Kalau boleh sedikit bercerita, bagaimana memulai kisah bersama 34 orang yang gak pernah kenal sebelumnya dan 'dipaksa' menyatu demi terwujudnya cita-cita 'dari UMM untuk bangsa'
Dimulai dari ngurusin arca, taman, krpl, ngajar dokter kecil di sd, jagoan bunda di TK, bikin majalah desa, sosialisasi kerupuk lele dan pengemasan kopi, ngajar ngaji di TPQ, ngajar bimbel hampir setiap hari, latihan pbb buat persiapan 17-an, bantu ngecor bapak bapak desa, detektif rumah horor pak wo, nobar horor setiap hari, bantu imunisasi, posyandu, dan....
antri mandi.
Tinggal dirumah yang terbilang cukup 'sempit' untuk ditempati 19 orang wanita beserta aroma rumah yang khas banget karna nyatu sama kandang sapi, sukses buat aku rindu setiap menulis kalimat ini
temen-temen yang berasal dari jurusan, fakultas serta daerah yang beda-beda buat kita dituntut untuk mencoba saling memahami satu sama lain, memaklumi setiap sikap yang kadang tak enak dihati, mencoba mengerti bahwa tak setiap orang akan menjadi sesuai keinginan kita. iya! semuanya memang butuh pembiasaan
ada yang mandinya lama banget bikin yang antri kadang pengen mati, ada yang bajunya berserakan dimana-mana karna emang gak terbiasa rapi, ada yang ribut banget dikala kita-kita udah pada cape karna proker seharian, ada yang gak pernah sadar sama jadwal piket beli galon sampe kita hampir skarat karna dehidrasi. macem-macem deh.
but seriously, sebulan sama mereka buat aku belajar banyak. gimana sih ikhlas yang sebenernya, gimana sih agar kita gak mudah ngejudge orang lain sebelum tau cerita dibalik sikapnya, gimana kita sadar kalau ternyata pembelajaran itu bisa diambil dari apa aja, dari hal sekecil apapun.
34 orang yang aku yakin semuanya adalah orang baik, sukses bikin aku punya cerita sama masing-masing dari mereka.
rezita panutanqu, emma partner konserku, deva wanita 1000 problem, ummu tukang ketawa, dyar teman tidurku, dana si dandut, bunda asha yg istriable dan ibuable banget, ratu rully dan kopinya yg manthul, gendaga si laba-laba, masita yg sok kalem, bara bu dokter, novinda calon guru unch, ade ketua geng kamar samping, ayu ayototan, vidi yg jago konsep, anes yg hobi sendirian, dena yg ceriaaa, kordes aris yg amat jago masak, eng si peserta terbaik, danis kadivku yg paling perhatian, wildan tukang bully yg muntungnya kada beapik, pak abdi yg selalu ada ditiap momen, pikri teman sekelasku, Nanda killer iyakah, elfan loundry, adib tenda, ujang arca, sultan krpl, daus yg ga pernah aku dengar suaranya, bli fadel, ilham MUA hitz malang, putra dan dea yg selalu bersama, daaan kalian semua yg bikin aku rindu terus. Terimakasih rek, cerita tulungrejo kita gak bakal bisa dilupain.
Rumah pak wo, rumah bu ami, poskamling tempat kita rapat (kesehatan), sd yg rame, tk yang seru, indomaret tempat paling asik buat nyembuhin pikiran, nasi goreng jawa, mie ayam kecamatan, mie ayam wonogiri, waduk selorejo, pasar dan segala penjualnya termasuk bule getas :((((, bule susu bantal, pale pukis, tak lupa juga bakso lembu yg paling fenomenal, sosis 500-an, sapi-sapi bu ami yg selalu menemaniku, balai desa yg wifi nya kenceng, dan ter terimakasih untuk kursi ruang tengah pak wo yg mengantarkan ku pada jutaan air mata kala berbagi kisah dengan teman-teman luarbiasa. Sore hari dan senja jadi tak sama lagi.
kudengar hari ini hujan lebat tanpa tanda henti,
gemuruh angin ikut serta,
apa itu..?
kukira benar, ini rindu....
14-Agustus-2018
5 hari setelah pisah,
kukira rindu tidak seberat ini
Senin, 10 September 2018
Minggu, 13 Mei 2018
Pindah pun butuh proses ... #CoffeeBreak15
Berpindah dari satu tempat ke tempat yg lain adalah perihal yang tidak mudah. Mungkin jika hanya sekedar berpindah dari malang ke surabaya memang adalah hal yang mudah, tapi tidak dengan berpindah dari tempat yang buruk menuju tempat yang lebih baik. Hijrah dalam bahasa adalah kebalikan dari menyambungkan, yaitu memutus. Memutus hal-hal yang buruk, meninggalkan hal-hal yang Allah larang. Syarat hijrah adalah dengan hati nurani, dengan niat yang syiddiq (jujur), jika niatnya untuk dunia maka hanya dunia lah yang didapatkannya, jika niatnya karena Allah dan Rasul maka akhirat lah yang didapatkannya.
Hijrah membutuhkan pengorbanan, tentu. Mengorbankan hartanya, pekerjaannya, keluarganya, bahkan segala kenikmatan dunianya. Hijrah membutuhkan proses, tentu.
Berbicara tentang hijrah, banyak muslimah-muslimah yang makin hari semakin menyempurnakan pakaiannya. Menyempurnakan akhlaknya, ibadahnya, dan segala hal yang mendukung proses hijrahnya. Banyak... sangat banyak.
Tapi banyak juga yang sempurna niat hijrahnya, sempurna pakaian menutup auratnya, tapi belum mampu sempurna dalam menjaga hawa nafsunya terhadap godaan duniawi, pacaran misalnya. Hal ini manusiawi karena hijrah pun butuh proses, tolong jangan salahkan jilbab syar'i nya, jangan salahkan niat hijrahnya.
sering bahkan hampir selalu setiap berkumpul dengan kawan dimana saja, ada saja cibiran demi cibiran dilontarkan pada teman-teman yang berlabel hijrah tapi masih pacaran. Miris. saya lontarkan argumen untuk menjelaskan bahwa 'aurat' dan 'pacaran' adalah dua hal yang nyata berbeda. Masih banyak diluar sana orang-orang yang hijrah dan menyempurnakan hijrah seutuhnya. Tapi selalu saja hal kecil menjadi pandangan menyeluruh, seperti nila setitik rusak susu sebelanga, kaum hijrah bagai dipandang sebelah mata.
Pandangan orang lain adalah hak pribadinya, argumen saya adalah kewajiban saya untuk menjelaskan dan akhlak para muslimah adalah kewajiban mereka untuk memperbaiki dan menyempurnakan dengan sebaik-baiknya.
Saya belum menjadi sebaik-baiknya muslimah dan saya memang tak setuju dengan teman-teman yang hobi dakwah tapi masih melakukan maksiat tapi setidaknya jangan men-judge seseorang yang sudah berupaya memperbaiki diri tapi belum mampu sempurna dalam hijrahnya. Setidaknya mereka sudah berniat, mengupayakan, dan menyempurnakan hal-hal yang memang Allah wajibkan. Jangan merasa diri kita sudah lebih baik, karena manusia terbaik seperti Rasulullah pun pernah melakukan salah.
Hijrah membutuhkan pengorbanan, tentu. Mengorbankan hartanya, pekerjaannya, keluarganya, bahkan segala kenikmatan dunianya. Hijrah membutuhkan proses, tentu.
Berbicara tentang hijrah, banyak muslimah-muslimah yang makin hari semakin menyempurnakan pakaiannya. Menyempurnakan akhlaknya, ibadahnya, dan segala hal yang mendukung proses hijrahnya. Banyak... sangat banyak.
Tapi banyak juga yang sempurna niat hijrahnya, sempurna pakaian menutup auratnya, tapi belum mampu sempurna dalam menjaga hawa nafsunya terhadap godaan duniawi, pacaran misalnya. Hal ini manusiawi karena hijrah pun butuh proses, tolong jangan salahkan jilbab syar'i nya, jangan salahkan niat hijrahnya.
sering bahkan hampir selalu setiap berkumpul dengan kawan dimana saja, ada saja cibiran demi cibiran dilontarkan pada teman-teman yang berlabel hijrah tapi masih pacaran. Miris. saya lontarkan argumen untuk menjelaskan bahwa 'aurat' dan 'pacaran' adalah dua hal yang nyata berbeda. Masih banyak diluar sana orang-orang yang hijrah dan menyempurnakan hijrah seutuhnya. Tapi selalu saja hal kecil menjadi pandangan menyeluruh, seperti nila setitik rusak susu sebelanga, kaum hijrah bagai dipandang sebelah mata.
Pandangan orang lain adalah hak pribadinya, argumen saya adalah kewajiban saya untuk menjelaskan dan akhlak para muslimah adalah kewajiban mereka untuk memperbaiki dan menyempurnakan dengan sebaik-baiknya.
Saya belum menjadi sebaik-baiknya muslimah dan saya memang tak setuju dengan teman-teman yang hobi dakwah tapi masih melakukan maksiat tapi setidaknya jangan men-judge seseorang yang sudah berupaya memperbaiki diri tapi belum mampu sempurna dalam hijrahnya. Setidaknya mereka sudah berniat, mengupayakan, dan menyempurnakan hal-hal yang memang Allah wajibkan. Jangan merasa diri kita sudah lebih baik, karena manusia terbaik seperti Rasulullah pun pernah melakukan salah.
Jumat, 04 Mei 2018
Berkepribadian ganda? #CoffeeBreak14
Semakin kita tumbuh dan mendewasa, banyak hal yang kita pikir sepele ternyata sangat penting untuk dimengerti. Jenis kepribadian misalnya? sebelum ngobrol agak jauh, lets talk about our self.
Introvert atau Introversion adalah kepribadian manusia yang lebih berkaitan dengan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. Jadi manusia yang memiliki sifat introvert ini lebih cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.
Ambievert atau Ambiversion adalah kepribadian manusia yang memiliki 2 kepribadian, yaitu Introvert dan Extrovert. Manusia dengan kepribadian ambievert dapat berubah-ubah dari introvert menjadi extrovert, atau sebaliknya.
Extrovert atau Extraversion merupakan kebalikan dari Introvert. Manusia dengan kepribadian extrovert lebih berkaitan dengan dunia di luar manusia tersebut. Jadi manusia yang memiliki sifat extrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar.
Jujur, berada ditengah keramaian adalah hal yang paling kubenci. seperti ngopi-ngopi tanpa arah, rapat besar yang melibatkan banyak orang, dan diskusi basi yang topiknya pun tak menarik perhatian.
Sulit menerima orang baru, sulit mengungkapkan pendapat didepan orang baru, dan segala hal yang memerlukan adaptasi lebih. Tidak mudah terbuka dan percaya pada orang lain, bahkan untuk berbincang lebih saja tidak ada keinginan. Kadang hal ini membawa banyak kesulitan, walaupun aku tahu diriku ini tidak sepenuhnya introvert.
Setelah lama beradaptasi, memahami karakter dan sikap orang tersebut, aku bisa lebih ekstrovert dibanding para ekstrovert lainnya. Tapi dengan catatan, ketika aku sudah mengenalnya dengan baik.
tidak jarang banyak orang diluar sana yang menilai para introvert adalah orang yang aneh. Aku benci ke mall, jika tidak ada tujuan yan jelas. aku tidak begitu tertarik ke tempat rekreasi jika bukan dengan keluarga tercinta, dan aku benci orang baru.
Selalu ada ketakutan dan rasa tidak percaya diri setiap diharuskan bertemu dengan orang baru. Eits jangan salah, walaupun takut aku selalu mencoba keluar dari zona nyaman yang kubuat sendiri. Dari SD hingga kuliah aku selalu mencoba mengikuti banyak kegiatan dan serius didalamnya. Walaupun banyak juga yang kutinggalkan begitu saja heeee.
Dari SD aku sudah dibiasakan mama untuk tampil didepan orang banyak, walau tidak sepenuhnya kunikmati. Mengikuti berbagai lomba mulai dari lomba nyanyi hingga story telling. Mulai dari olimpiade sains hingga jadi MC setiap acara sekolah. Semuanya sudah kucicipi.
Di SMP aku tidak begitu tertarik dengan ekskul yang ada, selain karena memang tidak ada yang menarik kecuali PMR, aku juga kehabisan waktu untuk belajar mati-matian dan bersaing dikelas unggulan yang mengerikan itu. Setidaknya 10 besar paralel adalah hal yang membanggakan waktu itu.
Dan puncaknya adalah di SMA. Seperti ada dendam tersendiri karena saat SMP gak pernah punya waktu buat ekskul, aku bertekad untuk serius ekskul di SMA ini hehe. Mulai dari ikut Marching Band dan sempat tampil diberbagai acara besar tingkat kota, walaupun cuma satu semester. Menjadi pengurus OSIS juga sangat amat kunikmati, seperti memiliki keluarga kedua yang hangatnya masih terasa sampai hari ini. Pengurus OSIS 2012-2014 adalah orang-orang luarbiasa yang mengajarkanku bahwa tak selamanya orang baru itu mengerikan, dan tak selamanya sendiri itu menenangkan. Intinya bersyukur banget bisa kenal dengan mereka ini. selanjutnya adalah menjadi paskibraka tingkat provinsi, prestasi lucu yang gak sengaja ter-impikan karena sesuatu ehhh wkwk. Masuk dalam lingkungan yang benar-benar baru dan asing, adalah pencapaian yang waw untukku sendiri. btw, walaupun mengikuti segudang kegiatan aku tetap konsisten 5 besar setiap semseternya, Alhamdulillah.
Overall, itulah sekian banyak kegiatan yang pernah kucicipi selama sekolah dulu. waktu kuliah? oiya kalau kuliah sekarang aku cuma ikut BEM dan gak serius ngejalaninnya, bukan karena gak suka tapi belum nemuin point dimana aku cinta sama perkumpulan ini he-he. Selain BEM aku juga suka nulis-nulis kaya gini nih, cerpen / coffee break atau isu-isu yang lagi marak gitu. Aku juga lagi nyoba buat usaha stuff-stuff lucu yang kadang membuatku gagal untuk menjualnya karena lebih milih buat dipake sendiri -__-
Dari kegiatan-kegiatan yang kuceritakan diatas apa kalian bisa mengambil kesimpulan? Sebenarnya aku ini introvert / ambivert / ekstrovert?
Aku pun tak mengerti~~
Yang pasti, aku selalu merasa nyaman dan aman ketika berdiskusi dengan pikiranku sendiri. ketika menulis dan menuangkan apa yang membuatku resah. ketika ngeteh diruang keluarga bersama orangtua dan saudara-saudaraku. ketika senja dan mengendarai motor sendiri disepanjang jalan bandung (malang) dan disepanjang jalan menuju bandara (tarakan). ketika berbelanja apapun yang sudah kulist dari jauh-jauh hari dan sendirian, tanpa menunggu ataupun ditunggu. ketika melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah kutentukan. dan ketika tulisan ini dipahami oleh seseorang disana yang kesulitan memahamiku secara langsung eitssss.
Ada seikit pesan yang kuambil dari satu buku yang keren, lets read!
Dalam hidup kamu akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki tipe dan karakter beragam. Ada yang seindah bunga mawar, ada yang seperti amukan ombak, ada yang sekokoh gunung, ada yang secerah langit biru, dan ada pula yang misterius seperti hujan. Mungkin kamu juga akan menemukan seseorang berkarakter 'kejam' seperti topan ganas yang menyapu semua halangan didepannya. Mungkin kamu pun akan bertemu dengan mereka yang mengejutkan seperti petir, mereka dengan karakter sedingin es, atau mereka yang menghangatkan seperti api unggun.
Mereka dengan berbagai karakter mungkin akan mensuplay sinar matahari, menurunkan hujan, membawamu ke taman bunga yang indah, atau membawamu ke padang gurun yang kering. mereka dapat memberikanmu cahaya atau justru meredupkan cahaya yang kamu miliki. mereka akan menawarkanmu obat atau justru memberikanmu racun.
Jangan takut untuk "menjelajahi" mereka. jangan takut untuk bertemu setiap orang yang berbeda. jangan menutup dirimu untuk merasakan 'sentuhan' dari tiap-tiap orang yang berbeda.selalu ada sesuatu yang berbeda di genggaman dari tiap-tiap orang yang kau temui. mereka semua memiliki materi pelajaran yang berbeda yang akan mengajarimu tentang hidup. Pelajaran yang akan kamu pakai untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Untuk jadi dirimu yang terbaik.
Introvert atau Introversion adalah kepribadian manusia yang lebih berkaitan dengan dunia dalam pikiran manusia itu sendiri. Jadi manusia yang memiliki sifat introvert ini lebih cenderung menutup diri dari kehidupan luar. Mereka adalah manusia yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktifitas. Mereka juga orang-orang yang lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.
Ambievert atau Ambiversion adalah kepribadian manusia yang memiliki 2 kepribadian, yaitu Introvert dan Extrovert. Manusia dengan kepribadian ambievert dapat berubah-ubah dari introvert menjadi extrovert, atau sebaliknya.
Extrovert atau Extraversion merupakan kebalikan dari Introvert. Manusia dengan kepribadian extrovert lebih berkaitan dengan dunia di luar manusia tersebut. Jadi manusia yang memiliki sifat extrovert ini lebih cenderung membuka diri dengan kehidupan luar.
Jujur, berada ditengah keramaian adalah hal yang paling kubenci. seperti ngopi-ngopi tanpa arah, rapat besar yang melibatkan banyak orang, dan diskusi basi yang topiknya pun tak menarik perhatian.
Sulit menerima orang baru, sulit mengungkapkan pendapat didepan orang baru, dan segala hal yang memerlukan adaptasi lebih. Tidak mudah terbuka dan percaya pada orang lain, bahkan untuk berbincang lebih saja tidak ada keinginan. Kadang hal ini membawa banyak kesulitan, walaupun aku tahu diriku ini tidak sepenuhnya introvert.
Setelah lama beradaptasi, memahami karakter dan sikap orang tersebut, aku bisa lebih ekstrovert dibanding para ekstrovert lainnya. Tapi dengan catatan, ketika aku sudah mengenalnya dengan baik.
tidak jarang banyak orang diluar sana yang menilai para introvert adalah orang yang aneh. Aku benci ke mall, jika tidak ada tujuan yan jelas. aku tidak begitu tertarik ke tempat rekreasi jika bukan dengan keluarga tercinta, dan aku benci orang baru.
Selalu ada ketakutan dan rasa tidak percaya diri setiap diharuskan bertemu dengan orang baru. Eits jangan salah, walaupun takut aku selalu mencoba keluar dari zona nyaman yang kubuat sendiri. Dari SD hingga kuliah aku selalu mencoba mengikuti banyak kegiatan dan serius didalamnya. Walaupun banyak juga yang kutinggalkan begitu saja heeee.
Dari SD aku sudah dibiasakan mama untuk tampil didepan orang banyak, walau tidak sepenuhnya kunikmati. Mengikuti berbagai lomba mulai dari lomba nyanyi hingga story telling. Mulai dari olimpiade sains hingga jadi MC setiap acara sekolah. Semuanya sudah kucicipi.
Di SMP aku tidak begitu tertarik dengan ekskul yang ada, selain karena memang tidak ada yang menarik kecuali PMR, aku juga kehabisan waktu untuk belajar mati-matian dan bersaing dikelas unggulan yang mengerikan itu. Setidaknya 10 besar paralel adalah hal yang membanggakan waktu itu.
Dan puncaknya adalah di SMA. Seperti ada dendam tersendiri karena saat SMP gak pernah punya waktu buat ekskul, aku bertekad untuk serius ekskul di SMA ini hehe. Mulai dari ikut Marching Band dan sempat tampil diberbagai acara besar tingkat kota, walaupun cuma satu semester. Menjadi pengurus OSIS juga sangat amat kunikmati, seperti memiliki keluarga kedua yang hangatnya masih terasa sampai hari ini. Pengurus OSIS 2012-2014 adalah orang-orang luarbiasa yang mengajarkanku bahwa tak selamanya orang baru itu mengerikan, dan tak selamanya sendiri itu menenangkan. Intinya bersyukur banget bisa kenal dengan mereka ini. selanjutnya adalah menjadi paskibraka tingkat provinsi, prestasi lucu yang gak sengaja ter-impikan karena sesuatu ehhh wkwk. Masuk dalam lingkungan yang benar-benar baru dan asing, adalah pencapaian yang waw untukku sendiri. btw, walaupun mengikuti segudang kegiatan aku tetap konsisten 5 besar setiap semseternya, Alhamdulillah.
Overall, itulah sekian banyak kegiatan yang pernah kucicipi selama sekolah dulu. waktu kuliah? oiya kalau kuliah sekarang aku cuma ikut BEM dan gak serius ngejalaninnya, bukan karena gak suka tapi belum nemuin point dimana aku cinta sama perkumpulan ini he-he. Selain BEM aku juga suka nulis-nulis kaya gini nih, cerpen / coffee break atau isu-isu yang lagi marak gitu. Aku juga lagi nyoba buat usaha stuff-stuff lucu yang kadang membuatku gagal untuk menjualnya karena lebih milih buat dipake sendiri -__-
Dari kegiatan-kegiatan yang kuceritakan diatas apa kalian bisa mengambil kesimpulan? Sebenarnya aku ini introvert / ambivert / ekstrovert?
Aku pun tak mengerti~~
Yang pasti, aku selalu merasa nyaman dan aman ketika berdiskusi dengan pikiranku sendiri. ketika menulis dan menuangkan apa yang membuatku resah. ketika ngeteh diruang keluarga bersama orangtua dan saudara-saudaraku. ketika senja dan mengendarai motor sendiri disepanjang jalan bandung (malang) dan disepanjang jalan menuju bandara (tarakan). ketika berbelanja apapun yang sudah kulist dari jauh-jauh hari dan sendirian, tanpa menunggu ataupun ditunggu. ketika melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah kutentukan. dan ketika tulisan ini dipahami oleh seseorang disana yang kesulitan memahamiku secara langsung eitssss.
Ada seikit pesan yang kuambil dari satu buku yang keren, lets read!
Dalam hidup kamu akan bertemu dengan banyak orang yang memiliki tipe dan karakter beragam. Ada yang seindah bunga mawar, ada yang seperti amukan ombak, ada yang sekokoh gunung, ada yang secerah langit biru, dan ada pula yang misterius seperti hujan. Mungkin kamu juga akan menemukan seseorang berkarakter 'kejam' seperti topan ganas yang menyapu semua halangan didepannya. Mungkin kamu pun akan bertemu dengan mereka yang mengejutkan seperti petir, mereka dengan karakter sedingin es, atau mereka yang menghangatkan seperti api unggun.
Mereka dengan berbagai karakter mungkin akan mensuplay sinar matahari, menurunkan hujan, membawamu ke taman bunga yang indah, atau membawamu ke padang gurun yang kering. mereka dapat memberikanmu cahaya atau justru meredupkan cahaya yang kamu miliki. mereka akan menawarkanmu obat atau justru memberikanmu racun.
Jangan takut untuk "menjelajahi" mereka. jangan takut untuk bertemu setiap orang yang berbeda. jangan menutup dirimu untuk merasakan 'sentuhan' dari tiap-tiap orang yang berbeda.selalu ada sesuatu yang berbeda di genggaman dari tiap-tiap orang yang kau temui. mereka semua memiliki materi pelajaran yang berbeda yang akan mengajarimu tentang hidup. Pelajaran yang akan kamu pakai untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Untuk jadi dirimu yang terbaik.
Sabtu, 07 April 2018
Melawan arus #Cerpen5
Kubuka mata seperti biasanya,
kutarik nafas panjang tanpa jeda, ternyata hari ini masih sama. Matahari masuk
dari sela-sela jendela seukuran tubuhku sendiri, suara berbagai macam binatang
khas desa ini sudah menjadi senandung yang indah untukku. Dengan mata yang
masih sembab karena begadang semalam, kuambil handuk putih yang tergantung
dibelakang pintu, dengan malas-malasan melangkahkan kaki menuju kamar mandi
umum yang jaraknya amat jauh bagi pemuda yang memiliki rasa malas melebihi
apapun sepertiku.
Setelah 30 menit bersiap kukenakan baju
waskat cokelat yang membuatku terjebak di desa ini, kuturuni tangga yang
terbuat dari batang yang dibelah, hampir saja aku terpeleset karna membenci
rutinitasku sendiri. Bangun pagi, bernafas, mengambil handuk, mandi, dan pergi
kerja. Rutinitas yang membosankan, padahal baru dua bulan melalui rutinitas
kerja di pedalaman, bertemankan tekad
untuk segera lepas dari tanggung jawab PNS junior sepertiku. Tak banyak cita-citaku,
hanya berharap bisa kembali hidup dan berkarya dikota besar bukan didesa tak
berkehidupan seperti ini.
“Narai
kabar pak guru?” Sapa ma’ Tuwo yang berhasil menyadarkanku dari lamunan
keresahan pagi ini.
“Selamat
hanjeww ma’Tuwo, bahalap ih” Balasku
sekenanya, berbekal kemampuan bahasa dayak seadanya, hasil belajar mati-matian
selama dua bulan ini.
Perjalanan menuju sekolah yang
jaraknya sekitar 20 menit dengan jalan kaki, biasanya akan kuhadapi dengan berbagai macam cobaan
hidup. Lumpur didekat pohon besar disimpang jalan desa Boh yang membuatku harus
melepas fantopel mengkilap dikakiku, kandang babi Pak Kulo yang baunya semerbak
juga menjadi tantangan terberat yang tak jauh dari genangan lumpur tak
berkesudahan tadi, dan yang terakhir senandung sappe atau alat musik khas
daerah ini yang walaupun terdengar indah tapi sukses membuatku merinding karena
suara itu bak muncul tak bertuan, entah berasal darimana.
“Selamat
hanjeww pak guru” Sapa bu Asih, guru setengah tua yang menemaniku di
sekolah selama ini.
“hanjeww
bu Asih” dengan nada datar kujawab sapanya, berharap tidak ada basa-basi lagi
setelah ini.
Kabupaten Pontianak, Desa Saham,
kecamatan Embaloh Hulu. Daerah yang akan menjadi tempat mengabdiku selama dua
tahun ini, murid disini tak banyak hanya 15 orang. Karena sekolah tempatku
bekerja ini berada jauh dari kecamatan, memakan waktu 2 jam untuk masuk
kedaerahku mengajar. Maklumlah keadaan desa ini masih jauh dari jangkauan
pendidikan, banyak anak-anak yang harusnya mengenyam pendidikan tapi terpaksa
harus mencari uang dengan berburu dihutan dan berkebun. Berkali-kali kuadakan
sosialisasi tentang betapa pentingnya pendidikan pada orangtua mereka, tak
heran hanyalah penolakan dan terkadang makian yang kudapat.
Melihat keadaan sekolah yang masih
sepi, kusempatkan membuka buku milik wanita yang tak pernah kutemui ini, yang
beberapa hari lalu kutemukan terselip di antara tumpukan buku murid-murid.
“Intan?”
Lirihku melihat nama yang tertera disudut buku bersampul cokelat yang pudar
termakan usia.
Buku itu terlihat tak menarik dari
luarnya, setelah kubuka dan mencoba memahami kata demi kata yang hampir
terhapus karena usang akhirnya kusimpulkan bahwa benar ini adalah catatan
harian seseorang, atau umum disebut diary.
Kubaca perlahan, membuatku seolah-olah berada didalam cerita itu.
Senin, 14 September 2015. Hari ini
genap dua bulan aku menjadi seorang guru, rasa bangga tentu terasa walau
muridku tampaknya sangat sedikit dibanding sekolah dikota sana. Aku bangga
menjadi guru seni budaya disekolah pedalaman seperti ini, yang walaupun
kemampuanku tampaknya tak sepadan dengan kemampuan muridku. Hahaha, jujur saja aku
kesepian tapi akan kucoba untuk melalui ini sampai tuntas, lihat saja nanti.
Lores, nama murid kebanggaanku.
Tubuhnya tinggi tapi agak kurus untuk anak seusianya. Lores terlihat garang
tapi amatlah penyayang, pernah kulihat ia memeluk kucing yang sedang terluka
dipinggir jalan. Meyla, murid kesayanganku. Tubuhnya putih khas suku dayak,
wajahnya cantik tak bernoda ditambah lesung pipi manis disudut bibirnya. Ada
sepuluh anak lain yang juga muridku, tapi mereka berdualah yang paling
membekas.
“Pak Anton, anak-anak sudah hadir
semua. Takan Pak” Panggilan bu Asih
menyadarkanku dari lamunan didepan buku ini.
“Ah iya bu, sebentar saya masuk
kelas” Segera kututup diary Intan,
dengan rasa penasaran yang semakin menggebu untuk menyelesaikannya.
Mengajarkan matematika, bahasa
Indonesia, dan beberapa sejarah tentang Indonesia kuakhiri pengajaran hari ini
lebih cepat dari biasanya.
“Selamat
bentuk andau anak-anak, jangan lupa pr nya dikerjakan ya. Hati-hati
dijalan.” Kalimat penutup sederhana tanpa makna yang selalu kulontarkan setiap
kali mengantar mereka ke gerbang sekolah.
Kubuat kopi hitam disudut meja
kantorku, sebagai peneman melanjutkan diary
Intan yang membuatku bergairah untuk mengetahui lebih jauh. Kopi ini tanpa
gula, tapi kurasa selalu lebih manis dari hidupku, kuseruput perlahan dan
membuatku tenggelam dalam tulisan-tulisan penuh makna milik wanita tanpa wujud
ini.
Senin, 20 Januari 2016. Genap
setengah tahun aku mengabdi didesa ini. Tadi pagi kusempatkan bercermin di kamar ma’Tuwo, tak
menyangka diri ini sudah semakin kurus, tirus, dan tak terurus. Hahaha akhirnya
aku berhasil kurus walaupun perlu patah hati dulu. Lets read, selama enam bulan ini aku sudah lama tak menyempatkan
menulis diary lagi. Bukan lupa padamu
diaryku, hanya saja waktuku yang tak
ada. Dua bulan lalu aku melatih anak-anak untuk ikut festival budaya di
Jakarta. Keren kan? Aku gak nyangka mereka bisa mewakili kecamatan, kabupaten,
hingga provinsi untuk bertanding di ibukota. Walaupun tak mudah mematahkan
prinsip ketua adat agar memperbolehkan mereka keluar dari daerah ini untuk
mengikuti lomba.
Banyak pengalaman pahit dan manis tentunya,
kamu tau Dion? Iya pacarku itu, sampai tega memutusiku hanya karena beralasan
aku tidak ada waktu untuknya lagi. Aku kesepian, jujur saja. Dia lupa siapa
yang selalu ada untuknya saat kuliah dulu. Jadi ngelantur nih hehehe, lanjut ke
cerita festival tadi ya. Lores dan Meyla yang jadi tokoh utama dalam teatherku,
kau tau darimana inspirasi itu? saat aku menonton salah satu teather disudut
Kota Bandung bersama Dion beberapa tahun lalu.
Stop! Jangan bahas Dion lagi. Aku
bangga terlahir menjadi anak Indonesia, menjadi seorang guru, apalagi seorang
guru seni seperti sekarang ini. Indonesia memiliki ribuan pulau, ribuan suku,
dan jutaan manusia. Bukankah hanya di Indonesia kau bisa menemukan apa itu
damai dalam keberagaman? Apa itu mencintai budaya sendiri? Indonesiaku
sederhana dan apa adanya. Mengabdi di pedalaman desa embaloh hulu, mengajari
murid-murid yang luar biasa, dan membantu mereka mengenal negaranya sendiri
bahkan dunia. Menyadarkan mereka bahwa dunia bukan hanya sekedar hutan dan
kebun, bahwa hidup bukan hanya sekedar makan apa kita hari ini?, tapi hidup
adalah tentang mimpi, tentang luasnya Indonesia ini, betapa indahnya berbagai
budaya yang ada didalamnya. Ahh aku sendiri baper
menuliskan ini, belum sempat kuceritakan tentang festival tapi obor penerang
rumah kami sudah harus dimatikan pertanda waktu tidur malam ini. Akan
kulanjutkan besok yaa? Selamat tidur diaryku.
“Pak Anton tidak pulang? Sudah jam
makan siang pak, mari makan dengan saya diwarung ma’tuwo” Lagi-lagi sapa bu
Asih menyadarkanku dari buku diary
ini.
“Oh iya bu, silahkan duluan saja bu.
Saya makan di rumah betang pak Uno saja bu.” Alasan penolakanku karena sedang
malas untuk berbincang lebih jauh.
“Wah enaknya Pak Anton punya
orangtua asuh seperti pan Uno ya, baik hati. Saya duluan ya pak”
Pak Uno memang baik hati karena
mengizinkan guru bujangan sepertiku untuk tinggal disalah satu kamarnya. Rumah
betang pak Uno adalah satu dari tiga rumah betang yang terhitung paling besar
di desa ini. Rumah yang merupakan pusat kebudayaan dan aktivitas masyarakat
dayak. Yang mana merupakan simbol kebersamaan, kesetaraan, dan hidup gotong
royong. Tidak ada kesenjangan hidup bagi masyarakat, semua berhak memiliki
hidup yang lebih baik. Rumah ini adalah tempat dimana segala cinta dan
kehangatan bermuara, walaupun aku sendiri belum merasakannya.
Dengan air yang masih menetes dari
rambutku sisa mandi sore ini, kuambil baju kaos putih dan celana bola warna
biru yang menjadi andalanku. Kutekadkan niat hari ini untuk menyelesaikan buku
diary tanpa pemilik ini.
“Pokoknya
harus selesai malam ini juga, harus, kudu, mesti.” Ucapku bermonolog pada diri
sendiri.
Kubuat kopi hitam tanpa gula untuk
menemani senja menuju malamku bersama diary lusuh ini. Senandung sappe
bertalun-talun menambah senja ini semakin mencekam, tidak indah sama sekali
pikirku. Senja didesa ini selalu diiringi dengan alunan sappe yang merupakan
alat musik khas dayak, tidak ada azan maghrib yang biasa kudengar dirumah,
maklumlah daerah ini umat muslim sangatlah minoritas.
Kuambil posisi ternyaman disudut
kamar, ditemani pencahayaan seadanya dari lampu minyak tanah, kubuka diary
lusuh yang tidak begitu tebal. Karena bertekad menyelesaikannya malam ini juga,
aku memilih untuk membukanya dari tengah buku. Tak peduli bagaimana kelanjutan
kisah tadi.
“Kenapa selalu menulis di hari senin?” tanyaku
dalam hati setelah membuka halaman ini.
Senin, 24 Juli 2016. Genap setahun
aku disini. Jujur aku takut, aku takut masa kerjaku didesa ini habis. Lores dan
Meylan sudah semakin luar biasa dalam memainkan peran, Candra dan Vivi semakin
lincah memainkan jari mereka diatas kanvas, dan suara merdua Piter sukses
membuatku menangis haru mendengarnya menyanyi. Awalnya aku tidak menyangka
anak-anak dipedalaman seperti ini memiliki kemampuan yang luar biasa, aku takut
meninggalkan mereka.
Aku menceritakan bagaimana
sebenarnya dunia diluar sana, mata mereka tampak berbinar mendengarkanku
bercerita. Aku bercerita tentang apa itu internet, bagaimana internet mampu
membuat dunia terasa bagai dalam genggaman. Bagaimana internet mampu membeli
waktu, bahkan memberimu uang tanpa perlu repot berburu dan berkebun, hanya perlu bercerita dan tertawa didepan
kamera dan mengunggahnya di youtube. Mereka terkagum-kagum sampai kesulitan
bernafas karena tak hentinya bertanya padaku.
Aku menceritakan bagaimana pesawat
dan kereta api mampu mengantarkanmu ketempat terjauh sekalipun didunia ini.
Dengan segala rupa dan sifat manusia, dengan segala macam musim, dan adat
istiadat yang berbeda. Mengajarkan pada mereka bahwa dunia ini luas, tak hanya
alat musik sappe yang ada, tak hanya rumah betang yang bisa mereka lihat, dan
tak hanya menjadi pemburu serta petani kebun yang bisa mereka lakukan.
“Tapi ketua adat tidak membolehkan
kami keluar dari daerah ini bu, budaya disini harus dipertahankan kan?” sanggah
Lores memutuskan cerita panjangku.
Desa ini indah namun menyedihkan,
aku berusaha keras membuat anak-anak ini bermimpi. Sekolah setinggi-tingginya
dan melakukan perubahan pada desa mereka. Menjadi insinyur, dokter, guru dan
apapun yang mereka impikan. Tapi larangan adat didesa ini sukses membuatku tak
tau harus melakukan apa dan hanya bisa memberikan keyakinan-keyakinan yang
entah akan mereka terima atau tidak.
Kubuka halaman jauh dibelakang untuk
melihat cerita apa yang terjadi selanjutnya pada guru luarbiasa ini.
Senin, 20 Januari 2017. Lores sudah
satu bulan ini tidak pernah lagi pergi kesekolah, Meylan kehilangan partner
theater nya. Aku kecewa, jujur saja. Ayah Lores melarangnya melanjutkan sekolah
karena tau aku mengajari mereka untuk terus bermimpi, jangan hanya mau menjadi
pemburu dihutan, tapi harus membuat perubahan pada desa dan sekolah keluar dari
desa ini, sejauh-jauhnya. Walaupun aku tau hal ini bertentangan dengan
adat-istiadat yang ada disini.
Beberapa kali kucoba mendatangi
rumah betang Lores, membujuk orangtuanya agar memberikan kesempatan pada anak
mereka setidaknya untuk menamatkan SD. Lagi-lagi penolakan yang kuterima, Lores
diharuskan membantu orangtuanya dikebun karena dia anak laki-laki pertama dalam
keluarga.
Setelah perginya Lores, semangatku
untuk mengajar hampir pudar. Ditambah lagi anak-anak yang lain juga ikut-ikutan
sering bolos sekolah demi membantu orang tua mereka. Aku memang tidak berhak
melarang mereka, tapi untuk kecewa aku berhak bukan? Apa salah jika aku
bermimpi anak-anak dipedalaman seperti mereka harus bercita-cita tinggi? Apa
salah jika aku bermimpi anak-anak seperti mereka harus mencintai budaya mereka
sendiri tanpa dibatasi oleh ketentuan adat-istiadat yang tak jelas
asal-muasalnya. Maaf mungkin terkesan kasar, tapi aku benci aturan ini. Apa
salahnya sekolah setinggi-tingginya? Dikota besar, di kota yang memberikan
banyak pelajaran bahkan di negara lain? Apa salahnya?. Aku ingin mereka
mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak dikota, mengenyam pendidikan tinggi
dan bebas berkarya dimanapun. Bagaimana bisa maju jika tetap dikampung halaman,
air yang mengalir jernih tak akan keruh menggenang kan? Singa pun tak akan
dapat mangsa jika tetap didalam kandang. Bukankah anak panah tak akan sampai
pada sasaran jika tetap pada busur nya?.
“Ahh kok mati sih? Dikit lagi loh
ini” makiku kesal pada lampu atau apalah ini. Membuatku berhenti membaca diary
Intan.
Lampu didekatku tiba-tiba mati.
Kuperiksa dengan saksama, ternyata minyak tanahnya habis. Kubuka laci meja
disudut kamarku, terlihat senter hitam peninggalan bapak yang diselipkan
ditasku saat pergi kedesa ini. Ternyata barang tua ini berguna juga, pikirku. Segera kunyalakan senter dan
kulanjutkan membaca diary Intan yang semakin membuat penasaran.
Senin, 5 Juli 2017. Alhamdulillah,
genap sudah masa dinasku dua tahun didesa ini. Tak banyak kata yang kuucapkan
kali ini. Terimakasih desa indah penuh cerita, selamat tinggal murid-murid
kebanggaanku yang mimpinya terenggut oleh adat-istiadat tak bertuan.
Kutinggalkan diary ini dengan berharap ada seseorang disana yang akan membacanya
dan membantuku mengubah semua ini.
Setelah ini aku akan pergi jauh,
mungkin mengajar mungkin juga hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus
anak-anakku dirumah. Dion minggu lalu melamarku, ternyata kami tidak bisa hidup
berjauhan. Cinta itu masih ada. See you
diary ku.
“akhir apa ini? Gak jelas banget
endingnya” ada yang lain dihatiku saat membaca ternyata Intan memilih pergi
dari desa ini bukan hanya karena masa dinasnya habis, tapi karena pernikahan
dengan Dion mantan pacarnya itu.
Lama aku merenung sambil merebahkan
diri dikasur tipis pemberian pak Uno, sambil menatap langit-langit kamar yang
tidak kunjung berubah. Gelap, suram dan berdebu. Kutarik kesimpulan bahwa Intan
adalah guru yang luar biasa, yang bukan hanya mengajar pelajaran sepertiku tapi
juga mengajarkan arti hidup pada murid-muridnya, hal yang belum kumiliki hingga
saat ini. Kubulatkan tekad, berjanji pada diri sendiri serta negara ini bahwa
aku akan membantu Intan mewujudkan mimpinya terhadap anak-anak pedalaman ini, aku
akan membuktikan bahwa adat-istiadat yang membatasi anak-anak ini menggapai
mimpinya akan segera kuhilangkan, budaya lama yang memang dicintai orang-orang
didesa ini tapi perlahan juga akan mematikan kemajuan bagi mereka. Aku akan
memperbaikinya.
Malam ini adalah malam terbaik
sepanjang hidupku, akhirnya kutemukan tujuanku didesa ini. Bukan sekedar
mengajar tapi memberikan perubahan pada daerah yang tak tersentuh oleh kemajuan
ini. Setelah sekian lama tak meminta pertolongan, akhirnya terucap juga.
“Ya Allah.. mudahkan hambamu untuk
bermanfaat bagi orang banyak. Bantu aku menjadi hambamu yang taat ya Allah”
Doa singkat tadi seperti bahan bakar
yang membakar semangatku untuk hidup lebih baik, merindukan mesjid dan segala
aktivitas didalamnya tentu kurasakan. Jujur saja selama aku ditugaskan didesa
ini, belum sekalipun aku bersujud pada Tuhanku sendiri. Alasannya sederhana,
aku merasa Tuhan tak mendengar doaku dengan mengasingkanku didesa tak
berkehidupan seperti ini. Selama ini aku melihat tapi tidur dari kebenaran, aku
menatap tapi buta dari kebaikan, lalai demi lalai kulakukan tapi berharap surga
sebagai balasannya. Bukankah Tuhan maha pemaaf? Ya aku percaya itu.
Pagi ini aku tidak mengajar
digantikan oleh Bu Asih, demi pergi kerumah ketua adat dan membicarakan masa
depan desa ini.
“Selamat hanjeww pak Alu” Sapaku dari
depan pintu rumah betangnya yang berukiran sarat makna.
“Hei
pak guru kita, hanjeww hanjeww” Balas
pak Alu dari dalam rumahnya. Pak Alu adalah orang yang bersemangat dan
antusias, terlihat dari wajahnya yang tidak tua termakan usia.
Tanpa basa-basi kuajak pak Alu
membicarakan tentang maksudku kerumahnya. Membicarakan tentang perkembangan
anak-anak murid disekolah. Kuceritakan tentang mimpi anak-anak berdasarkan
cerita dibuku Intan, walaupun aku tak pernah mendengar langsung dari anak-anak
itu sendiri. Awalnya pak Alu sangat antusias, lama-kelamaan mimik wajahnya
menjadi menyeramkan dan tak hangat seperti tadi. Aku memilih menyudahi
perbincangan ini dan mencari cara lain untuk meruntuhkan prinsip pak Alu.
Kulalui hari-hari berikutnya dengan
semangat yang sama. Belajar dari buku Intan, kuberikan anak-anak pedalaman ini
semangat motivasi yang lebih berapi-api, yang tak hanya membuat mereka
kesulitan bernafas karena antusias bertanya tapi juga membuat mereka tak
berkedip ketika aku menggambarkan bagaimana mempesona nya budaya diluarsana. Bagaimana
tari bebilin dari Kalimantan Utara yang berasal dari cerita rakyat mengerikan,
bagaimana lagu suwe ora jamu yang sarat akan makna, dan bagaimana budaya-budaya
lain yang juga mempesona bukan hanya untuk diketahui tapi dirasakan langsung.
Akhirnya Lores kembali ke sekolah
setelah kuberikan pilihan pada orangtuanya. Aku menawarkan bibit unggul yang
tidak sedikit untuk perkebunan mereka, yang kuambil dari teman dikota. Dengan
imbalan Lores harus kembali kesekolah. Tak lain dan tak bukan, orangtuanya
melepaskan Lores dengan setulus hati.
Setelah melakukan pendekatan dengan
Pak Alu karena sering membantunya berburu diakhir pekan, berbagi cerita dan
pengalaman dengannya. Membuat Pak Alu sedikit demi sedikit luluh padaku. Ia
mulai antusias jika kubahas tentang betapa majunya Indonesia sekarang ini,
betapa dunia menjanjikan perubahan yang luar biasa pada kehidupan manusia,
bagaimana kita tidak perlu susah-susah mencari bibit unggul sendiri karena
dikota sudah banyak teknik pertanian yang maju, bagaimana kita tak perlu susah
payah berburu hanya dengan senjata tradisional, dan bagaimana indahnya budaya
diluar sana selain alat musik sappe yang biasa dimainkan Pak Alu. Melihat
perkembangan ini, aku yakin kemajuan desa ini sudah didepan mata.
“Pak guru bara kueh? Besok dipanggil Pak Alu kerumah betang.” Sapa ma’Tuwo
saat aku baru pulang dari rumah Lores mengantarkan bibit yang kujanjikan.
“Dari rumah Lores ma’. Terimakasih
ma’ sudah disampaikan.” Apakah ini pertanda baik, pikirku dalam hati.
Sampai dirumah pak Alu dengan rasa
hati yang tak karuan, kuambil posisi duduk disudut ruang tamu yang cukup luas
itu. Entah akan siap dengan keputusan pak Alu atau tidak.
“Ada apa bapak memanggil saya
kesini?” Tanyaku dengan jantung yang hampir berhenti karena lelah berdetak
kencang dari tadi.
“Saya sudah memikirkan saran pak
guru selama ini, saya sudah berpikir panjang dan diskusi dengan semua tokoh
adat. Dengarkan saya bercerita sedikit, saya lahir dari ibu dan bapak asli suku
pedalaman disini, saya dibesarkan dengan ayah yang keras tanpa ampun. Berburu dan
berkebun adalah satu-satunya pekerjaan untuk kami. Ayah saya juga ketua adat
disini sebelum akhirnya ia meninggal karena obat yang didapat dari kota. Kau
tau kan obat apa yang membuat manusia gila dan melupakan tuhannya? Obat yang
kejam, merenggut nyawa, serta harapan setiap orang yang memakannya. Masa remajaku
diisi dengan melihat ayah yang sakaw disudut rumah karena kehabisan obat, ibu
yang pergi kesana-kemari mencari uang demi membelikan barang haram itu hanya
agar ayah tidak kesakitan. Kami bodoh, kami tak tau obat itu adalah cara paling
cepat memanggil malaikat maut.” Pak Alu menceritakan dengan mata berkaca-kaca.
“saya pernah punya cita-cita, saya
ingin sekolah tinggi tapi desa kami belum tersentuh pendidikan saat itu. Saya
pernah punya cita-cita menjadi dokter yang bisa menyembuhkan orang banyak
termasuk sakit ayah yang saya kira adalah penyakit. Melihat betapa kejamnya
pengaruh narkoba yang membunuh ayah. Hal itu membuat saya sebagai penerusnya
yang kala itu beranjak dewasa, memutuskan untuk menghentikan segala aktivitas
yang berhubungan dengan dunia luar, dunia selain desa kami. Saya benci kota,
tak ada satupun anak yang boleh sekolah keluar desa kami, kalaupun itu terjadi
ia tak akan boleh lagi menginjak desa ini selama-lamanya, meninggalkan semua
keluarga dan rumahnya.” Cerita pak Alu seakan tanpa jeda, disertai mimik kecewa
sedih dan marah yang menjadi satu.
“Tapi kota tidak semua berpengaruh
jahat pak, segala kebaikan juga bisa kita temukan disana.”
“Diam. Saya belum selesai. Setelah
saya berpikir dan mengenal guru sepertimu dan Intan. Pikiran saya terbuka agar
anak-anak didesa ini bisa menggapai mimpinya. Saya tau tidak selamanya diluar
sana bisa berdampak buruk untuk desa ini, karena desa juga tak selamanya
berdampak baik pada mereka. Segenap hati saya serahkan mimpi anak-anak itu
dipundakmu, bantulah mereka menggapainya, kenalkan mereka pada dunia yang luas
ini pada budaya yang beraneka ragam di Indonesia, ajarkan mereka untuk
mencintai budayanya tanpa harus dibatasi oleh keterbatasan. Bantu dia pak guru”
Pak Alu mengakhiri cerita panjangnya dengan senyum tipis disudut bibirnya,
sambil menepuk pundakku yang dari tadi terdiam tanpa sanggup berkata-kata.
Hari-hariku didesa ini semakin
menyenangkan, kami dihadapi dengan berbagai kompetisi dikota. Kompetisi budaya
maupun pengetahuan. Tidak lama lagi untuk kedua kalinya Lores dan Meyla akan
pergi ke Jakarta menghapi festival budaya. Hari ini, besok, dan seterusnya akan
kutanamkan pada mereka bahwa mereka semua sama dengan anak lainnya. Tak peduli berasal
darimana, bersuku apa, berkududukan apa, mereka semua sama. Anak Indonesia yang
berhak untuk menggapai mimpinya.
Kepergian ke Jakarta kuniatkan
memang untuk membimbing Lores dan Meyla di festival, tapi disamping itu
terselip tanda tanya kecil dihatiku, dimana Intan?. Mendengar kabar dari ma’
Tuwo bahwa Intan sekarang mengajar seni disalah satu sekolah dasar di Jakarta,
membuatku semakin semangat untuk membawa Lores dan Meyla kesana. Berharap
bertemu dengan wanita yang kukagumi dari tulisan-tulisan singkatnya.
Penampilan Lores dan Meylan luar
biasa, diluar ekspektasiku. Mereka tampil bak pemeran profesional yang
berpengalaman.
“Bapak
ketemu panitia dulu ya, kalian tunggu disini sambil tunggu pengumumannya. Oke?”
“Iya
pak” jawab Meyla dan Lores berbarengan.
Setelah sepuluh menit kutinggalkan
mereka diantara kursi penonton, kulihat dari jauh Lores dan Meyla tampak asik
berbincang dengan seorang wanita yang berkali-kali menepuk pundak mereka.
Tampak punggung mereka bergoyang-goyang karena gelak tawa tanpa henti seperti
orang yang lama sekali tak berjumpa.
“Akrab
sekali?” lirihku sambil menghampiri mereka.
“Pak
Anton, ini guru kami. Bu Intan, cantikkan pak?” Ucap Lores yang sadar aku daritadi
memperhatikan mereka.
“Oh
ini Pak Anton, selamat ya pak sudah berhasil bawa anak-anak kesini. Gak nyangka
bisa ketemu mereka disini, bagaimana bukunya Pak?” Bu Intan menatap Anton
dengan tatapan penuh rasa kagum.
“bukunya
ada kok bu, ada.” Jawab Anton singkat disertai jantung yang berdetak kencang
seperti orang yang tlah lama kehilangan sesuatu lalu menemukannya lagi.
Perbincangan kami terus berlanjut,
menceritakan betapa lucunya kebiasaan ma’Tuwo, betapa menyedihkannya masa lalu
Pak Alu, dan bagaimana anak-anak kini bisa menggambarkan mimpi mereka
masing-masing. Dan tentunya bagaimana kisah dibalik perjuanganku menyelesaikan
diary Intan.
“Dion
apakabar bu?” Pertanyaan singkatku terlontar begitu saja.
“Oh
dia, sudah tidak ada kabarnya pak. Diary saya belum sempat terselesaikan, malah
sudah ditemukan orang lain”
“Boleh
saya yang menyelesaikannya?” Pertanyaan bodoh macam apa ini, tiba-tiba saja
terlontar, saat aku memastikan tidak ada satu cincin pun yang tersemat dijari
Intan.
“Kita
selesaikan sama-sama”
Beberapa bulan kemudian Intan pindah
tugas kembali ke desa embaloh hulu bersama Anton. Merajut rumah tangga dan
mewujudkan mimpi mereka untuk membangun sekolah disana lebih maju dan
menjadikan anak-anak menjadi pioneer perubahan untuk desa hingga negara mereka.
Anton semakin percaya bahwa takdir tuhan tidak pernah salah dan keberadaannya
didesa pun pasti punya maksud, menemukan belahan jiwanya misalnya. Walaupun
Anton dan Intan berasal dari tanah jawa, mereka tetap bertekad memajukan
sekolah di pedalaman kalimantan ini. Karena tak peduli apa sukunya, darimana ia
berasal, bagaimana kebudayaannya. Kita tetap satu, Indonesia.
TAMAT
GLOSARIUM
Diary = buku harian dalam
bahasa inggris
Narai
kabar = Apa kabar, dalam
bahasa dayak.
Bahalap
ih = Baik, dalam bahasa dayak
Selamat
hanjeww = Selamat pagi, dalam
bahasa dayak
Selamat
bentuk andeu = Selamat siang, dalam bahasa
dayak
Sappe = Alat musik khas suku
dayak
Takan = silahkan, dalam
bahasa dayak
Bara
kueh = darimana, dalam
bahasa dayak
Rumah
betang = Rumah khas suku
dayak, memanjang kebelakang dengan kolong rumah yang tinggi. Berukuran sangat
luas yang diisi oleh satu keluarga besar.
Pusat segala aktivitas masyarakat. Sekarang keberadaannya mulai
jarang dikalimantan itu sendiri.
Note: Cerpen diatas meraih juara 1 pada babak final "Kepenulisan sastra" Rektor Cup UMM 2018, dengan tema "Cinta budaya"
Kopi hitam #Cerpen4
Pagi ini Piter dan istrinya tampak
tergesa-gesa melaksanakan kegiatan harian mereka, membersihkan kebun dan
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang sedari kemarin tak kunjung usai.
Rumah yang tidak begitu besar tapi lumayan jika hanya ditinggali bertiga
membuat mereka pontang-panting membereskannya, maklumlah kegiatan berberes ini
hanya dilakukan setiap ibu mertua akan datang. Cat biru sendu yang semakin
sendu karna dimakan zaman serta pilar-pilar seukuran satu pelukan manusia
menambah kesan betapa kunonya rumah ini.
“Bosan lah aku tinggal disini, gak
ada rumah yang agak bagusan?” ucap istrinya sambil merebahkan diri dikursi
merah jambu yang tak pantas lagi disebut merah jambu itu.
“Kalau kau punya warisan rumah dari
orangtuamu yang mentereng tu, ndapapa pun kita pindah” balas Piter dengan nada
acuh, sambil bergegas mengambil handuk hijaunya.
“Tidak pernah bersyukur” katanya
lirih. Sambil mengguyur badannya, Piter memaki dirinya sendiri. Mengingat
betapa ia menyesal tidak mendengarkan perkataan ibunya dulu, betapa ... “ah
sudahlah” pikirnya, toh penyesalan beribu kalipun tidak akan berguna sekarang.
Dengan handuk menggantung dileher dan rambut masih meneteskan air, digapainya
kemeja krem bergaris-garis putih kesayangannya itu. Sambil berkaca, Piter
meyakinkan diri bahwa hari ini akan menjadi hari baik untuknya.
Lelaki menjelang 27 tahun ini pergi
ke ruang tamu dan diraihnya kunci motor matik jadul keluaran tahun 2005. Walau
jadul tapi berjasa pikirnya. Tanpa menoleh kearah istrinya yang dari tadi asik
bermain smartphone keluaran terbaru, dirangkulnya anak mereka semata wayang dan
didudukkannya di boncengan motor kebanggaannya. Hari ini Piter akan kembali
mencari pekerjaan setelah satu bulan di-phk dari perusahaan yang sudah 5 tahun
memberinya makan.
Anaknya tak banyak bicara, tapi tak
bisa juga disebut kalem. Anak berusia 5 tahun yang tampak dewasa sebelum
waktunya. Tak suka bermain bersama teman sebayanya, tak ceria seperti anak
seusianya, dan tak pernah berucap lebih dari 6-8 kata sekali membuka mulutnya.
Istimewanya Anak semata wayang Piter ini memiliki paras rupawan khas
metropolitan, gabungan gen ayah dan ibunya yang merupakan mantan duta kampus di
eranya.
“Belajar yang rajin ya nak, jangan
nakal. Kotak makanmu harus dihabiskan, jangan kau buang lagi ya. Sudah masuk
sana.” Kalimat Piter sehari-hari setelah sampai digerbang sekolah anaknya.
Seperti biasa, tidak ada respon apapun dan ia berlalu pergi tanpa merasa
bersalah.
Peluh berjatuhan, baju krem yang
rapi kini menjadi lepek karena basah dibasuh keringat. Sembari menenteng ijazah
S1 pendidikan ekonomi dari universitas swasta yang tak begitu terkenal, Piter
terus menelusuri gedung demi gedung perkantoran di pusat Kota Bandung. Matahari
yang seakan tak berbelas kasih hari itu semakin menambah lengkap deritanya.
“terhitung 15 kantor kudatangi,
hidup kenapa jadi sesusah ini” lirih Piter sambil menyeruput kopi hitam buatan
bi E’em disudut jalan, yang sudah 9 tahun menjadi langganannya.
Kopi selalu menjadi hal paling manis
untuknya, walau sebenarnya kopi ini tidak pernah ditambahi gula. Dari jauh
dilihatnya dua orang pemuda dengan tas ransel yang tampak tidak lebih berat
dari jinjingan ijazahnya saat ini, sedang berbincang ringan dengan sesekali
saling tertawa satu sama lain. Dipejamkannya mata, kopi pahit membawanya pada
kenangan bertahun-tahun lalu.
“gas..
gimana persyaratanku kemarin?”
“Amanlah
pit, Insya Allah lusa dapat kabar bahagia lah kau” jawab Bagas ringan sambil memainkan
handphone Nokia keluaran terbaru saat
itu.
“enteng
kali jawabanmu, dagdigdugser aku gas. Kau tau lah kalau aku tak lolos bisa
habis aku digilas ammaku” balas Piter
dengan wajah kesal dan kaki yang selalu digoyang-goyangkan membuat kursi
seperti terkena gempa.
Pemira atau pemilu raya Universitas
Udoyono Bandung, beberapa bulan kedepan akan segera terlaksana. Piter
mencalonkan diri sebagai salah satu kandidat, dilihat dari napak tilas
prestasinya yang luar biasa, tak canggung baginya untuk mengajukan segala
persyaratan. Kebalikannya, Bagas yang juga memiliki mimpi sebesar Piter tapi
tak mampu untuk mengajukan persyaratan karena IPK yang hanya sanggup mengambil
18 sks.
Bagas memang tak seberuntung Piter
dari segi prestasi, tapi dari segi keluarga dan keuangan Bagas lah sang juara.
Ayahnya salah satu pejabat berpengaruh di Jawa Barat dan ibunya adalah
pengusaha berlian paling laris se lembang raya. Mobil keluaran terbaru mana
yang tidak dimilikinya, hape canggih mana yang tidak sempat digunakannya barang
satu dua bulan. Cowo parlente yang menjadi idaman banyak mahasiswi dikampus
mereka yang memiliki kurang lebih enam ribu mahasiswa ini. Tapi, ada satu hal
lagi yang tidak dimiliki Bagas.
“Pit,
pulang ngampus ntar main kerumahku dulu nah” ajak Bagas sambil merapikan rambut
mohaknya didepan cermin kecil dikantong kecil tasnya.
“Ada
game apalagi gas? Aku gak bisa kayanya, habis ini masih ada rapat sama
anak-anak internal” jawab Piter sekenanya sembari mematikan laptop tuanya dan
dengan cepat memasukannya kedalam ransel hitam yang hampir kecoklatan.
“Halah,
gak bosen rapat terus? Oiya lupa yaa kan calon presma”
Pertemanan 9 tahun sejak mereka
masih menggunakan putih biru ternyata tak membuat Bagas begitu paham apa
sebenarnya yang menjadi prioritas Piter sejak dulu, tak lain dan tak bukan
hanyalah prestasi. Disamping kemewahan hidup yang tak berkesudahan, Bagas tak
sepenuhnya bahagia karena orangtuanya tak pernah memahami apa yang dia impikan
seutuhnya. Selalu membandingkan, tak pernah puas, bahkan tak jarang Bagas tidak
berbincang dengan mereka hampir seminggu karena terlalu sibuk dengan dunia
masing-masing. Kehidupan yang benar-benar tidak diimpikannya.
Dari jauh, gadis manis berambut
panjang dengan rok selutut berwarna coklat muda dengan corak bunga-bunga dari
tadi sibuk memperhatikan Piter. Piter yang sebenarnya juga sadar kalau sedang
diperhatikan semakin mencoba menyibukkan diri dengan memberi instruksi tanpa
jeda pada tim sukses pemiranya. “Permataku
yang indah...” gumam Piter.
Indah namanya, gadis manis dari
jurusan pendidikan bahasa Indonesia sudah menjadi secret admirer Piter sejak dulu. Mengagumi sosok senior yang
merupakan aktivis berpengaruh di kampus, hanya karena sebotol air mineral yang
diberikan Piter saat ospek fakultas dua tahun lalu. Indah mengaguminya tanpa
jeda, bagaimana tidak? Sosok itu selalu berprestasi baik dibidang akademik
maupun non akademik, ditambah lagi wajah berwibawa khas laki-laki idaman dengan
kacamata modern yang tersangga di hidung mancungnya, sempurna pikir Indah. Sama
halnya dengan Piter, ia selalu memantau Indah dari jauh, melihat walaupun tak
terlihat, mengetahui tanpa diketahui. Permataku yang Indah, lirih Piter.
Kesibukan pemira membuat Bagas juga
ikut-ikutan mencari kesibukan. Bagas yang sudah lama menjadi anggota The Sindan (Theater, Sing & Dance) fakultasnya,
disibukkan dengan pentas tahunan yang tidak lama lagi berlangsung.
“Indah..
besok jadi temenin aku cari kostum anak-anak?” Tanya Bagas dengan harap-harap
cemas sambil memainkan kunci mobilnya.
“Sama
aku kak? Gak jadi sama Sinta?”
“Yaa
sama kamu lah dek, kan Sinta nya ngelatih anak-anak. Besok jam 4 sore aku
jemput kekos kamu ya. Dandan yang cantik” goda Bagas sambil berlalu pergi.
Bagas dan Indah menjadi partner
sejati di ukm mereka. Diam-diam Bagas telah lebih dulu mengagumi paras dan
tingkah Indah yang dinilainya istimewa. Wanita Jawa Tengah dengan kemampuan
menari bak seorang putri keraton, ditambah rambut panjang dan kulit kuning
langsat menambah rasa kagumnya yang semakin memuncak.
“Indah
memang asli yogyakarta yaa?” Basa-basi Bagas setelah menyadari bahwa ini kali
pertama mobilnya dinaiki wanita selain ibu dan bibinya.
“Iya
kak asli jogja banget”
“kok
pake banget?”
“Ayah,
Ibu, nenek, kakek, om, bude, tante, sepupu, saudara, sahabat semuanya asli
jogja dan tinggal di jogja” Jawab Indah
lengkap, berharap tidak ada pertanyaan basa-basi selanjutnya.
“Hahaha
kok kamu lucu sih dek, berat ya berarti kalau harus berkeluarga di Jawa Barat
nanti?” tanya Bagas tanpa pikir panjang, sambil terus menyetir dengan kecepatan
super lambat yang disesuaikannya dengan musik senja dari radio dimobilnya ini.
“Belum
kepikiran kak” Sambil melepaskan nafas panjang pertanda tak menyukai
perbincangan ini.
Pemira berlangsung sukses, tergambar
jelas pada Piter yang terus merekahkan senyum tanpa henti diwajahnya. Berhasil
menjadi wapresma terpilih otomatis membuatnya selangkah lagi pada mimpinya,
beasiswa keluar negeri. Lahir di keluarga yang sederhana membuatnya merasa tak
pantas jika harus bermimpi kuliah keluar negeri dengan biaya sendiri.
Bagas ikut senang mengetahui hal
ini, tapi bahagianya tentu tak sebesar Indah. Sang permata Piter.
“Gas, besok aku bakal ngelakuin
sejarah baru dalam hidup Piter Harahap selama 20 tahun hidup didunia” Ucap
Piter penuh semangat, mengundang gelak tawa sahabatnya Bagas.
“Ada ya orang kaya kamu ini, pintar,
tampan, alay pula. Hahaha apalagi sih Pit? Mau bobol ruang dosen kah?” Jawab
Bagas malas-malasan tanpa melepaskan headphone
gray kesayangannya.
“Aku
mau ngajak permataku ke bioskop, kaya janjiku dulu ke kau. Ingat gak?”
“Apalagi
permata? Nama orang apa nama buku? Hahaha”
“Serius aku ini Gas, aku dulu pernah
janji kan bakal ngajak cewe jalan kalau aku berhasil terpilih dipemira. Yakin
kali aku sekarang.” Jawab Piter sambil terus mengetik sibuk dilaptop tuanya.
“Hahaha, siap Pit. Kutunggu kabar
baikmu ya. Jadian sama manusia lah sekali-kali, jangan sama buku terus”
Tanpa sadar ucapan Bagas inilah yang
menjadi keretakan persahabatannya dengan Piter. Satu bulan setelah percakapan
itu, sampai berita tak mengenakkan dari teman-teman kampusnya. “Wapresma jadian
dengan bidadari the sindan”. Bagas kaget sekaligus kecewa, tidak menyangka
kalau ternyata Indah lah yang menjadi pacar pertama sahabatnya, Piter. Bagas yang memang dasarnya kurang
perhatian, semakin melancarkan hobi tengah malamnya. Balap mobil, Billyard,
bahkan clubbing. Satu bulan berlalu.
“Hoy Pit!”Sapa Bagas dengan gaya
parlente yang menjadi ciri khasnya. Dengan tampilan yang cukup berbeda dari
biasanya, ditemuinya Piter setelah hampir sebulan tak muncul dikampus.
“Bagas! Kemana aja kau? Satu
semester aku mencarimu. Sudah lupa kau cara pergi kuliah?”
“hahaha, jangan sok rindu pit, itu
berat, Cuma aku yang kuat” jawab Piter sekenanya dengan mimik wajah tidak
tulus.
Pertemuan yang penuh maksud menjadi
alasan Bagas kembali ke kampus. Sinta yang menjadi alasannya, wanita pelarian yang
sudah menjadi korban patah hatinya terhadap Indah. Bagas yang kehilangan
kepercayaan pada sahabatnya sendiri, kehilangan wanita yang sudah lama menjadi
dambaannya, membuatnya melampiaskan dan menghabiskan hari-harinya bersama
Sinta, wanita metropolitan yang bahagia dengan kehidupan hedonism ala Bagas. Sinta yang memiliki paras menawan dan segudang
prestasi modelling maupun duta kampus
menjadi hal yang menarik bagi para pria, termasuk Bagas. Terimbangi dengan
Bagas yang juga runner up 2 duta
kampus kala itu.
Piter tersadar dari lamunan, saat
hujan menembus masuk ke warung bi E’em. Dilihatnya jam tangan hitam yang
terpasang ditangan kirinya, yang semakin menambah jelas ingatannya tentang
Bagas.
“Wa’ang inda balek?” Tanya bi E’em dengan
bahasa padang yang kental.
“jam
berapa memangnya ini bi? Keasikan melamun saya, teringat masa-masa kuliah dulu.”
“Apo
kabar teman wa’ang si Bagas tu?”
Tanya bi E’em sambil sibuk membereskan gelas-gelas kosong bekas kopi hitam yang
kental.
“Saya
juga kurang tahu bu, sudah lama sekali tidak kontak”
“Ha,
macamtu. Bisuak kasiko yo. Ada yang
mau aku sampaikan”
Keesokan harinya Piter kembali ke
warung bi E’em dengan gaya yang sama, membawa ijazah yang cukup berat untuk
dijinjing, sepatu fantopel hitam yang tak mengkilap lagi, dan kali ini dengan
kemeja biru laut yang dilapisinya dengan jaket hitam polos dan resleting yang sulit
dikancingkan. Masih dengan pesanan yang sama, secangkir kopi hitam pahit tanpa
gula khas bi E’em, bagai lorong menuju masa lalu.
“Kau gila gas? Bukan temanku lagi
kau.” Bentak Piter dengan nada khas medan.
“Aku khilaf Pit, aku gak nyangka
kejadiannya bisa kaya gitu. Aku khilaf Pit. Bisa dibunuh aku sama ayah kalau
dia sampai tahu. Tolong lah aku Pit.”
“Tolong apa gas? Tolong apa! Kalau
kejadiannya sudah kaya gini, gak ada pilihan lagi selain tanggung jawab! Biar
aku yang bilang ke ayahmu.”
“Kamu gila Pit? Kamu mau lihat aku
mati hari ini juga ha? Aku begini juga karena kamu! Kamu rebut Indah dari aku,
kamu berprestasi dan selalu dibanding-bandingkan ayahku dengan aku yang gak
bisa apa-apa ini. Yang taunya cuma balapan dan nge-club. Kamu yang selalu jadi
ukuran sukses seorang anak dimata ayahku. Aku yang susah payah menang dan jadi
duta kampus juga gak pernah ditoleh ayah sampai hari ini. Dia mau aku jadi
presma bukan duta! Aku gak pernah benar dimata ayah dan itu semua karena kamu!”
“kenapa kamu jadi begini gas?
Bukannya kamu yang selalu dukung aku? Yang selalu bilang kalau kamu bangga
punya teman kaya aku? Kamu juga gak pernah bilang soal Indah” Piter menarik
nafas panjang, aliran darahnya semakin deras, denyut jantungnya berdetak
kencang, ingin ia menonjok Bagas sekali saja dengan tonjokan terkuat sepanjang
hidupnya, Piter kecewa.
Tidak sanggup melihat perlakuan
Bagas pada Sinta, membuat Piter semakin membenci sahabatnya itu. Bagas memaksa
Sinta menggugurkan janin diperutnya, tanpa peduli bahwa itu adalah hasil
perbuatan kejinya sendiri.
“Aku gak mau gas! Ini anak kamu,
kamu harus tanggung jawab. Aku gak peduli orang mau bilang apa, yang penting
kamu harus nikahin aku.” Ucap Sinta sambil menangis sejadi-jadinya di sudut
apartment miliknya.
“Gak bisa bego! Ayahku pejabat
terkenal, aku anak satu-satunya. Apa bilang orang Sin? Mau taruh dimana mukaku?
Kamu gak ngerti sih”
“Kamu yang gak ngerti gas! Aku juga
malu, aku yang ngandung, ayahku direktur perusahaan, ibuku juga pejabat. Malu
siapa gas! Aku gak mau gugurin karena aku tahu ini anak kita, buah cinta kita
gas. Lagipula kenapa kamu melakukan kalau kamu belum siap? Kenapa kamu maksa
aku?”
“hahaha.. siapa bilang aku cinta
sama kamu Sin? Aku cinta sama Indah, yang direbut sahabatku sendiri, bullshit!
Kamu cuma pelarianku, jangan sok bilang ini buah cinta kita, aku tau kamu juga
tergila-gila kan sama si Piter pengecut itu?”
“Itu dulu gas, aku gak pernah ingat
Piter lagi semenjak sama kamu. Tolong gas.. nikahin aku”
Semenjak hari itu Bagas menghilang
dan Piter tidak pernah tahu lagi kemana dia pergi. Bagas pergi sejauh-jauhnya
tanpa meninggalkan pesan bahkan pada pacarnya sendiri. Rumah mewahnya di
Lembang sudah berganti kepemilikan, toko berlian ibunya di sudut Kota Lembang
juga sudah berganti menjadi toko baju, dan Ayahnya dikabarkan meninggal dunia
selang dua bulan semenjak menghilangnya Bagas.
“Jangan wa’ang melamun terus. Tak enak hati aku melihat. Hari ini akan jadi
hari baik untuk wa’ang.” Lagi-lagi
teguran bi E’em menyadarkan Piter dari lamunan panjangnya.
“Piter... Apa kabar?” Sosok klimis,
tinggi dan proporsional itu kini berubah menjadi sedikit gondrong dan agak kurus.
Pertemuan yang dinanti setelah 5
tahun lamanya tidak bertemu, membuat air mata Bagas hampir menetes, hanya
karena harga diri air matanya memilih untuk tetap mengering. Dilihatnya Piter
masih sama seperti dulu, bersahaja dan apa adanya. Tanpa sadar keduanya
berpelukan amat kencang seakan tidak ingin berpisah lagi walaupun masih ada
yang mengganjal dihati satu sama lain.
“Apa kabar Asih?”
“Peduli apa kau pada Asih gas?
Hahaha persembunyianmu betul-betul jago ya. Tak kutemukan informasi sedikitpun
tentang kau” Ucap Piter santai sambil menyeruput kopi hitamnya, walaupun dengan
perasaan yang bergejolak.
“Aku tahu aku salah Pit, Tuhan saja
maha pemaaf apalagi kamu kan? Tuhan saja mau menerima sujudku lagi apalagi kamu
kan?”
“Hahaha jangan kau bicara layaknya
imam di surau gas, rasanya malu aku jika ingat masa lalumu yang keji itu” Piter
berkata dengan hati yang meledak-ledak sembari mengingat kejadian bertahun
lalu.
Piter mencari Bagas hingga tempat
yang tak terjangkau sekalipun, hanya karena satu alasan, janin Sinta yang
semakin membesar. Hingga empat bulan berlalu, Piter tak kunjung menemukan
dimana sahabatnya itu.
“Bagaimana bu? Bukankah islam
menganjurkan kita untuk saling menolong? Tegakah ibu melihat janin itu semakin
membesar tanpa kita selesaikan?” Ucap Piter pada ibunya yang hanya diam
mematung tak sanggup berkata-kata.
“Kemana mimpi-mimpi besarmu dulu
nak? Kemana impianmu kuliah ke luar negeri? Tak kasihan kah kau pada kita yang
tak berderajat ini, terkatung-katung tak jelas ditanah orang, hingga kini kau
sudah hampir menggenggam dunia tapi memilih menghempaskannya? Ibu ini tak
berpendidikan, almarhum ayahmu hanya tentara berpendidikan seadanya, kita
terusir dari kampung halaman karena ibumu ini dianggap pembawa sial untuk
keluarga. Pembawa kematian ayahmu. Tak cukup kah itu nak? Tak cukupkah?” Ucap
Ibu Piter tanpa jeda, dengan amarah yang tidak bisa dibendung. Kekecewaan,
malu, dan tidak mampu menerima keputusan anaknya.
“Ampunkan aku bu. Aku hanya berusaha
menolong dan berlaku sebagai manusia. Aku janji setelah ini akan tetap mengejar
mimpiku keluar negeri, aku akan membahagiakan ibu, membuat keluarga kita terpandang,
tapi mohon izinkan aku menolong Sinta bu.” Pinta Piter sambil bersujud dikaki
ibunya memohon doa restu.
“Kenapa kesalahan orang lain menjadi
beban untukmu nak? Beban untuk kita? Semoga Allah meridhoi langkahmu, ibu hanya
bisa mendoakan yang terbaik” Mereka berpelukan erat dan saling menangis satu
sama lain, anak beranak yang seakan selalu dirundung duka sepanjang hidupnya.
Satu bulan setelahnya diadakanlah
pernikahan Sinta dan Piter di kediaman Sinta, Bandung Jawa Barat. Tak banyak
yang hadir, hanya sanak keluarga terdekat. Keluarga ingin acara ini private demi menjaga nama baik ayah dan
ibu Sinta. Terlihat wajah muram pada keduanya, pernikahan tanpa rasa cinta,
hanya berdasarkan belas kasih seorang sahabat yang mengharap kebaikan untuk
jabang bayi sahabatnya sendiri.
Azan Ashar menyadarkan Piter dari
lamunan panjangnya. Menunaikan sholat berjamaah di mushola yang tak jauh dari
warung bi E’em bersama Bagas adalah hal yang juga sangat dirindukannya.
Bersujud pada Tuhan, meminta agar amarah dan kekecewaan dihatinya segera
terhapus bersama dengan kedatangan sahabatnya kembali.
“merokok kau sekarang? Pantaslah
semakin kurus dan tak terurus” Komentar Piter sambil memakai sepatu fantopel
andalannya dipintu mushola.
“Kamu masih seperti dulu Pit, terlalu
perhatian pada sahabatmu yang setan ini.”
Perbincangan mereka berlanjut di coffee shop tak jauh dari mushola yang
baru soft opening minggu lalu. Piter
menceritakan seluruh perjalanan hidupnya setelah menikah dengan Sinta. Bagaimana
ia menyelesaikan kuliah sementara Sinta ngidam berat dan selalu haus perhatian.
Bagaimana Piter berusaha bekerja sambil kuliah hanya agar mertuanya tidak
terus-terusan memandangnya sebelah mata. Bagaimana dia mulai pindah dari
apartment mahal milik Sinta ke kos-kosan sempit padat penduduk hanya agar
batinnya tak tersiksa karena mertuanya. Dan bagaimana akhirnya ia bisa sarjana
dengan menggendong Asih difoto wisudanya, ya Asih yang merupakan darah daging
Bagas. Tak banyak kata yang Bagas lontarkan hanya beberapa kali ia tampak
memalingkan wajah dan berusaha agar air matanya bisa mengering lebih cepat.
“Bagaimana kabar Indah Pit?”
“Ah dia, sudah lama aku tidak
memikirkan dia lagi gas. Terakhir kami bertemu saat aku memutuskan untuk
menikahi pacarmu. Patah hati dia, setelah itu tak pernah lagi aku bertemu.”
“Bagaimana bisa kau putuskan pacar
pertamamu itu Pit? Wanita idaman semua pria. Tak sanggup lah aku berterimakasih
padamu. Sampah lah aku ini”
“Jangan kau maki terus dirimu gas,
tak lami lagi matilah jiwamu yang kering itu. Sudahlah, Allah tau mana yang
terbaik untukku. Indah memang bukan jodohku gas. Mungkin dia permataku yang
hilang tapi bukan berarti tak akan kutemui lagi kan?”
“kau selalu yang paling benar Pit,
jadi kapan aku bisa bertemu Sinta dan Asih? Aku ingin memeluk anakku itu Pit.
Lelah dihantui rasa bersalah belasan tahun, sembunyi di negeri orang, tidak
jelas arah hidupku. Mau berkeluarga pun aku tak sanggup Pit, tak ada lagi rasa
cinta dihatiku. Habis termakan kesalahan masa lalu.”
Pertemuan yang diimpikan Bagas
bertahun-tahun akhirnya terwujud juga. Dipeluknya Asih erat-erat, walau anaknya
sendiri masih mengira Bagas adalah Omnya yang lama tak berjumpa dengannya. Sinta
yang awalnya terbakar amarah perlahan bisa mengontrol emosinya dan mencoba
menerima Bagas kembali. Menerima untuk sekedar berbincang dan memperbaiki
kekecewaan masa lalu.
“Piter... 5 tahun kita menikah, aku
tak pernah merasa benar-benar menjadi istrimu. Kamu tidak pernah mau kulayani.
Apa yang salah dariku pit?” Sinta memulai percakapan saat Piter baru saja
merebahkan badan dikasur.
“tidak ada yang salah Sin” jawab
Piter seadanya.
“jujur saja Pit, aku tau kamu gak
cinta kan sama aku? Kamu cuma kasian kan sama aku? Wanita malang yang ditinggal
kekasihnya.”
“jangan memancingku Sin, aku cape.
Aku mau tidur” Balas Piter sambil membelakangi Sinta dan mencoba memejamkan
mata.
“kamu jahat Pit..”
“jahat katamu? Kau mohon padaku
dengan muka kasihanmu itu, kau pegang perutmu yang hamil besar. Tiap hari kau
hantui aku dengan rasa bersalah karna ulah sahabatku. Kau menangis
sejadi-jadinya, menghamba pada pemuda yang memiliki mimpi besar ini,
menjanjikan banyak hal, memohon, mengemis kau dihadapanku Sin. Pemuda yang
kehilangan mimpinya, masa mudanya, yang ketika berusaha mencintaimu pun aku
dibenci oleh mertuaku sendiri. Siapa yang jahat disini Sinta? Siapa? Semua
orang menganggapku keji, kuterima itu, demi anak kalian. Tidak Sinta, bukan aku
yang jahat” ucap Piter sembari bangun dari tidurnya dan berdiri dihadapan
Sinta.
“satu lagi, aku tahu cintamu tidak
pernah untukku kan? Tidak ada cinta dimatamu selama kau menatapku. Aku tau itu
Sin.” Ucap Piter dan pergi keluar kamar.
Sinta menangis sejadi-jadinya
mengingat betapa menyedihkannya Piter selama ini. Hidup bersama orang yang
tidak pernah dicintainya. Dibenci oleh mertuanya sendiri, bahkan tidak pernah
mendapatkan cinta dari istrinya sendiri. Sinta memutuskan untuk pergi dan
mencari kehidupan baru diluar sana. Ditinggalkannya surat permohonan maaf
sekaligus permohonan perceraian, mengaku menyerah atas rumah tangga mereka.
Dari lubuk hati terdalam Sinta ingin agar Piter bisa menemukan hidup barunya
yang lebih bahagia.
Semenjak kepergian Sinta, Piter
menceraikannya secara agama. Dirawatnya Asih seorang diri dengan sesekali
dijenguk oleh Bagas. Bagas sesekali pula mengajak Asih menginap dirumahnya demi
membiasakan Asih sebelum Asih benar-benar diambil sepenuhnya oleh Bagas. Hidup
Piter berangsur membaik, kini ia sudah bekerja disalah satu perusahaan besar
yang dulu diimpikannya walaupun belum mendapat jabatan yang begitu tinggi
setidaknya dia sudah bisa mengganti motor matik tuanya dengan mobil avanza
hitam yang mengkilap.
Setelah diberikan pemahaman setiap
hari oleh Piter, akhirnya Asih memahami siapa sebenarnya Bagas. Dan kini Asih
benar-benar menjadi hak asuh Bagas sepenuhnya. Menitikkan air mata ketika Piter
merelakan Asih yang sudah dia anggap sebagai darah dagingnya sendiri,
melepaskan kepergian bayi mungil yang dulu ada difoto wisudanya, merelakan Asih
pergi ikut bersama ayahnya ke negara tetangga. Kini Piter kembali seperti dulu,
sendiri.
“Sudah tiga tahun kau tu menduda
nak. Belum mau cari pengganti?” Pertanyaan ibu yang selalu terlontar hampir
setiap hari.
“Tenanglah bu, setiap kita pasti ada
jodohnya, sendiriku ini juga ada batasnya, ibu doakan sajalah aku yaa” jawab
Piter sambil mengunyah sarapannya pagi ini.
Hari ini adalah hari ulang tahun
perusahaan tempat dimana Piter bekerja. Kali ini bertemakan family gathering , karena tidak
mempunyai istri Piter pun membawa ibunya ikut serta ke acara kantor. Selain
mengundang seluruh jajaran perusahaan, mereka juga mengundang segenap
organisasi dan komunitas yang ada di Jawa Barat.
“Ibu
duduk disini dulu yaa, aku kebelakang menemui bos sebentar. Nikmati saja dulu
ya buu acaranya” Ucap Piter pada Ibunya dan bergegas pergi.
Setelah sekitar 30 menit bertemu
bosnya, Piter mencari-cari kursi dimana tadi dia meninggalkan Ibunya. Dari jauh
dilihatnya Ibu duduk paling depan dan sedang asyik mengobrol dengan seorang
wanita berjilbab tosca. Tampaknya seru, sampai punggung mereka bergoyang-goyang
saat tertawa terpingkal-pingkal. Piter bisa melihat tangan ibu berkali-kali
menepuk bahu wanita itu. Sebegitu akrab kah? pikir Piter.
Wanita itu lalu membalikkan badannya
dan berdiri memegang mik. Sebagai ketua komunitas yang diundang perusahaan
Piter, ia tampak cerdas dalam bertutur kata dan mempesona dalam balutan jilbab
lebar yang menambah kesan keibuannya. Wanita itu membawakan sambutan dengan
senyum yang terkembang manis. Begitu melihat senyum ini, Piter teringat
pertanyaan ibunya tadi pagi. Untuk pertama kali sejak 7 tahun lalu, ada yang
kembali hidup di hati Piter setelah lama mengering.
“Permataku
yang indah.. kau kembali” lirih Piter hampir berkaca-kaca.
Piter bergegas duduk disamping
ibunya, dikursi terdepan untuk memastikan. Di jari manis wanita itu tiada suatu
cincin pun yang terpasang.
“Alhamdulillah
bu” lirih Piter
“Alhamdulillah
kenapa nak?”
“sudah
ketemu bu...”
TAMAT
Glosarium
Ammaku : Ibu saya, dalam bahasa
minang
Bisuak kasiko yo : “Besok kesini
ya” dalam bahasa minang
Clubbing : Bermain di club malam
(diskotik), dalam bahasa inggris
family gathering : Perkumpulan
keluarga, dalam bahasa inggris
Surau :
Tempat sholat yang tidak sebesar mesjid, dalam bahasa melayu
Secret Admirer : Pengagum rahasia, dalam bahasa
inggris
Wa’ang inda balek : “kamu tidak pulang”
dalam bahasa minang
Wa’ang :
Kamu, dalam bahasa minang
Langganan:
Postingan (Atom)
Coffee Break diujung usia Quarter Life Crisis (25)
Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...
-
Yang dicari hilang, yang dikejar lari... Sedang berada di kantor, di hari sibuk. Mencoba mencari sela kesempatan untuk bermanja dengan diri...
-
Alhamdulillah... menghitung hari akan memasuki usia 26. Rasanya tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya, matahari sepertinya sudah j...
-
Hati yang dulu berlayar, kini telah menepi.... Penantian yang sejak dulu sunyi, kini telah dihampiri.... Pertemuan dan perkenalan singkat ...