Minggu, 25 Agustus 2019

Hai,22

Harusnya ini di-upload tanggal 13 Agustus

Selamat datang kebahagiaan baru, selamat bersahabat denganku.
Ini bukan lagi perihal tua mudanya suatu usia, tapi bagaimana kebermanfaatan dan tanggung jawab yg semakin banyak.
Ku sapa dulu semua yg pernah hadir dan berdedikasi untuk hidupku.
Hay mah pah kaka kaka ku ponakanku yg lucu, sahabat sahabatku, dan semua yg ingin kubahagiakan.
Doakan aku ya, harus lebih kuat menjalani hidup.
Umur 22 rasanya dewasa sekali untukku yg masih sangat kekanakan dalam beberapa hal. 
Banyak impian dan cita cita yg selalu kulangitkan. 

Pendidikan, karir, keluarga, percintaan. Sepertinya sudah jadi sepaket kedewasaan. 

Akan banyak pencapaian di 20an ini, kuharap datangnya tak lambat tak juga terlalu cepat tapi sesuai porsinya. Sesuai keinginan dan kesiapanku. 

Semangat! Masa depanku masih panjang, banyak hal yg harus kucicipi, manisnya dunia pahitnya perjuangan, semuanya akan indah sesuai porsinya. 


Selamat menua, aku. Jangan mudah menyerah, jangan hanya peduli dirimu, terus semangat dan bergerak! Fight. 

Sabtu, 10 Agustus 2019

Pekat.... #Cerpen7


22.37, malam semakin larut. Senyap, sesekali hanya suara angin yang membuat malam ini lebih dingin dari biasanya.Tidak ada yang berlalu lalang, sebagian sudah pulas sebagiannya lagi lebih memilih pulang ke pangkuan ibunya. Sinar rembulan tampak redup tertutupi pohon ceri yang seolah merangkul kami. Aroma tubuhnya tak dapat kubaui, kami berjarak malam ini. Tidak ada pembicaraan, sesekali hanya helaan nafas lebih panjang.

Tubuh tegapnya melemah, matanya redup, bibirnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pertanyaan tidak akan menjawab apa yang ingin kutau. Dilepaskannya kacamata persegi dari matanya, sesaat dipandangi, kemudian digenggamnya sekuat yang ia mampu. Tidak perlu ada pertanyaan, dapat kurasakan emosi dan sakit hati yang mendalam lebih dari apa yang sanggup ia ucapkan.
Kacamata tinggal serpihan, hatinya pun semakin meradang. 

Memaksanya bercerita bukanlah jawaban. Kuletakkan tangan kiriku dipundaknya menepuknya beberapa kali, dan anehnya air mataku yang nyaris jatuh. Sakit dihatinya seperti tersalur kediriku, entah bagaimana caranya. Kurasakan sakit itu juga.
Setelah dirasa emosi cukup menguap, dipandanginya aku sesaat. “Orangtuaku…..”

Tidak perlu kulanjutkan, satu kalimat tadi cukup membuatku merasa hancur mungkin tidak separah dia setidaknya hancur melihat dia harus menanggung cobaan, bahkan berkali-kali.
Teringat saat awal bertemu, bagaimana semangatnya dia menceritakan semua kebahagiaan dan kesyukurannya terhadap keluarga yang sangat mencintainya. Ternyata keadaan bisa saja berhenti berpihak.

Tenang, sayang. Kau tidak pernah sendiri, ada penciptaMu, ada aku, ada sahabat-sahabatmu, ada kita. Kalimat ini terdengar sandiwara, tapi kalian akan paham ketika rasa sakit orang lain menjadi sakit yang luar biasa untuk kita sendiri.

Malam itu berakhir pekat. Aku tidak berhasil menjadi tempatnya pulang, menjadi tempatnya menceritakan segala yang sedih ataupun duka. Aku merasa gagal sebagai rumah.

Pertanyaannya, aku yang gagal sebagai rumah atau memang bukan dia tuan rumahku?
Entahlah.


Selasa, 06 Agustus 2019

Aku sudah sarjana… #CoffeeBreak17




Hai, sudah sekian musim terlewat, lama tidak menulis dan menuangkan rasa. Tujuh bulan berlari kencang ternyata lelah juga. Malang dingin, lebih dingin dari biasanya, meringkuk disudut kamar dibawah selimut sudah jadi rutinitas sembari memikirkan masa depan. Aku sudah sarjana? Iya benar, lalu apa?
Alhamdulillah setelah satu semester bergelut dengan skripsi dan penelitian akhirnya semua selesai dengan pujian bahkan memuaskan. Lulus dengan nilai dan waktu yang sesuai target sejak maba mungkin menjadi kesyukuran luarbiasa untukku dan orang tua. Sudah empat bulan setelah wisuda, dan aku masih mencari tempat dimana selanjutnya. Dua bulan istirahat dikampung halaman ternyata lebih dari cukup sebagai bekal untuk kembali merantau lagi.
Hari ini, usaha dimulai. Berkorban dan mengesampingkan semua keinginan. Merancang rangkaian rencana yang dibuat jauh-jauh hari agar semakin dekat dengan mimpi-mimpi. Semakin kesini rasanya semakin sendiri, entah karna ramai yang mengantarkan pada sepi  atau memang aku yang damai sendiri?
Aku jauh, dari semuanya. Dari kebiasaanku yang dulu, dari sisa sisa sahabat yang dulu selalu ada. Ah iya, aku lupa ternyata benar waktu sudah menggilas habis semuanya. Merebut waktu dan orang yang kupunya disini. Kini rasanya benar, berjuang sendiri ternyata tidak seburuk itu. Bukankah hakikatnya hidup adalah sendiri?
Meninggalkan rumah untuk kembali berjuang disini bukanlah hal yang mudah, mengingat orangtua selalu butuh ditemani, rasanya umur membuat mereka semakin bersahabat dengan sepi. Tapi percayakah untuk tetap bertahan dirumah dengan keadaan ‘sudah sarjana’ tapi tanpa jati diri rasanya hampa sekali. Egois? Bisa jadi. Dan memilih pergi lebih dini mungkin bisa jadi pilihan yang paling baik untuk saat ini.
Semakin aku disini, semakin sepi, semakin aku merasa bahwa hidup ini tak lebih dari sekedar perjalanan untuk mati. Apa yang kucari? Pendidikan lagi? Kebahagiaan duniawi? Kekayaan hakiki? Atau apa lagi? Aku mulai kehilangan kendali.
Diujung Kasur kau temukan kakiku bersentuhan dengan kertas-kertas, buku-buku yang merengek untuk dibaca lagi. Aku tau ini adalah kewajibanku, bukankah hak ku untuk merasa lelah dengan semua hal yang kuciptakan sendiri?
Setiap pagi aku akan terbangun dari mimpi yang kau dengungkan dan disambut dengan ketakutan yang kau ungkapkan. Aku akan menanggalkan segalanya dan melemparkannya ditumpukan. Aku adalah kumpulan ketakutan yang kuciptakan sendiri, entah pada apa. Aku tak pernah membayangkan seseorang mampu mebaca ketakutanku sendiri.
Ini hanyalah kumpulan ketakutanku yang mencari tenang atau ambisi kau dan mereka yang menanti kebahagiaan. Ada saatnya, aku menjadi apa yang kuingini sendiri.

Selasa, 29 Januari 2019

RSJ punya cerita #CoffeeBreak16



Magang. Dari jaman sekolah dulu kata magang selalu jadi hal yang bikin aku penasaran. Setelah melewati fase ini terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaanku dulu. Dapat lokasi magang di rumah sakit jiwa adalah tantangan baru buatku, karena menghadapi pasien normal aja butuh ilmu lebih apalagi pasien jiwa.
Beruntung. Itu yang pertama kali ada dibenakku waktu lihat nama tercantum di RSJ. Banyak hal yang aku syukuri, apalagi di rsj ini kita disediakan asrama plus makan tiga kali sehari. Belum lagi disini juga banyak mahasiswa kesehatan dari segala penjuru yang magang, mulai dari dokter muda, nurse muda, perawat, okupasi terapi, psikologi, terapi wicara, dan kesehatan lainnya.
Dari preklinik ini aku baru ngerasa apa sebenarnya jurusanku ini, apa fungsinya, gimana kerjanya, apa yang harus dilakukan. Benar kata orang, passion itu dicari bukan ditunggu.
Menjadi calon tenaga medis mengharuskan kita untuk punya respect tinggi ke orang lain, dan asal kalian tahu segitu malasnya aku dengan yang namanya basa-basi. Dituntut keadaan dan profesi memang bisa buat kita belajar banyak, akhirnya belajar lah aku untuk meningkatkan skill respect dan basa-basi.
Awalnya sulit tapi semakin hari semakin bisa dinikmati. Ketemu pasien dari berbagai kalangan, umur, pekerjaan buat kita gak cuma belajar ilmu pengetahuan tapi ilmu kehidupan.
Gimana rasanya waktu tahu kalau pasien kita ini sudah terapi bertahun-tahun, seminggu dua kali harus ke rumah sakit, sendirian, naik angkot pula. Kemana anak cucunya?
Gimana rasanya waktu tahu pasien kita ini sudah berumur kepala 5, waktu ditanya datang sama siapa, beliau cuma jawab “saya hidup sendiri mbak, saya belum menikah”.
Gimana rasanya waktu tahu pasien kita ini masih muda, bahkan dibawah umur kita. Tapi sudah harus duduk dikursi roda karena stroke sejak SMA. “Gak ada cita-cita untuk saya mba”
Gimana rasanya waktu tahu pasien kita sudah setua ini, serenta ini, mengalami gangguan jiwa, serangan stroke, tidak ada keluarga yang menjenguk. “mba sering-sering kesini ya, saya sendiri”
Gimana rasanya waktu tahu sepasang suami istri datang membawa anaknya yang cukup besar untuk digendong karena keterbatasan fisik, dan bilang “cukup dia saja anak kami mba, takut kalau ada adenya nanti dia gak keurus”
Bicara soal pasien jiwa disini. Kami mengenalnya dengan nama Citra, pasien jiwa yang masih berumur sekitar 15 tahun, gadis yang menghabiskan masa remajanya di bangsal rumah sakit jiwa. Teman-teman bilang alasan Citra dirawat disini karena jiwanya terganggu setelah patah hati, sekali lagi karena patah hati. Siapa yang menyangka gadis semuda itu? Memang segala sesuatu di dunia ini ada batasnya, ada porsinya, apapun yang berlebihan tidak akan baik akhirnya. Citra hanya salah satu dari 800 lebih kisah pasien jiwa yang menyayat hati kita, terlebih menyayat hati keluarganya sendiri. sekian banyak pasien jiwa disini berasal dari kalangan dan status sosial yang berbeda-beda, yang pasti tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan keadaan ini. Pasien jiwa disini banyak memberi kami pelajaran, dekat sekali rasanya dengan rasa syukur setiap mendengar bagaimana kisah hingga mereka bisa dirawat di RSJ, banyak sekali hal-hal yang harusnya kita syukuri karena masih diberikan nikmatnya sehat lahir dan batin, masih mampu hidup normal bersama orang-orang yang kita sayangi.
Menjadi seperti mereka tentu ada alasannya, itulah sebab kenapa kita tidak boleh menganggap sesuatu itu sepele, karena apa yang sepele bagi kita belum tentu sepele bagi orang lain. Bisa saja hal-hal sederhana itu mampu merusak hati mereka, membuat mereka terus kepikiran hingga mengganggu mental dan jiwanya, siapa yang tahu?
Jauhi komentar yang berbau fisik, ekonomi, keluarga dan hal-hal yang kiranya mampu menjatuhkan harga diri orang lain. Tolong! teruslah berbicara positif dan melakukan kebaikan, walaupun kenyataannya sulit tapi setidaknya hal itu tidak menambah beban orang lain. Ingat, apa yang kita anggap kecil belum tentu kecil bagi orang lain.
Sayangi orang-orang terdekat kita, siapa yang tahu sampai kapan batas waktu kebersamaan kita dengan mereka? 
Terlalu banyak cerita yang gak akan habis kalau dijabarkan. Setiap pasien membawa duka dan sukanya masing-masing, setiap pasien memiliki cerita yang tidak semua orang tau, tapi satu hal yang aku percaya mereka memiliki kemauan yang tinggi untuk sembuh. Yang tidak memilih untuk diam dan meratap, pasrah dengan keadaan.
Aku sering berpikir, jika aku diposisi mereka mungkin aku tidak akan sekuat itu.
Awalnya memang berat sekali menjalani jurusan ini, tapi setelah melewati satu bulan luar biasa itu aku merasa bahwa memang benar Allah tidak pernah salah akan skenarioNya. Yang kita benci pun pasti memiliki makna diakhirnya nanti. Tidak ada takdir yang salah alamat.


Jumat, 18 Januari 2019

Coretan kasar....


Malang adalah salah satu alasan yang membuat saya utuh sebagai manusia, tempat kenangan dan segala ingatan bermuara. Tempat dimana perjuangan sebenarnya terasa, doa-doa terapal dan didengar sang Maha Esa. Kota dimana hampir dengan sempurna menimbun seluruh kesepian kemudian digantikan dengan tawa riuh rendah yang memecah segala rasa.
Tentang tersenyum dan mengumpat disela-sela macetnya gajayana – tlogomas – tirto saat jam pulang kerja, tentang sebuah lingkaran persahabatan yang isinya silih berganti entah karna tak serasi atau memang tak pernah sehati, tentang cinta yang entah akan berakhir seperti apa.
Cobalah kendarai motormu  dan lewati jalan bandung yang menawarkan indahnya, kau mungkin tidak pernah paham bagaimana puitisnya malang sampai kau mengitari jalan soekarno hatta dari ujung hingga ke ujung saat tengah malam tiba, kemudian singgah di ceker pedas ditepi jalan, menikmatinya dan menyadari bahwa cinta tak lebih sederhana dari dua orang yang ngobrol ngalor ngidul tanpa topik yang pasti sambil sesekali mengumpat karna pedasnya ceker tidak bisa dimaklumi.
Saya menemukan cinta pada setiap sudut kota ini, pada setiap pedagang pinggir jalan dengan gerobaknya yang sederhana tapi mampu memberi suasana paling romantis dibanding apapun, pada para pedagang bunga yang menjajakan dagangannya hingga pagi buta, pada setiap peluh yang jatuh menunggu kemacetan tak kunjung usai disekitar gajayana, pada setiap warung kopi yang mengantarkan banyak manusia pada jati dirinya, pada senyum mas kasir indomaret yang sampai mengusirmu karna malam sudah terlalu malam, pada setiap legamnya aspal malang – batu yang terlalu sering membuatmu harus mendorong motor bahkan saat dini hari.
Setiap sudut kota ini memberikan sekian banyak kisah. Jikapun waktu itu akan datang, cerita-cerita ini akan tetap pada tempatnya. Suatu waktu aku akan kembali, entah untuk mengulang kisah yang baru atau sekedar mengenang betapa malang tlah memberikan banyak cerita.


Sabtu, 17 November 2018

Sayap yang tertinggal #Cerpen6


Sayap yang tertinggal


            Malam ini terasa gerah, sepertinya akan hujan. Kasur springbed dengan sprei abu-abu gelap sukses menambah kelabu ku malam ini. Tidur sendiri di ranjang selebar ini tentu bukanlah hal yang tidak biasa untukku, tapi mengapa malam ini terasa berbeda?. Aku terbangun tepat pukul 01.20 WIB, rasa gelisah menyelimuti tidurku malam ini. Kubuka smartphone disampingku memastikan bahwa benar hari ini adalah hari spesial kami. Kubuka whatsapp, mencari pesan masuk dari Mas Renal.
“Kenapa tidak ada ucapan?” lirihku kemudian mematikan layar ponsel.
             Hubungan jarak jauh dengan suami sendiri adalah hal yang banyak terjadi namun tidak mudah untuk dilewati. Hal ini yang sering membuatku berpikir mengapa semuanya terasa lebih rumit setelah pernikahan, bukankah sebelumnya kami lebih bahagia dari ini?. Sembari menunggu kantuk, kusingkirkan selimut yang sedari tadi kehilangan fungsinya. Berjalan gontai menuju dapur untuk membuat matcha latte kesukaan Mas Renal. Berharap segelas matcha ini bisa meringankan rindu yang entah kapan bisa tersalurkan. Kuhirup aromanya, setiap celah rasa pada matcha ini seakan membawaku pada ingatan bertahun-tahun lalu.
            Mas Renal adalah seorang pria yang kukenal diakhir masa kuliahku dulu. Seorang pria yang sering kusebut “Ganal dari Malang”. Apa itu ganal? Ganal dalam bahasa daerahku bisa disebut besar, sesuai dengan perawakan Mas Renal yang cukup berisi dan menghangatkan. Tawanya renyah, suara seraknya indah jika melantunkan lagu payung teduh favoritku, hanya saja banyaknya perbedaan kadang membuat kami sering berargumen. Dia sangat mencintai musik bahkan kulihat setengah dari nafasnya adalah musik, dan aku sangat suka menulis terlebih saat ditemani petikan gitarnya. Mas Renal satu tahun lebih muda dariku tapi tingkat kedewasaannya jauh diatasku. Tiga tahun setelah perkenalan, kami memutuskan menikah dan hari ini tepat satu tahun umur pernikahan kami.
            Musim gugur diakhir 2014 itu menjadi titik awal perkenalan kami. Malang yang sendu dan bersahabat selalu menawarkan kedamaian disetiap akhir tahunnya. Udara sejuk, bunga berguguran, dan hujan yang sering ragu untuk turun sudah jadi momen paling ditunggu-tunggu bagi sebagian besar mahasiswa di kota ini, malang syahdu kami menyebutnya. Konser urban jazz kala itu sukses membuatku sadar bahwa Tuhan tidak pernah main-main akan rencanaNya.
“Kenapa aku bisa sepercaya ini sama kamu yang baru kukenal?” ucapku tanpa pikir panjang, sambil sesekali melihatnya dari kaca spion motor matik itu.
“Mungkin Tuhan punya skenario?” Jawabnya asal dengan senyum simpul tidak ikhlas dari wajah sangarnya.
            Perjalanan kami tidak pernah mudah, banyak peralihan-peralihan yang terjadi seiring berjalannya waktu. Seperti musim gugur, dia adalah fase peralihan dari musim panas menuju musim dingin. Musim yang paling ditunggu-tunggu oleh orang banyak, walaupun kadang datangnya membuat banyak orang bertanya-tanya, pergi atau menetap kah? bertahan atau meninggalkan kah? dan berganti atau bersama kah? musim gugur selalu membawa banyak tanda tanya.
            Tanpa sadar secangkir matcha yang dari tadi menemaniku bernostalgia ternyata sudah sampai didasarnya. Lantunan azan subuh menyadarkanku bahwa Mas Renal benar-benar lupa akan hari kami, padahal sebelum menikah dia selalu jadi yang paling ingat dan tepat waktu untuk memberi ucapan. Kuambil air wudhu demi menenangkan jiwa yang terlalu perasa ini. Gerakan sholat yang kukira sederhana ternyata mampu membunuh segala rasa gundah. Allah memang maha hebat memberikan penawar dari segala rasa, dengan cara sesederhana sholat, dengan gerakan menghamba yang paling istimewa dari segala bentuk ibadah dimuka bumi ini.
            Air Tuhan turun, kurapalkan doa-doa panjang setelah sholat. Pernah kubaca bahwa hujan adalah saat yang paling baik untuk berdoa, karena milyaran butiran air itu akan mengantarkan doa kita lebih cepat pada sang pencipta.
“Assalamualaikum mas, sudah sholat subuh?” Tanyaku pada Mas Renal lewat ujung telfon.
“Waalaikumsalam, sudah sayang.” Jawab Mas Renal seadanya.
“Suaranya lemes banget, belum ada tidur?”
“Iya, kerjaan banyak banget. Ini mau siap-siap ke bandara, doanya ya”
            Belum sempat kujawab pintanya, telfon terputus. Beginilah resiko memiliki suami yang bekerja dipedalaman, sulit sinyal sudah jadi hal yang biasa. Aku semakin murung pagi ini, Mas Renal tidak biasanya sedingin itu. Tidak biasanya sedatar itu. Tidak biasanya lupa menyapa jabang bayi yang ada dikandunganku, anak pertama kami. Aku mencoba terus berpikir positif, mungkin karena hari ini adalah jadwal pulangnya, toh kami juga akan bertemu sebentar lagi.
            Jendela yang sejak tadi kering mendadak basah oleh hujan yang memang sudah diperkirakan turun pagi ini, pertanda musim gugur akan segera berakhir. Sambil menyiapkan sarapan kesukaan Mas Renal, nasi goreng pete. Kuhidupkan tivi dan menikmati beberapa berita yang memang selalu kutunggu-tunggu. Beberapa menit kemudian, masuk pesan whatsapp dari pria yang paling kusayangi ini.
“Mas berangkat. Jarak kita memang jauh, tapi sejauh apapun jarak doa pasti sampai, hanya doa bisa mendekatkan yang jauh. Ini tiket mas, nanti jemput ya J” Isi pesan Mas Renal yang masuk pukul 06.12 WIB disertai foto tiketnya pagi ini.
Setelah pesan itu masuk aku memilih langsung menelepon mas dan ternyata nomor sudah tidak aktif, pertanda mas sudah take off.
            Aku masih sibuk menyiapkan nasi goreng pete yang aromanya mengisi seluruh ruang dirumah yang terbilang luas ini. Rumah yang kami perjuangkan bersama sejak belum menikah, yang sayangnya lebih sering kutempati sendiri. Seandainya dulu aku lebih mengerti apa yang sebenarnya kukejar, apa yang sebenarnya menjadi impianku. Memilih ego untuk terus menggapai karir dikota ini ternyata tidak pernah menemui ujungnya, hingga aku terpaksa harus berjarak dengan suamiku sendiri. Hanya bertemu sebulan sekali diawal bulan, itupun kalau Mas Renal tidak sibuk dengan pekerjaannya di Kalimantan. Mungkin ini yang disebut ambisi tak berujung.
“Assalamualaikum Ibu, ada apa ibu?” Jawabku mengangkat telfon dari Ibu Mas Renal.
“Waalaikumsalam nduk, Masmu sudah berangkat? Naik pesawat apa nduk?” Tanya Ibu tanpa basa-basi seperti biasanya.
“Kayaknya Lion bu, tapi gak tau detailnya. Kenapa yo bu? Eh ada Mas Renal kirimin tiket barusan. Sek yo bu.” Jawabku sambil membuka chat whatsapp dari Mas Renal beberapa menit yang lalu.
“Liatin nduk
“Lion Air JT 267 bu. Kenapa bu?”
“Allahu akbar, ya Allah lemes awakku. Lemes.” Ucap ibu sambil terbata-bata dan telfon terputus.
            Aku panik tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kubaca istighfar berulang kali, yakin bahwa hanya istighfar yang mampu memudahkan segala yang sulit, melapangkan segala yang sempit, menyehatkan segala yang sakit, dan menenangkan segala yang rumit. Ku cari channel di tivi yang menayangkan berita live, dan benar kabar buruk itu menimpaku pagi ini. Pesawat yang ditumpangi Mas Renal dikabarkan hilang kontak pukul 06.28 WIB pagi tadi, tepat 16 menit setelah pesan terakhirnya masuk di whatsapp ku.
            Kumatikan televisi tidak ingin mendengarkan berita itu lebih lanjut. Kuambil air wudhu, memilih mengadu pada satu-satunya peraduan yang kupunya, Allah Shubhanallah wa taala. Aku menangis sejadi-jadinya, takut kehilangan, takut menerima kenyataan, takut untuk tahu apa yang terjadi dengan masku. Aku tahu Allah selalu punya rencana terbaik dibalik segala skenarionya, tapi mengapa skenario seperti ini yang harus kuhadapi? Akankah jabang bayi ini menjadi yatim sebelum ia lahir kedunia? Tidak sanggup aku membayangkannya.
            Ibu menelefon lagi mengabarkan bahwa pesawat Mas Renal tidak dapat dideteksi jatuh di daerah mana, dan kemungkinan selamat sangatlah kecil. Tidak banyak yang kulakukan selain berdoa dan memohon, beberapa teman terdekat dikantor datang menjengukku sekedar memberi semangat dan berbela sungkawa. Walaupun aku tidak akan pernah menerima ucapan duka itu, aku tetap yakin Mas Renal ada disuatu tempat dan akan pulang kerumah kami menanti bayi ini.
            Tidak tahu harus berbuat apa membuatku terus melamun dan terjebak dalam ingatan-ingatan masa lalu. Dulu, aku selalu menulis setiap hari tentang apapun yang terjadi antara aku dan Mas Renal disebuah buku catatan berwarna hitam yang didalamnya berisi tulisanku dan tulisannya. Sayangnya sejak menikah aku tidak lagi melakukan rutinitas itu, hanya Mas Renal yang kulihat sesekali masih menyentuh buku itu entah menulis apa. Ku ambil lagi buku itu dari raknya, sedikit berdebu dan tampak usang dimakan waktu.
Malang, 28 Oktober 2017
            “Bulan depan aku menikah, dengan wanita yang mengajarkanku bahwa tak selamanya musim panas meresahkan, musim dingin menakutkan, dan musim gugur dinantikan. Bagiku segala musim menjadi lebih indah saat dia selalu ada untukku, disaat aku memenangkan egoku dan dia dengan segala kelembutan hati membuatku sadar apa yang sebenarnya aku inginkan. Beruntungnya aku dimiliki kamu.”
            Tidak sanggup kuteruskan membaca tulisan Mas Renal. Tulisan yang sudah ditulis setahun lalu tapi baru kusadari sekarang. Kenapa baru hari ini aku lebih peduli padanya? Kenapa aku baru sadar kalau dia sangat berharga buatku? Suami yang Insya Allah menuntunku hingga jannah, yang kini tidak pernah kutahu dimana keberadaannya. Kulanjutkan membaca halaman berikutnya.
Malang, 3 Januari 2018
            “Boleh aku bertanya? Bagaimana caranya menggapai bintang sedangkan sebelah sayapmu tertinggal? Bagaimana mampu terbang jika separuh energimu tak berdaya? Bagaimana melaju pesat sedang kau berlari tanpa kaki? Bagaimana melalui musim-musim yang kita nantikan tanpa saling disisi? Istriku... begitu besar ambisimu, apakah lupa pada apa yang sebenarnya jadi tujuan kita dulu? Apakah lupa bahwa akulah bintang yang ingin kau gapai itu?. Bermimpi tidak pernah salah sayang, hidup memang tidak melulu soal cinta, aku tahu impianmu besar dikota ini. Tapi sanggupkah kita berjalan dengan sayap yang tidak utuh? Seandainya kamu lebih mengerti, aku tidak akan pernah bisa terbang dengan satu sayapku yang tertinggal.”
            Pecah tangisanku membaca lembar terakhir yang Mas Renal tulis dibuku ini. Tidak pernah kusangka jarak kami selama ini ternyata menyiksanya. Dia tidak pernah mengeluh padaku, sikapnya tetap manis, dia selalu mendukung jalan apapun yang kupilih. Dibalik wajah tegas dan berwibawa, ternyata dia serapuh itu tanpaku disana. Aku merasa menjadi wanita terbodoh yang menyia-nyiakan ladang pahala didepan mata demi memenangkan ambisiku, egoku untuk berkarir yang sebenarnya tidak begitu kuperlukan selain untuk kepuasan batin semata. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali menyetrikakan bajunya, menyiapkannya makan tiga kali sehari, nonton bioskop midnight seperti saat kuliah dulu, kapan terakhir mendengarkannya menyanyi, menanyakan perkembangan lirik-lirik lagunya, aku terlalu sibuk dengan duniaku.
            Sebulan setelah kejadian itu, rasa sedih tidak kunjung berkurang walaupun kini aku ditemani ibu, kakak, serta ibu mertua dirumah, mengingat sebulan lagi persalinan berlangsung. Rasa sedih itu semakin menjadi-jadi tiap kuingat segala kesalahan dan kenangan bersama Mas Renal dulu. Walaupun kejadian ini sudah sebulan yang lalu aku tidak pernah berpikir Mas Renal meninggal dunia, aku yakin dia selamat dan sedang berada di suatu tempat. Seperti pesan terakhir dari Mas Renal di whatsapp ku sebelum kejadian itu, “Jarak kita memang jauh, tapi sejauh apapun jarak doa pasti sampai, hanya doa bisa mendekatkan yang jauh.” Jadi selama aku tidak pernah berhenti berdoa, Allah akan selalu punya cara untuk mendekatkan kami.
            Tegar Gautama, nama yang kuberikan untuk anak laki-laki kuat yang lahir dari duka ibunya. Kuberi nama Tegar agar dia kuat menghadapi hidup ini bagaimanapun sulitnya, walau hidup kadang tidak sesuai dengan keinginan, walau hidup tak selalu seperti musim gugur yang membawa ketenangan, walau hidup diterjang ombak tinggi tak berkesudahan, sejatinya hidup harus terus berjalan. Karena kehidupan dunia tak lain hanyalah sementara, senda gurau belaka, jadi untuk apa terlalu menikmatinya?.
            Kehidupanku perlahan kembali normal semenjak kelahiran Tegar, anak yang menjadi harapan baruku, sumber segala bahagia yang kutahu inipun bersifat sementara. Walaupun rasa sedih masih terus menyelimuti, aku selalu mencoba bersyukur atas segala ketetapan Allah. Banyak sekali pelajaran hidup yang Mas Renal berikan selama kami bersama, perlahan kubangun rasa ikhlas itu dan percaya bahwa kami pun akan bertemu di Jannah nya nanti. Tugasku adalah merawat dan membesarkan amanah terbesar dari Mas Renal, yaitu Tegar buah hati kami. Sejatinya segala yang sudah menjadi ketentuan Allah akan tetap terjadi, bagaimana kita sebagai manusia ikhlas menerima segala ketetapannya. Hanya Allah yang tak akan mengecewakan, yang mudah-mudahan menyelamatkan kita semua di dunia dan di akhirat. Satu pesan Mas Renal yang akan selalu kuingat,aku tidak akan pernah bisa terbang dengan satu sayapku yang tertinggal”. Aku percaya suatu hari sayap kami akan kembali utuh, terbang tinggi menggapai pencapaian tertinggi bagi manusia, surgaNya.
           





GLOSARIUM
a) Nduk = Panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa jawa
b) Awakku= diriku dalam bahasa jawa          
c) Sek yo = ‘Sebentar ya’ dalam bahasa jawa

Note: Cerpen diatas meraih juara 1 pada perlombaan Cerpen Autumn's Day FIKES UMM 2018
           








Senin, 10 September 2018

KKN (Kuliah Kerja Ngawur)

Kalau boleh sedikit bercerita, bagaimana memulai kisah bersama 34 orang yang gak pernah kenal sebelumnya dan 'dipaksa' menyatu demi terwujudnya cita-cita 'dari UMM untuk bangsa'
Dimulai dari ngurusin arca, taman, krpl, ngajar dokter kecil di sd, jagoan bunda di TK, bikin majalah desa, sosialisasi kerupuk lele dan pengemasan kopi, ngajar ngaji di TPQ, ngajar bimbel hampir setiap hari, latihan pbb buat persiapan 17-an, bantu ngecor bapak bapak desa, detektif rumah horor pak wo, nobar horor setiap hari, bantu imunisasi, posyandu, dan....
antri mandi.

Tinggal dirumah yang terbilang cukup 'sempit' untuk ditempati 19 orang wanita beserta aroma rumah yang khas banget karna nyatu sama kandang sapi, sukses buat aku rindu setiap menulis kalimat ini

temen-temen yang berasal dari jurusan, fakultas serta daerah yang beda-beda buat kita dituntut untuk mencoba saling memahami satu sama lain, memaklumi setiap sikap yang kadang tak enak dihati, mencoba mengerti bahwa tak setiap orang akan menjadi sesuai keinginan kita. iya! semuanya memang butuh pembiasaan

ada yang mandinya lama banget bikin yang antri kadang pengen mati, ada yang bajunya berserakan dimana-mana karna emang gak terbiasa rapi, ada yang ribut banget dikala kita-kita udah pada cape karna proker seharian, ada yang gak pernah sadar sama jadwal piket beli galon sampe kita hampir skarat karna dehidrasi. macem-macem deh.

but seriously, sebulan sama mereka buat aku belajar banyak. gimana sih ikhlas yang sebenernya, gimana sih agar kita gak mudah ngejudge orang lain sebelum tau cerita dibalik sikapnya, gimana kita sadar kalau ternyata pembelajaran itu bisa diambil dari apa aja, dari hal sekecil apapun.

34 orang yang aku yakin semuanya adalah orang baik, sukses bikin aku punya cerita sama masing-masing dari mereka.
rezita panutanqu, emma partner konserku, deva wanita 1000 problem, ummu tukang ketawa, dyar teman tidurku, dana si dandut, bunda asha yg istriable dan ibuable banget, ratu rully dan kopinya yg manthul, gendaga si laba-laba, masita yg sok kalem, bara bu dokter, novinda calon guru unch, ade ketua geng kamar samping, ayu ayototan, vidi yg jago konsep, anes yg hobi sendirian, dena yg ceriaaa, kordes aris yg amat jago masak, eng si peserta terbaik, danis kadivku yg paling perhatian, wildan tukang bully yg muntungnya kada beapik, pak abdi yg selalu ada ditiap momen, pikri teman sekelasku, Nanda killer iyakah, elfan loundry, adib tenda, ujang arca, sultan krpl, daus yg ga pernah aku dengar suaranya, bli fadel, ilham MUA hitz malang, putra dan dea yg selalu bersama,  daaan kalian semua yg bikin aku rindu terus. Terimakasih rek, cerita tulungrejo kita gak bakal bisa dilupain.

Rumah pak wo, rumah bu ami, poskamling tempat kita rapat (kesehatan), sd yg rame, tk yang seru, indomaret tempat paling asik buat nyembuhin pikiran, nasi goreng jawa, mie ayam kecamatan, mie ayam wonogiri, waduk selorejo, pasar dan segala penjualnya termasuk bule getas :((((, bule susu bantal, pale pukis, tak lupa juga bakso lembu yg paling fenomenal, sosis 500-an, sapi-sapi bu ami yg selalu menemaniku, balai desa yg wifi nya kenceng, dan ter terimakasih untuk kursi ruang tengah pak wo yg mengantarkan ku pada jutaan air mata kala berbagi kisah dengan teman-teman luarbiasa. Sore hari dan senja jadi tak sama lagi.

kudengar hari ini hujan lebat tanpa tanda henti,
gemuruh angin ikut serta,
apa itu..?
kukira benar, ini rindu....


14-Agustus-2018
5 hari setelah pisah,
kukira rindu tidak seberat ini

Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)

 Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...