyalah"

Alan yang super random bisa ngajak pergi sejauh itu dengan waktu sesingkat itu. dan akhirnya kita bener-bener ke Bali. Naik apa? yaps! naik motor tuanya Alan yang super gemesin namanya "Winny". Jarak malang ke bali itu gak deket. Kita harus motoran ke pasuruan - probolinggo - situbondo - banyuwangi. Dari Banyuwangi harus naik kapal very sejam ke gilimanuk Bali. 

Kata orang, kalau kita mau lihat sifat asli seseorang coba ajak dia perjalanan jauh. Dan terbukti. Aku rasa Alan sesayang itu sama aku, sangat melindungi dan sabar banget sama aku. aku yang gak pernah motoran sejauh itu sebelumya otomatis banyak ngeluhnya dan minta istirahat, sedangkan kita mesti kejar waktu biar gak sampe tengah malem banget di Bali. Ditambah lagi aku yang gak kuat bawa ranselku sendiri, jadinya Alan yang naro didepan dadanya biar aku gak cape. Aku yang berkali-kali ngantuk dijalan dan hampir jatoh. Alan maklumi banget karena tau aku baru pulang dari Semarang dan emang kurang tidur semingguan ini karna persiapan tes. dia selalu semangatin aku dan bertingkah konyol sambil nyetir cuma biar aku gak ngantuk. Alan. Aku yang sebagai penumpang harusnya ngehibur dia biar gak ngantuk sambil nyetir. Tapi ini malah kebalikan, dasar aku. 

Sampai lah kita di Banyuwangi dan naik kapal very. Gak ada basa basi aku langsung ambil kursi panjang dan tidur disitu. nitipin semua barang-barang aku ke Alan. 

"Lan aku tidur dulu, ngantuk banget"
"Iya, ini cuma 40 menit ya perjalanannya"

Reva yang cuek bebek ini bener-bener nyenyak, pas aku kebangun aku liat alan diatas kepala aku sambil ngusap kepala aku. sambil nonton youtube dengan wajah yang aku yakin dia jauh lebih cape dan ngantuk dibanding aku.

"Alan gak tidur? ayo gantian"
"gak usah, aku gak ngantuk. kamu tidur aja lagi, kasian kamu cape"

Setelah nyampai di Bali, kita tetap random. Cuma duduk di pasar legian, didepan CircleK beli minum dan beli cilok. Jalan-jalan sedikit keliling pasar, Alan beli baju kaos, aku beli celana. Dan sudah. Iya bener-bener ke Bali cuma gitu aja. Buat video kenang-kenangan disepanjang pantai kuta malam hari, cafe-cafe ala barat di bali, dan kita kembali ke gilimanuk. hahahahahahaha

Banyak pelajaran yang kita dapatin dari perjalanan sejauh ini. Bagaimana supaya kita paham setiap orang punya limit terhadap dirinya, kita gak bisa maksain orang lain sekuat kita. Bagaimana meredam ego masing-masing yang maunya dituruti bukan menuruti. Dan, satu hal yang paling penting. Melakukan perjalanan antar kota aja gak mudah, bagaimana mengarungi bahtera rumah tangga. Maka dari itu, kesiapan itu diperlukan.

Alan. Bersama dia aku bener-bener ngerasa banyak warna dalam hidup ini. dia yang sering buat aku lebih memahami diriku sendiri. buat aku berani angkat daguku dan gak sembunyi terus. Walaupun kami berdua gak pernah tau akan kemana arah kebersamaan kami selama ini. yang kutau, aku dan Alan bahagia. Dan terus berproses menjadi lebih baik untuk satu sama lain. 

Alan, thankyou for being here. Thankyou to loving me more than i love my self.  

Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)

 Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...